Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Pecalang yang Menjelma Jadi Polisi Tradisional

I Putu Suyatra • Rabu, 6 September 2017 | 16:00 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Setiap pelaksanaan upacara adat di Bali, khususnya yang melibatkan khalayak banyak selalu melibatkan Pecalang. Bagaimanakah sejatinya awal mula keberadaan sosok sosok pria berpakaian adat yang lengkap dengan keris di pinggangnya ini ? 
Pecalang berasal dari kata calang, dan menurut theologinya diambil dari kata celang yang berarti waspada. Dari kata tersebut dapat  diartikan bahwa Pecalang adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan desa adat maupun banjar di Bali. “Jadi, Pecalang dapat diibaratkan sebagai petugas keamanan desa adat,” ujar Budayawan Kota Denpasar, Gede Anom Ranuara ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) , kemarin.  
Lebih lanjut dikatakan Anom, jika kita menarik sejarah terbentuknya Desa Pakraman (desa adat) dengan kemunculan Pecalang memiliki benang merah. Berawal dari tirtayatra seorang Rsi Agung bernama Rsi Markandeya ke Bali. Pada saat itu di Bali sudah ada orang-orang pribumi, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Desa Pakraman. Kemudian Rsi Markandeya memiliki visi dan misi untuk membangun Desa Pakraman, yang selanjutnya membentuk Pecalang. Pada saat itu Pecalang dibentuk sebagai jaga baya desa (penjaga desa).
Ada beberapa versi terkait asal usul Pecalang. Beberapa mengatakan bahwa pendahulu Pecalang adalah ‘gugus tugas’ dari penjaga keamanan untuk konferensi PDIP tahun 1998 di Bali. Lainnya mengatakan bahwa Pecalang muncul pada awalnya akhir tahun 1970-an ketika Pesta Kesenian Bali, mulai menggunakan penjaga keamanan berpakaian adat untuk mengarahkan lalu lintas dan menjaga parkir.  Semantara yang lain percaya bahwa Pecalang adalah inkarnasi modern dari penjaga puri.
Sejatinya ada tiga kewajiban Pecalang di Bali, yakni Ngupadesa di mana pecalang harus selalu dekat dengan Desa Pakraman dan warganya. Dengan dekat dan diam di desa, ini lebih terjamin adanya komunikasi dalam rangka mengarahkan krama (warga) desa. Kedua, yakni Atitikarma di mana Pecalang hendaknya selalu memberikan petunjuk yang benar kepada krama desa. Petunjuk tersebut bisa berupa arah, maupun keteladanan. Pecalang harus memberikan contoh yang baik bagi warga desa, karena memiliki kharisma dan berwibawa. Dan, yang terakhir adalah jaga baya desa di mana Pecalang wajib menjaga keamanan desa dengan  melakukan ronda atau keliling Desa Pakraman.
Setelah diatur dalam Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2001 tentang Desa Pekraman (desa adat), disebutkan bahwa Pecalang atau langlang atau dengan sebutan lainnya adalah satuan tugas (satgas) keamanan tradisional masyarakat Bali yang mempunyai tugas dan wewenang untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah, baik di tingkat banjar pakraman atau di wilayah desa. “Di beberapa daerah, Pecalang mulai merambah masuk dan menerima orderan untuk mengamankan aset vital yang mendukung industri pariwisata,” jelas Anom Ranuara.
Menurut Lontar Purwadigama, Pecalang harus mengenakan beberapa kelengkapan berbusana, seperti Maudeng. Udeng disebut juga destar adalah penutup kepala yang wajib digunakan oleh Pecalang dengan pengaturan bentuk khusus yang maksudnya untuk membedakan. Kemudian Mawastra akancut nyotot pertiwi. Menggunakan kain dengan bagian depan dijatuhkan menuju tanah. Hal ini sudah lumrah pada masyarakat Bali. Makampuh poleng. Selanjutnya kain dilapisi dengan kain hitam putih (poleng), untuk memberi kesan berwibawa dan mempunyai makna simbolis dari kekuatan dan kesaktian. Atribut berikutnya adalah  Ayungkalit Keris. Pecalang seharusnya membawa keris yang diselipkan di pinggangnya pada bagain depan.  Kemudian Masumpeng Waribang. Di telinga seorang pecalang wajib diselipkan bunga pucuk Arjuna.  “Namun, dengan bergesernya zaman, Pecalang di masa kini hampir tidak lagi identik dengan badan yang kekar ataupun berwajah seram,” ungkap Anom Ranuara.
Seniman asal Desa Kesiman ini mengatakan, dari segi pakaian yang dikenakannya pun sudah mulai mengikuti perkembangan zaman. Atasan kemeja berwarna gelap, dilengkapi dengan jaket hijau metalik yang biasanya digunakan pula oleh polisi lalu lintas dan keris yang dahulunya kerap disandang, berganti dengan pentungan yang dapat dinyalakan sebagai tanda bagi para pengendara di jalan raya. Tidak jarang, perangkat komunikasi Handy Talkie pun disematkan di pinggang untuk mempermudah koordinasi jarak jauh. 
Secara umum tugas mereka tidak ada beda dengan polisi biasa seperti mengatur lalu lintas di sekitar lokasi upacara, mengawal prosesi ngaben sampai ke kuburan. Dari sini Pecalang mulai naik daun, di setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat banyak, Pecalang akan turut dilibatkan secara aktif demi menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan tersebut. Hampir setiap acara yang berkaitan dengan adat.
Menjadi Pecalang adalah suatu pengabdian kepada masyarakat. Mereka tidak mendapatkan gaji. Tapi , sebagai kompensasi mereka dibebaskan dari segala hal yang berkaitan dengan kewajiban warga.
Mereka tidak kena iuran di banjar, tidak wajib ikut gotong royong dan lain - lain. Tapi konsekuensinya, mereka harus siap jika sewaktu-waktu harus bertugas kalau ada suatu kegiatan adat di desa setempat. Pecalang biasanya dipilih oleh warga banjar dengan masa tugas yang tidak menentu, tergantung awig-awig desa bersangkuan.
Belakangan ini ada beberapa peristiwa yang merefleksikan adanya Pecalang yang melenceng dari fungsi dan tugasnya. Pada beberapa masa yang lalu pernah terlihat yang mengesankan Pecalang memperlihatkan sikap arogan, sok jagoan, dan sok berani. Mungkin ini karena banyaknya pemuda yang terlibat sebagai Pecalang, dan tanpa ada proses seleksi.
Seleksi yang dimaksud tidak harus seleksi secara formal, cukup dengan seleksi informal, kepala desa atau masyarakat cukup memperhatikan pemuda yang kira - kira memiliki mental yang baik dan mampu melayani masyarakat. “Sehingga pecalang dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sekitar, dan mampu berkomunikasi dengan baik dan ramah kepada masyarakat lain, sehingga secara tidak langsung kita mempertahankan kesan masyarakat Bali yang ramah di tingkat internasional,” tutupnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#pecalang #denpasar