Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Melepas Panca Maha Butha Melalui Ngaben

I Putu Suyatra • Senin, 18 September 2017 | 16:05 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, JATILUWIH - Pangabenan dalam prinsip Yadnya merupakan prosesi untuk melepas Panca Maha Butha dan mengantarkan atma atau roh ke alam Pitra dengan memutuskan keterkaitannya dengan badan duniawi. Dan, tujuan Ngaben adalah agar badan cepat kembali kepada asalnya , yakni alam pitra. 


Pengabenan sang ibunda, Ni Ketut Risna, yang juga diikuti oleh sejumlah warga Banjar Gunung Sari di Griya Gunung Sari, Jatiluwih Tabanam juga meringankan beban warga untuk menggelar Pangabenan secara pribadi , apalagi di tengah adanya anggapan bahwa beryadnya itu mahal. 


Menuru Guru Gede Made Subagia, dalam melaksanakan Yadnya tidak ada kata harus, namun tetuwek harus senantiasa diikuti. Dan,  ketika umat selalu mengatakan kata ‘harus’ dalam beryadnya, hal itulah yang sejatinya membuat biaya membludak. “Dalam beryadnya tidak ada kata harus ini dan harus itu, namun tetuwek harus diikuti. Misalnya dalam sarana banten, dikatakan harus menggunakan buah A dan buah B, padahal jika dilihat dari tetuwuk tidak harus menggunakan buah A dan B, tetapi yang penting buah. Itu yang membuat biaya membludak, jadi kita harus open mind, tidak hanya dalam beryadnya, tetapi juga disegala aspek kehidupan,” paparnya. 
Yang ada itu , lanjutnya, adalah bagaimana umat bisa mengagamakan adat, bukan mengadatkan agama. Dan, yang terpenting adalah setiap yadnya harus dilakukan dengan tulus ikhlas.

Editor : I Putu Suyatra
#ngaben #tabanan