BALI EXPRESS, GIANYAR - Keberadaan Pura Pusering Jagat di wilayah Pejeng, Tampaksiring sampai saat ini menyimpan banyak sejarah. Di pura ini pula banyak terdapat peninggalan purbakala. Tak hanya itu, warga Pejeng pun secara umum juga kerap menyebutnya dengan Pura Kelod, atau pun dengan sebutan Pura Puser Tasik, yang merujuk pada sejumlah sumber.
Banyaknya sebutan nama pada pura yang lokasinya tak jauh dari Pura Kebo Edan atau Pura Penataran Sasih ini, tentu juga tak lepas dari peninggalan purbakala yang tersimpan di dalam pura satu ini. Termasuk sejumlah keyakinan pada keberadaan unik di pura ini, seperti Telaga Maya, yang oleh banyak cerita masyarakat setempat merupakan sebuah telaga dalam dunia niskala. Lantaran secara kasat mata areal Telaga Maya di utamaning mandala Pura Pusering Jagat hanyalah sebuah areal yang berupa kolam tanpa air.
Merujuk dari beberapa sumber, Pura Pusering Jagat memiliki nilai sejarah dan purbakala yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali masa lalu. Bukti-bukti itu dapat dilihat, seperti keberadaan beberapa peninggalan seni arca dan unsur-unsur kebudayaan prasejarah. Tak hanya itu, di pura ini juga ditemukan puluhan arca Hinduistik yang masih berfungsi sama dengan bentuk-bentuk megalitik tersebut.
Unsur-unsur kebudayaan prasejarah di pura ini antara lain, susunan batu alam, batu titi ugal-agil, batu monolit, arca-arca dalam sikap jongkok dan fragmen lumpung batu. Sementara seni arca meliputi arca dewa (perlambang dewa tertentu dengan atributnya masing-masing) dan arca perwujudan (perwujudan leluhur) dengan pakaian serta perhiasan, seperti bunga kuncup atau mekar yang dipegangnya.
Belum lama ini Bali Express (Jawa Pos Group) berkesempatan datang langsung ke pura yang diemong Desa Pakraman Jero Kuta Pejeng di wilayah Banjar Pande. Melihat dari luar Pura Pusering Jagat, keberadaan pura ini pun sepintas tak jauh beda dengan pura-pura lainnya. Tembok tinggi tampak mengelilingi pura dengan bagian jaba sisi yang yang cukup luas. Tampak pula arena Tabuh Rah yang ada di sisi utaranya.
Masih di areal jaba pura, sejumlah palinggih juga sudah berdiri. Seperti palinggih Ratu Pande dan Tepas Cungkup, serta beberapa palinggih lainnya. Di areal ini pula terdapat beberapa arca yang cukup unik, seperti arca ayam, arca guwungan, serta arca kempur. Arca-arca yang tertata rapi di salah satu palinggih inilah yang oleh masyarakat dikenal dengan Batu Kemong. Keberadaannya tepat berada di sisi timur jaba sisi menempel dengan tembok panyengker dan berhadapan langsung dengan arena Tabuh Rah. Menurut beberapa warga setempat, keberadaan Batu Kemong ini diduga erat kaitannya dengan kegiatan Tabuh Rah yang digelar di kalangan tajen tatkala piodalan dilangsungkan.
Sementara itu, di areal jaba tengah atau madya mandala pun tak jauh beda, dengan keberadaan beberapa arca yang beberapa di antaranya perwujudannya tampak rusak, serta beberapa palinggih. Seperti palinggih Ratu Penyapa yang berisi arca Ganesha. Selain itu, di areal ini juga terdapat beberapa bangunan, seperti bale paebatan, bale kulkul yang ada di pojok kelod kauh atau sebelah selatan pamedal agung, hingga bale pasanekan, dan bale panetegan.
Sedangkan pada bagian utamaning mandala atau jeroan, juga terdapat beberapa palinggih dan bangunan. Mulai dari palinggih Ratu Segara, palinggih Ratu Agung, Gedong Uluwatu, serta panggungan, dan bangunan bale gong, bale paselang, serta bale pawedan.
Selain itu, di sisi timurnya juga tampak berdiri palinggih Ratu Sangku Sudamala. Lalu ada juga palinggih Ratu Purusha Pradana atau Gedong Purus, palinggih Ratu Sidakarya, selanjutnya Gedong Agung Catur Muka (tempat menyimpan arca Caturkaya), serta Pangaruman Agung.
Nah yang menjadi keunikan dari Pura Pusering Jagat, yakni keberadaan tumpukan arca batu-batu andesit yang ada di belakang deretan palinggih di sisi timur. Tak hanya itu, di sisi pojok kaja kangin juga terdapat palinggih Padmasana, yang berada tak jauh dari palinggih Ratu Nusa, Ratu Buncing serta palinggih Ratu Pusering Jagat yang berlokasi dekat tembok panyengker kaja kangin pura.
Lantas, bagaimana dengan Telaga Maya yang menjadi keunikan tersendiri dari Pura Pusering Jagat? Telaga ini sendiri terletak di bagian belakang palinggih-palinggih di sisi timur. Dari bentuknya memang seperti sebuah telaga, namun yang beda yakni tak ada air di dalamnya.
Bendesa Pekraman Jerokuta Pejeng Cok Gde Putra Pemayun beberapa waktu lalu mengungkapkan, bahwa sesuai namanya Telaga Maya ini memang jika dilihat secara kasat mata tak akan terlihat adanya air. Konon , telaga ini diyakini tembus hingga ke perairaan Nusa Penida. “Sehingga ketika dilaksanakan upacara mapekelem di Telaga Maya ini, maka akan tembus hingga perairaan Nusa Penida, dan menjadi pengingat jika di Pura Pusering Jagat sedang dilaksanakan piodalan. Sebab, upacara mapekelem ini dilangsungkan setiap piodalan,” ucapnya. Keyakinan ini pun berbanding lurus dengan keberadaan palinggih Ratu Nusa di Pura Pusering Jagat.
Disinggung mengenai upacara mepekelem itu sendiri, Cok Gde Putra Pemayun mengungkapkan, jika upacara ini dilangsungkan tepat saat puncak karya piodalan. Pada ritual ini dihaturkan dua ekor itik putih sebagai pakelem.
“Nah yang secara nalar ini unik, yakni ketika dua itik itu dilepas di areal Telaga Maya usai diupacarai, akan sangat jelas terlihat jika itik-itik itu tampak seperti berenang di air. Bahkan, itik-itik akan mengibas-ngibaskan sayapnya seperti kebasahan. Padahal, areal Telaga Maya itu secara kasat mata tidak berisi air,” ungkapnya. “Inilah yang membuat waga kami yakin jika Telaga Maya itu benar-benar sebuah kolam yang penuh dengan air,” imbuhnya.