BALI EXPRESS, TABANAN - Ketika seseorang memiliki kegiatan, hajatan, ataupun karya, pastinya berharap berjalan lancar tanpa halangan. Namun, sering kali hajatan digelar pada musim hujan, sehingga pemilik hajatan memilih untuk melakukan Nerang dengan bantuan orang pintar atau paranormal.
Praktik Nerang (pawang hujan) sejauh ini masih eksis di Bali. Saat ini banyak krama yang memiliki kelebihan berdialog dengan alam semesta dan melakukan negosiasi agar terhindar dari turunnya hujan. Salah satunya adalah I Made Nadra, warga Banjar Uma Diwang Kangin, Desa Batannyuh, Kecamatan Marga, Tabanan.
Menurutnya, secara umum orang yang datang untuk meminta bantuannya dalam hal Nerang adalah orang yang akan menyelenggarakan upacara yadnya seperti pernikahan, metatah, dan lainnya. Begitu juga dengan orang yang hendak menggelar acara besar seperti pameran, perlombaan, konser, dan lainnya.
Dirinya menjelaskan ritual Nerang yang dilakukannya bukan saja untuk menghindari turunnya hujan karena alam, namun juga oleh kemungkinan turunnya hujan dari ilmu atau kesaktian yang dimiliki seseorang yang umum disebut manusa sakti. “Sering hujan turun akibat ulah manusa sakti yang ingin menggangu kelancaran kegiatan seseorang, mungkin iri, atau dendam,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin.
Ia menyebutkan bahwa ada perbedaan antaran hujan yang turun karena memang alam dan hujan yang turun karena gangguan manusa sakti. Umumnya hujan yang dibuat oleh manusa sakti turunnya lokal atau turun hanya di sekitar lingkungan orang yang memiliki upacara. Di mana hal itu bisa ia rasakan melalui firasat, yakni tanda-tanda berupa getaran pada titik-titik tertentu di tubuhnya, misalnya getaran pada bibir kiri bawah, kelopak mata bagian atas atau pada siku kanan.
Namun ia menegaskan, dalam melakukan ritual Nerang, yang paling penting adalah harus didasari oleh rasa tulus untuk memohon kepada alam semesta dan Tuhan agar berkenan untuk tidak menurunkan hujan di suatu lokasi yang dimohonkan.
Nadra sendiri menggunakan sejumlah sarana dalam melakukan ritual Nerang, yakni dua sarana utama berupa liligundi dan garam, serta perapian yang menggunakan sarana serabut kelapa (sambuk). Kedua sarana utama, yakni liligundi dan garam didoakannya pada tengah malam sehari atau dua hari sebelum melakuka ritual Nerang. Proses mendoakan ini dilakukan di kamar sucinya dan membutuhkan waktu cukup lama, sekitar tiga hingga empat jam.
Dan ,saat ritual Nerang sedang berlangsung, dirinya harus puasa dan memusatkan pikiran terhadap permohonan agar alam semesta dan Tuhan berkenan mengabulkan permohonan untuk tidak menurunkan hujan. Di samping itu, dirinya juga Ngajegang Pajati dan memberikan lelaban kepada butha kala dengan bersaranakan segehan brumbun.
Ditambahkannya, sejak menerima jasa Nerang 10 tahun belakangan ini, ia tidak pernah datang langsung ke lokasi, melainkan cukup melakukan ritual dari kamar sucinya. Setelah itu, sarana berupa liligundi dan garam yang telah didoakan diberikan kepada orang yang meminta bantuannya. Orang tersebut selanjutnya membakar liligundi dengan sarana sabut kelapa di lokasi kegiatan. “Kalau langit mendung, cukup menaburkan garam ke sambuk yang sedang dibakar,” lanjutnya.
Ia pun menuturkan, beberapa kali ketika melakukan ritual Nerang, sempat diganggu secara niskala, terutama oleh manusa sakti dan gangguan dari mahluk halus. Bahkan, beberapa tahun lalu, saat membantu ritual Nerang sebuah perusahaan minuman energy yang sedang menggelar lomba layang-layang di seputaran Kuta, dirinya mendapat serangan yang cukup kuat. Dalam kondisi alam yang tanpa hujan, kilatan petir bermunculan seakan-akan ingin menyambar. Namun akhirnya dari keikhlasannya memohon, secara perlahan kilatan petir mereda dan hingga acara selesai tidak ada hujan turun.