BALI EXPRESS, DENPASAR - Hari Raya Dipawali dirayakan umat Hindu , 18 dan 19 Oktober 2017. Kemenangan Dharma melawan Adharma versi India ini, mulai diupayakan untuk mendapat porsi khusus di Indonesia. Apa sejatinya Dipawali?
Surat edaran tentang Dipawali ditujukan kepada Gubernur seluruh Indonesia, Pimpinan Instansi Sipil, TNI/Polri, dan Pimpinan BUMN atau Swasta yang ditandatangani langsung Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, I Katut Widnya dilengkapi dengan cap.
Surat Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama RI Nomor : P-1134/DJ.VI/BA.03.1/04/2016 tanggal 25 April 2016 itu, mengimbau dan meminta pejabat berwenang untuk memberikan libur fakultatif sehari saat perayaan Hari Raya Dipawali yang jatuh pada 18 dan 19 Oktober 2017. Surat tersebut juga ditembuskan kepada Menteri Agama RI, Ketua PHDI Pusat, Ka. Kanwil Kementrian Agama seluruh Indonesia, dan Gema Sadhana.
Terkait beredarnya surat tersebut, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof. I Gusti Ngurah Sudiana mengaku sama sekali belum mengetahui adanya surat semacam itu beredar di masyarakat. Bahkan, pihaknya sebagai pimpinan lembaga Umat Hindu baru mengetahui prihal surat ini ketika dihubungi wartawan Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Sudiana tetap meyakini terkait keluarnya surat edaran tersebut tentunya dengan maksud dan tujuan baik. Namun, perlu dicermati aturan bahwa untuk mengusulkan hari raya masuk kategori fakultatif diperlukan beberapa tahapan yang harus ditempuh. Dan, proses pengusulanya pun harus sesuai dengan kearifan lokal yang ada.
“Untuk mengusulkan Hari Suci Siwaratri saja prosesnya lama, apalagi Dipawali yang kemudian muncul, kan termasuk aneh juga,” tambah Sudiana yang pekan kemarin dilantik Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebagai rektor baru Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat. Untuk pelaksanaan Dipawali di Bali, Sudiana mengaku pernah mengikuti perayaannya beberapa kali. Di tempat terpisah,
BR Indra Udayana dari Ashram Gandipuri menerangkan, Dipawali (Deepavali) berarti 'serangkaian cahaya ' dan berasal dari 'Diipaa' berarti 'cahaya, lampu' dan 'aavali' yang bermakna 'seri, baris'. "Dipawali dirayakan oleh umat Hindu di masa lalu dan disebutkan dalam sastra, seperti Padma Purana dan Skanda Purana.," terangnya, kemarin di Denpasar.
Dikatakannya, sebagai salah satu festival utama bagi umat Hindu se-dunia, secara spiritual Dipawali menandakan kemenangan cahaya atas kegelapan, kebaikan atas kejahatan, pengetahuan atas ketidaktahuan, dan harapan atas keputusasaan. Persiapan untuk perayaan dan yajna, lanjutnya, biasanya berlangsung selama lima hari, tetapi malam yang utama pada perayaan Dipawali bertepatan dengan malam yang paling gelap, yakni malam Tilem dalam kalender Hindu Lunisolar.
Dipawali dirayakan baik oleh umat Hindu, Jain, dan Sikh, dan beberapa umat Buddha untuk menandai peristiwa sejarah yang berbeda-beda , tetapi semua melambangkan kemenangan Dharma atas Adharma, cahaya atas kegelapan, pengetahuan atas ketidaktahuan, kebaikan atas kejahatan, dan harapan atas keputusasaan.
Perayaan Dipawali yang cemerlang dan bercahaya menjadi sebuah pengingat akan pentingnya pengetahuan, mulat sarira, perbaikan diri, mengetahui dan mencari jalan yang baik dan benar dalam kehidupan ini. " Ini adalah sebuah metafora untuk menolak kejahatan, untuk menghilangkan kegelapan dan mewujudkan belas kasih kepada yang lain. Dipawali adalah sebuah perayaan cahaya batin atas kegelapan spiritual, pengetahuan atas kebodohan dan kebenaran atas kepalsuan," urainya.
Dikatakan BR Indra Udayana, Dipawali adalah sebuah penegasan kembali yang meriah dari keyakinan umat se-Dharma seluruh dunia, bahwa pada akhirnya kebenaran akan selalu jaya. Pemaknaan spiritual dari Dipawali, lanjutnya, dapat bervariasi secara regional, tergantung pada landasan filsafat atau perguruan ajaran Dharma, kejadian dalam sejarah, legenda, dan keyakinan.
Umat Hindu di seluruh dunia merayakan Dipawali untuk menghormati kembalinya Sri Rama, istrinya Sita dan saudaranya Lakshmana dari pengasingan selama 14 tahun setelah Sri Rama mengalahkan Rahwana. Untuk menghormati kembalinya Sri Rama, Sita dan Laksmana dari Lanka dan untuk menerangi jalan mereka, warga desa menyalakan lampu minyak (Dipa) untuk merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan. Dipawali juga merayakan kembalinya para Pandawa setelah 12 tahun pengasingan, Vanvas, dan satu tahun Agyatavas di Mahabharata.
Selanjutnya, Dipawali juga terkait dengan perayaan Lakshmi, yang dihormati dan diyakini umat Hindu sebagai Dewi Kemakmuran ( kekeyaan batin) dan istri (sakti) Dewa Wisnu. Bersama dengan Dewi Lakshmi, umat Hindu membuat persembahan kepada Ganesha, yang melambangkan awal beretika dan kekuatan tanpa rasa takut untuk menghilangkan segala rintangan. Selain itu, lewat Saraswati, yang mewujudkan inspirasi, sastra, seni, musik dan pembelajaran, dan Kubera yang melambangkan pembukuan, manajemen harta kekayaan, baik secara fisik maupun spiritual.
"Dipawali melambangkan saatnya Wisnu kembali kepada Lakshmi dan tempat tinggal mereka di Vaikuntha. "Sehingga, mereka yang menyembah Lakshmi dapat menerima manfaat dari suasana hati yang baik, dan oleh karena itu diberkati dengan kekayan batin, kesehatan mental, fisik dan material selama satu tahun ke depan," terangnya.
Cara lainnya, ada pula yang merayakan Dipawali dengan cara memuja Dewi Kali atau Dewi Durga sebagai Adi-Shakti yang mengalahkan Mahishasura, dalam rangkaian festival Kali Puja atau Durga Puja.
Sri Krishna dirayakan pula pada Dipawali karena mengalahkan Narakasura. Orang menandai Gunung Govardhan, dan merayakan berbagai kejadian dalam sejarah tentang Sri Krishna. Hari raya Govardhan Puja dirayakan, dengan 56 atau 108 masakan yang berbeda yang disiapkan, dipersembahkan kepada Sri Krishna, kemudian berbagi dan dirayakan oleh masyarakat setempat.
Beberapa umat Hindu juga mengasosiasikan Dipawali dengan legenda Yama dan Nachiketa pada malam Dipawali. Pemaknaan dalam cerita Nachiketa kembali lagi kepada kebenaran dan kepalsuan, kekayaan spiritual yang sejati dan kekayaan material yang sementara dan pengetahuan melawan kebodohan. Cerita tersebut tercatat dalam Katha Upanishad. Dalam beberapa bagian tertentu di dunia, festival Dipawali menandai awal tahun baru Hindu. "Jadi, peristiwa sejarah dan legenda sebagai landasan untuk merayakan Dipavali bervariasi. Namun, mereka semua mengarahkan kepada sebuah kesan penuh dengan sukacita, termasuk oleh beberapa umat Hindu di Bali," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra