BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain banten yang terbuat dari janur, dan bahan lainnya sebagai sarana upakara . Umat Hindu juga menggunakan binatang sebagai persembahan. Khusus untuk wewalungan ini ada perlakuan khusus juga.
Dalam setiap upacara di Bali, penggunaan hewan sebagai sarana upacara memang benar adanya. Namun, seperti yang kita ketahui bersama, setiap orang yang dengan sengaja membunuh hewan disebut dengan Ahimsa Karma. Tetapi tidak dengan hewan yang digunakan untuk upacara yadnya. Karena ada upacara penyucian yang dilaksanakan sebelum memotong hewan yang hendak digunakan untuk upacara, yang disebut dengan Mapepada.
Mapepada berasal dari kata Pada. Pada sendiri pada dasarnya memiliki dua makna, yakni pada yang berarti sama dan pada yang berarti kaki. Dalam pengertianya sebagai persamaan, pada dapat diartikan sebagai penyamaan terhadap roh hewan yang akan digunakan untuk sarana upakara. “Dengan Mapepada diharapkan arwah dari hewan yang digunakan untuk upakara, ketika lahir kembali mengalami kenaikan tingkat atau tidak menjadi hewan kembali,” ujar Budayawan asal Kesiman, I Gede Anom Ranuara yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group).
Lebih lanjut dijelaskannya, untuk pengertian pada yang berarti kaki, dapat diartikan sebagai penggunaan binatang yang berkaki, dalam hal ini adalah kaki dua dan kaki empat. Mapepada adalah rangkaian upacara Bhuta Yadnya. Dalam hal ini secara mengkhusus terdapat di dalam upacara dengan tingkatan utama, yakni tawur. Yang menjadi tolak ukur upacara tersebut tergolong tawur , yakni penggunaan Sanggar Tawang sebagai media upacara. Sanggar Tawang diyakini sebagai simbol Tri Purusa, yakni Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa yang akan menyaksikan jalannya upacara yadnya. Selain itu, distanakan juga Ida Bhatara Rare Angon yang bertugas mengantarkan arwah wewalungan atau binatang kurban menuju ke tingkat yang lebih tinggi.
Terdapat beberapa literatur yang menjelaskan tentang pelaksanaan upacara Mapepada, yakni Lontar Tutur Widi Sastra Tapeni, Lontar Aji Swamandala, Lontar Tatwa Mpu Kuturan, Lontar Sundarigama, dan Lontar Tattwa Rare Angon. Dalam pelaksanaan upacara Mapepada, identik dengan penggunaan hewan berkaki dua, hewan berkaki empat, hewan yang tumbuh di darat, hewan yang tumbuh di air, hewan yang bisa tumbuh di darat dan di air, dan hewan yang bisa terbang. Penggunaan hewan tergantung dari besar kecilnya upakara yang akan dipersembahkan.
“Apakah menggunakan anjing belang bungkem, kerbau, kambing, dan lain sebagainya itu, tergantung pada besar kecilnya upakara,” ujar pria yang juga dalang ini.
Mapepada dilaksanakan beberapa hari sebelum dilakukan pemotongan hewan untuk upacara. Biasanya upacara ini menggunakan banten dengan tingkatan bebangkit dan dipuput oleh seorang sulinggih. Hal ini bertujuan untuk mendoakan dan memohon kehadapan Dewa Siwa agar hewan yang digunakan untuk upacara mengalami kenaikan derajat. Karena, sulinggih merupakan simbol Siwa sekala yang memiliki kaitan erat dengan peleburan dosa.
Setelah semua upakara lengkap, dilanjutkan dengan menuntun hewan kurban mengitari tempat upacara sebanyak tiga kali. Konsep yang digunakan adalah Murwa Daksina, yang artinya bergerak menuju ke atas atau menuju tingkat yang lebih tinggi. “Setelah semua selesai, dan binatang semua sudah disucikan, maka beberapa harinya dilanjutkan dengan pemotongan hewan untuk kelengkapan upakara,” tandasnya.