BALI EXPRESS, DENPASAR – Jika tidak mendung, Fenomena Super Blue Blood Moon atau bulan purnama yang terbesar harusnya dapat dilihat hampir seluruh wilayah di Bali, Rabu mala mini (31/1). Fenomena sejenis juga sempat terjadi pada 152 tahun lalu. Hal itu diungkapkan oleh salah satu petugas pengamat BMKG Balai Geofisika kelas II Denpasar, Putu Dedy Pratama ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, Rabu (31/1).
Dalam kesempatan tersebut Dedy juga mengungkapkan fenomena itu terjadi lagi karena keberadaan bulan posisinya sama. Ia menjelaskan posisinya cenderung miring sekitar 5 derajat dari edaran Bumi. “Itu bisa terjadi saat purnama atau saat tilem berada pada titik 0 derajat, maka di sana akan terjadinya gerhana. Selain itu Super Blue Blood Moon juga bisa terjadi ketika bulan purnama bertemu jarak terdekat dengan Bumi,” terang pria asli Gianyar tersebut.
Dirinya juga menjelaskan gerhana biasanya terjadi tiga kali dalam setahun. Tetapi gerhana yang terjadi itu ia mengungkapkan bisa dilhat dan tidak. Dikarenakan tergantung dari cuaca alam yang mendukung. Super Blue Bood Moon kali ini sangat berpengaruh terhadap pasang surutnya air laut. Dedy mengatakan air laut bisa pasang dengan cepat seketika dan surut seketika pula.
“Untuk kali ini pihak kami juga terus memantau dari BMKG yang ada di Tuban dan kami akan live streaming juga lewat akun sosial media yang kita miliki,” jelas Dedy.
Pada tahun 2018 ini, pihaknya memprediksikan lima kali terjadinya gerhana. Pertama gerhana bulan total pada 31 Januari bisa dilihat di Indonesia. Gerhana matahari sebagian pada 15 Februari tidak bisa dilihat dari Indonesia. Ke tiga gerhana matahari sebagian pada 13 Juli mendatang juga tidak dapat dilihat di Indonesia. Ke empat gerhana bulan total pada 28 Juli dapat dinikmati dari Indonesia, sedangkan ke lima gerhana matahari sebagian pada 11 Agustus yang tidak dapat dilihat dari Indonesia.
Dedy juga menjelaskan berhana bulan total terjadi apabila bulan sedang berposisi dengan matahari. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan dua titik yang ia menyebutnya node. Yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika.
Fenomena kali ini menurutnya paling langka terjadi pada Super Moon. Di mana jarak terdekat bulan terhadap bumi terjadi berselisih 1 hari 4 jam dengan pucak gerhana bulan total. Ia juga mengungkapkan pada 30 Januari pukul 17.56 bulan berada di perigee sejarak 358.993 km. Pada 29,5 jam berikutnya yaitu pada 31 Januari pukul 21.26 bulan berada dalam puncak fase purnamanya.
“Untuk jam yang ini kami pakai wilayah Denpasar saja. Sebab secara global kan berbeda waktunya dari wilayah Indonesia timur dengan sampai di Bali. Jangankan di Indonesia , di Karangasem dengan Denpasar saja terjadi selisih beberpa menit. Makanya kami khususkan waktunya ini untuk Denpasar saja,” imbuhnya.
Dedy juga menekankan agar selalu waspada bagi masyarakat yang ada di pesisir pantai. Dikarenakan ada peningkatan pasang surut air laut yang diperkirakan mengakibatkan terjadinya banjir rob, yaitu genangan air laut di daratan. Super Moon ini dapat meningkatkan tinggi pasang maksimum 20-30 hari posisi purnama biasa. Selain itu, purnama 31 Januari kemarin merupakan purnama ke dua di bulan yang sama ini dikenal dengan istilah Bluemoon.
Dikonfirmasi tempat yang berbeda salah satu Dosen IHDN Denpasar, I Gusti Made Widya Sena, S.Ag., M. Fil.H menjelaskan pada gerhana sebaiknya melakukan yoga asanas. Di samping itu juga ditambah dengan gerakan candra namaskar yaitu permujaan pada bulan. “Gerhana bulan sangat membantu seorang praktisi dalam melakukan meditasi untuk meningkatkan konsentrasi. Bahkan pengendalian pikiran juga bisa dilaksanakan . Karena kekuatan gerhana bulan dapat menarik lebih kuat energy dan pikiran negative dalam tubuh,” jelasnya.
Selain itu, Widya Sena juga mengungkapkan gerhana bulan dapat mengembalikan pikiran menjadi sumber energi. Tentunya energy yang penuh dengan kelembutan dalam diri seseorang dan ketenangan yang sangat positif.
Editor : I Putu Suyatra