BALI EXPRESS, TABANAN - Jika menengok ke sebelah utara Pura Peneduhan, di Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan, kita akan melihat hamparan sawah nan hijau, namun ada pula kumpulan pohon-pohon besar yang rimbun. Suasana mistis kembali menyeruak. Apalagi di sana terdapat sebuah gua yang biasa dikenal dengan Goa Raksasa.
Dengan rasa penasaran, wartawan koran ini yang ditemani Jero Mangku Made Jata, berjalan menyusuri pematang sawah menuju arah utara dari Pura Peneduhan, hingga perjalanan terhenti di depan sebuah pepohon tinggi yang rimbun yang di dalamnya terdapat sebuah goa besar.
Tak jelas apa yang ada di dalam goa, karena memang kondisi di sekitar goa sangat gelap. Menurut Jero Mangku Jata, tak ada seorang pun yang tahu berapa kedalaman pasti dari goa tersebut. Karena tak ada yang berani masuk ke dalam goa dikenal tenget (angker). Bahkan, ada yang mengatakan jika goa tersebut bisa tembus di sungai yang dahulu airnya pernah diminum oleh rombongan Kerajaan Badung saat hendak menuju Kerajaan Tabanan.
Mulut goa tersebut berukuran selebar sekitar 2 meter dan tinggi 10 meter, diapit oleh dua buah batu besar serta beberapa pepohonan rimbun. Di atas mulut goa juga nampak pohon Pule besar dengan akarnya yang melilit di batu yang ada di sebelah mulut gua. Bahkan, menurut mitos raksasa yang ada di dalam goa adalah dua orang, yakni pria dan wanita.
Maka, mulailah Jero Mangku Jata bercerita perihal gua yang dikenal dengan nama Goa Raksasa tersebut. Sesuai namanya, goa tersebut dulu dipercaya merupakan tempat tinggal raksasa besar, bahkan hingga saat ini kepercayaan tersebut masih dipegang teguh warga Sanggulan melalui cerita turun-temurun.
Menurut Jero Mangku Jata, Goa Raksasa memiliki hubungan dengan sejarah Kerajaan Tabanan. Di mana ketika Kerajaan Tabanan memiliki sebuah acara besar ( Karya Agung), maka Kerajaan Tabanan akan mempertunjukkan Tarian Rejang dengan penari yang berjumlah 108. Namun, setiap kali dipertunjukkan, penari Rejang pada barisan paling belakang selalu menghilang misterius tanpa jejak. Hal tersebut membuat Raja Tabanan bertanya-tanya dan penasaran, sampai akhirnya raja beserta patih dan pasukannya merencanakan suatu hal.
“Raja kemudian memberikan jelijih (gabah) kepada penari Rejang yang ada di barisan paling belakang, yang akan jatuh sedikit demi sedikit, sehingga menjadi jejak dan raja akan dengan mudah melacak keberadaan penari tersebut,” terangnya.
Dan benar saja, seusai pementasan, penari Rejang kembali menghilang, namun kali ini raja sangat bersemangat karena akan segera mengetahui apa yang terjadi dengan mengikuti jejak penari Rejang. Setelah diikuti, jelijih tersebut menuju ke sebuah goa yang ternyata dihuni oleh raksasa besar.
“Dari sanalah raja kemudian memerintahkan patih dan pasukannya untuk membunuh raksasa agar kejadian serupa tak terulang kembali,” lanjut Jero Mangku Jata.
Namun sayangnya, raksasa besar tersebut tak bisa dibunuh karena amat sakti. Berbagai macam senjata sudah dikeluarkan oleh patih dan pasukan kerajaan untuk membunuh raksasa tersebut, namun selalu gagal. “Akhirnya raja memanggil dan meminta pemilik sawah di dekat goa untuk membunuh raksasa tersebut,” imbuhnya.
Karena yang meminta adalah raja, pemilik sawah yang sebenarnya takut pun menyanggupi hal tersebut. Pemilik sawah kemudian berpura-pura menitipkan padang ilalang di Goa Raksasa tersebut, namun pemilik sawah malah membakar ilalang dengan harapan raksasa tersebut akan terbunuh. Namun, apa daya kobaran api yang besar juga tak bisa membunuh raksasa tersebut.
“Tetapi raksasa yang menyadari kesalahannya yang telah berbuat jahat akhirnya memberi tahu pemilik sawah bahwa dirinya hanya bisa dibunuh dengan carang timbul (batang keluwih) sepanjang tiga jengkal,” sambungnya.
Kebetulan di dekat lokasi ada sebuah pohon timbul yang kemudian dicari batangnya dan dipukulkan kepada raksasa tersebut sebanyak tiga kali sampai akhirnya raksasa tersebut mati. Namun sebelumnya, raksasa tersebut melontarkan kutukan kepada warga Sanggulan.
Raksasa yang dikenal sakti tersebut mengutuk seluruh warga Sanggulan untuk tidak mengonsumsi timbul (keluwih). Jika hal itu dilanggar, maka akan ada akibat fatal yang menanti. Sejak saat itu warga Sanggulan tak pernah berani mengonsumsi makanan yang berasal dari olahan timbul karena dipercaya bisa membuat perut sakit, gatal-gatal, dan sebagainya.
“Kalau ada yang dengan sengaja mengonsumsi timbul, maka akan menderita sakit perut dan tidak bisa disembuhkan dengan berobat ke dokter, namun hanya bisa disembuhkan dengan percikan tirta,” ungkap Jero Mangku Jata.
Kutukan tersebut berlaku bagi setiap orang yang merupakan keturunan Banjar Sanggulan, entah yang tinggal di Banjar Sanggulan ataupun berada di rantauan, baik dewasa maupun anak-anak. Pernah suatu ketika sekaa gong Banjar Sanggulan tidak sengaja menyantap olahan makanan berbahan timbul, seketika itu pula perut para sekaa gong terasa sakit dan mules sampai akhirnya bisa terobati setelah mendapatkan percikan tirta dari Pemangku Banjar Sanggulan. Hal tersebut semakin menambahkan kepercayaan warga Banjar Sanggulan akan kutukan tersebut.
Editor : I Putu Suyatra