Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ulap-ulap, Sarana Wajib Saat Mlaspas, Begini Maknanya

I Putu Suyatra • Minggu, 22 April 2018 | 14:40 WIB
Ulap-ulap, Sarana Wajib Saat Mlaspas, Begini Maknanya
Ulap-ulap, Sarana Wajib Saat Mlaspas, Begini Maknanya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Setiap mlaspas bangunan, masyarakat Hindu di Bali senantiasa menyiapkan secarik kain kasa putih berisi gambar atau aksara tertentu. Kain bergambar tersebut kemudian ditempel pada bagian tertentu bangunan (umumnya di bagian atas), seperti depan palinggih, atas pintu, candi bentar, dan sebagainya. Oleh masyarakat Hindu di Bali, kain ini disebut dengan nama ulap-ulap. Apa fungsinya?


Ulap-ulap ada beragam jenis, dilihat dari bentuk dan gambar dan aksaranya. Masing-masing ulap-ulap yang berbeda diperuntukkan pada bagian bangunan yang berbeda pula. Ada yang bergambar aksara saja, ada yang bergambar senjata. Bahkan, ada yang bergambar bhuta raksasa, dan sebagainya.
Menurut salah satu akademisi Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S. Ag., M. Fil. H. , ulap-ulap berkaitan dengan ritual yang dilaksanakan umat Hindu dalam menyucikan, lanjut mempasupati bangunan.


“Ulap-ulap itu berasal dari kata ulap yang artinya memanggil. Jadi dalam hal ini, ulap-ulap merupakan simbol untuk memanggil kekuatan dewa tertentu untuk distanakan di bangunan yang diplaspas,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).



Dikatakannya, ulap-ulap umumnya sebagai penanda bahwa benda atau bangunan sudah disucikan atau dipasupati. Sehingga tidak diperlakukan sembarangan. Pasalnya, secara magis benda atau bangunan tersebut dipercaya sudah memiliki jiwa.



Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Jro Dalang Nabe Roby ini menyampaikan, umumnya yang digunakan di ulap-ulap adalah aksara modre, yakni aksara suci yang dirangkai seperti kaligrafi. Selanjutnya ada pula gambar-gambar tertentu, seperti senjata dewata nawa sanga. Perpaduan keduanya sering disebut rarajahan. “Namun di palinggih, jarang menggunakan gambar-gambar. Biasanya lebih banyak aksara suci,” ungkapnya. Di samping itu, beda bangunan, beda pula gambar dan aksara ulap-ulap yang digunakan.



Prosesi pemakaian ulap-ulap dikatakannya tergantung kepada bangunannya. Jika bangunan baru, maka ulap-ulap dipasupati bersamaan dengan pamlaspasan. Namun, jika palinggihnya sudah diplaspas dan ingin memperbaharui ulap-ulapnya saja, maka ulap-ulapnya dipasupati terlebih dahulu setelah itu baru ditempelkan. “Biar nantinya tidak kain yang kotor naik. Selain itu, penggantian hendaknya dilakukan saat piodalan di pura atau tempat suci yang bersangkutan,” ujarnya.


Meski gampang ditiru atau dijiplak, sebenarnya kata Doktor Ilmu Agama termuda IHDN Denpasar ini, pembuat ulap-ulap harus bersih secara lahir batin. "Biasanya untuk mendapat legalitas, belajar di griya. Selanjutnya, yang membuat harus diwinten. Ini merupakan syarat mutlak. Dalam dunia magis di Bali, yang bersangkutan harus diwinten terlebih dahulu," paparnya.


Dijelaskannya, mawinten yang dimaksud, tidak mesti pawintenan untuk jadi pamangku, melainkan untuk kebersihan diri secara spiritual. Pasalnya, untuk membuat karya yang bersih dan suci, si pembuatnya harus dibersihkan dan disucikan terlebih dahulu. "Contohnya pawintenan Saraswati. Ini kan pawintenan yang umum. Biasanya, di kampus-kampus mahasiswa sudah diwinten. Tinggal yang bersangkutan menjaga kebersihan dan kesucian dirinya saja," jelasnya.


Selanjutnya, agar ulap-ulap yang dibuat lebih 'mataksu', selain menyiapkan diri secara lahir dan batin, pembuat ulap-ulap harus nunas di Sang Hyang Aji Saraswati dan Ganapati untuk memberi tuntunan.



"Dengan demikian, pikiran dan emosi si pembuat, masuk dalam aksara ulap-ulap sebagai sebuah energi positif," jelasnya. Bahkan, kata dia, sebenarnya membuat ulap-ulap biasanya ada bantennya, yakni minimal pejati.  Di samping itu, tentunya perlengkapan dan media yang digunakan dalam pembuatannya, seperti kain dan spidol juga harus bersih dan layak.

Editor : I Putu Suyatra