BALI EXPRESS, TABANAN – Antusias masyarakat pecinta calonarang membludak saat menyaksikan pementasan Calonarang Pamurub Ajian Geni Astra Watangan Mebakar yang digelar Pasraman Cakra Ca Buana di Banjar Temuku Aya, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Selasa malam (24/4).
Rasa penasaran para penonton kemudian terobati dengan pementasan calonarang yang sudah dimulai sejak pukul 19.00 wita tersebut. Setelah satu per satu Ida Sesuunan di Pasraman Cakra Ca Buana napak pertiwi, prosesi watangan mebakar pun dimulai sekitar pukul 01.00 yang diawali dengan pengarakan bangke matah dari simpang empat banjar menuju lokasi pementasan yang merupakan lahan kosong di sebelah Pasraman Cakra Ca Buana.
Bangke matah kemudian dimandikan disambung dengan sejumlah prosesi upakara. Selanjutnya dengan bantuan kompor mayat, bangke matah yang sudah ditutup dengan kereb berupa kain kasa yang berisi rerajahan disiram dengan bensin dan minyak tanah kemudian dibakar selama 5 menit 22 detik. Pementasan calonarang yang baru pertama kali di Bali ini memang tak bisa dikatakan main-main, karena setelah menjalani prosesi watangan mebakar, sisya yang menjadi watangan mebakar tak mengalami luka sedikit pun.
I Ketut Suwitna, Ketua Pasraman Cakra Ca Buana yang juga menjadi watangan mebakar mengaku tidak merasakan panas ketika dirinya dibakar ditengah kobaran api. Meskipun pada detik-detik terakhir tangan kirinya sudah mulai panas. “Tetapi saya rasa nyaman saat berbaring, dan tidak ada perasaan takut,” ungkapnya.
Menurutnya, selama menjadi bangke matah, ia tidak merasakan ada gangguan baik sekala maupun niskala. Ia hanya tertidur namun masih bisa mendengar suara-suara disekitar. “Saya dalam posisi terkunci, tetapi saya masih bisa mendengar suara-suara,” lanjutnya pria asal Banjar Jaka Tebel, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan tersebut.
Kendatipun baru pertama kali menjadi watangan, sebelum dibakar ia mengaku dirinya pasrah dan berserah diri karena apa yang dilakukan prinsipnya Ngayah. Namun sebelum pementasan, tentunya Suwitna sudah mempelajari Ajian Geni Astra selama kurang lebih tiga bulan. “Siapa sih yang ingin dibakar hidup-hidup, tentu kita harus berbekal,” imbuhnya.
Hanya saja ia kembali menegaskan jika pementasan calonaranag tersebut bukan ajang pamer kawisesan (kesaktian) karena pementasan tersebut murni penampilan seni dari para sisya yang berkesenian dan diharapkan bisa menghibur para masyarakat.
Pengagem Pasraman Cakra Ca Buana, I Bagus Putu Budi Adnya yang ditemui usai pementasan mengatakan bahwa dirinya bersyukur karena telah diberikan kelancaran dalam pementasan calonarang Pamurub Ajian Geni Astra watangan mebakar tersebut. Terlebih pihaknya bisa memberikan pementasan seni yang diharapkan bisa membangkitkan dan menjaga eksistensi calonarang di Bali. “Hari ini kita diberikan jalan sehingga semua berjalan dengan baik, tidak mengada-ada, tetapi adanya,” ungkapnya.
Pihaknya pun tidak menyangka jika antusias masyarakat pencinta calonarang sangat tinggi sehingga penonton membludak dan terjadi kemacetan hinga 4 kilometer sampai Desa Serampingan karena parkir kendaraan.
Editor : I Putu Suyatra