Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Kanda Pat, Saudara Maya yang Jadi Pelindung Setia bagi Umat Hindu di Bali

I Putu Suyatra • Rabu, 2 Mei 2018 | 17:00 WIB
Ini Makna Kanda Pat, Saudara Maya yang Jadi Pelindung Setia
Ini Makna Kanda Pat, Saudara Maya yang Jadi Pelindung Setia

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernah mendengar saudara tak terlihat yang konon terlahir bersamaan dengan manusia? Umat Hindu di Bali menyebutnya Nyama Papat alias Kanda Pat.

Jika dikaji dalam ajaran agama Hindu, siapakah mereka?

Kanda Pat umumnya dikenal sebagai empat saudara yang terlahir bersamaan dengan seorang bayi ke dunia (mayapada).

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda mengatakan, Kanda Pat berasal dari kata kanda yang memiliki arti saudara, teman, tutur, dan kewisesaan.

Pat berarti empat. Dari asal katanya Kanda Pat berarti empat saudara berwujud halus yang selalu mengiringi roh ( sukma) manusia dari dilahirkan hingga meninggal dunia.

Bahkan, Kanda Pat  dijelaskan dalam Atharwa Weda, yang berbunyi:

Pundarikam navadvaram tribhir gunebhir avrtam. Tarmin yad yaksamatmanvat tad vai brahmavido viduh.

Artinya:
Orang dengan pengetahuan ilahi mengetahui roh, yang bersemayam di dalam teratai, yaitu badan manusia yang berpintu sembilan. Yang terkurung dalam tiga belenggu.

Kanda Pat memiliki dasar ajaran, yaitu Kanda Pat Dewa, Kanda Pat Manusia, dan Kanda Pat Bhuta.

“Kanda Pat erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana, Tri Kona, Tri Guna, dan Tri Kaya Parisudha.Karena dasar konsepnya manusia merupakan penggambaran dari sifat – sifat kedewaan, sifat satwam rajas tamas. dan sifat - sifat bhuta,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.

Selama ini yang umum dijelaskan di masyarakat, lanjutnya, Kanda Pat adalah saudara yang terlahir bersama manusia dalam bentuk darah, ari – ari, ketuban, dan lamas atau lemak.

Namun sesungguhnya, konsep ini merupakan konsep Kanda Pat Bhuta.

Ketuban dalam Kanda Pat Bhuta digambarkan sebagai Anggapati. Anggapati merupakan wujud halus dari air ketuban yang menguasai badan manusia.

“Anggapati biasanya menguasai manusia ketika dalam kondisi lemah atau sedang dikuasai nafsu,” paparnya.

Darah dalam Kanda Pat Bhuta digambarkan berwujud Prajapati. Lamas atau lemak dalam Kanda Pat Bhuta digambarkan sebagai Banaspati, dan ari – ari digambarkan sebagai Banaspatiraja, dan tubuh bayi digambarkan sebagai Bhuta Dengen.

 “Konsep Kanda Pat Bhuta, Manusia, dan Kanda Pat Dewa, memang saling terkait satu dengan yang lainnya. Tidak bisa dimengerti jika hanya mengetahui salah satunya saja,” ungkapnya.

Dikatakannya, konsep Kanda Pat Manusia, justru terbilang lebih sederhana. Konsep ini merupakan implementasi dari Pawongan dalam Ajaran Tri Hita Karana. 

Ajaran ini menitikberatkan untuk saling menjaga hubungan antara sesama manusia.

Konsep Kanda Pat Manusia,  identik dengan manusia yadnya, pitra yadnya, dan rsi yadnya.

Dalam Kanda Pat Manusia,  ari – ari, darah, ketuban, dan lemak memiliki nama yang berbeda.

Ketuban dalam Kanda Pat Manusia  disebut Ngurah Tangkeb Langit, dengan nama lainnya Bhagawan Penyarikan.

Darah dalam  disebut Wayan Teba dengan nama lainnya Bhagawan Mercukunda, arah yang dikuasai adalah arah Selatan.

Lamas atau lemak, dalam  Kanda Pat Manusia disebut juga Made Jelawung, dengan nama lainnya Bhagawan Sindhu, arah yang dikuasai Barat.

Ari-ari dalam  disebut juga Nyoman Sakti Pengadangan dengan nama lainnya Bhagawan Tatul.

Ia menguasai arah Utara. Dan, terakhir, tubuh bayi dalam Kanda Pat Manusia  disebut Ketut Petung.

“Implementasi dari konsep Kanda Pat Manusia ini  adalah otonan. Makanya, sangat penting bagi seorang manusia ngotonin, untuk menjaga hubungan kita dengan saudara Kanda Pat ini, agar senantiasa selalu dilindungi dan berjalan beriringan harmonis,” ungkap Mpu Jaya Prema.

Seperti halnya  Kanda Pat Manusia, Kanda Pat Dewa juga merupakan implementasi dari ajaran parahyangan dalam Tri Hita Karana.

Di mana manusia menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta sebagai manifestasinya sebagai Sang Pencipta.

Umumnya, ajaran ini biasanya diwujudkan dalam upacara – upacara Dewa Yadnya.

Hal senada juga dijelaskan dalam lontar Panus Karma. Dalam lontar tersebut menjelaskan setiap tingkatan usia manusia, nama nyama Kanda Pat berubah.

“Jika dalam lontar Panus Karma, nyama atau saudara di saat sang jabang bayi berusia 20 hari disebut Anta, Preta, Kala, Dengen. Namun, ketika sang jabang bayi berusia 40 minggu, nyamanya disebut ari-ari, lamas, getih, dan yeh nyom,” ujarnya.

Apakah makna filosofi dari konsep Kanda Pat tersebut?

Sesungguhnya  nyama Kanda Pat , lanjutnya,  merupakan manifestasi Sang Pencipta sebagai Sang Hyang Siwa dalam wujudnya sebagai ari-ari, Sang Sadasiwa dalam wujudnya sebagai lamas /lemak, Hyang Parama Siwa dalam wujudnya sebagai darah, dan Hyang Suniasiwa dalam wujudnya sebagai air ketuban.

“Itulah mengapa, ketika bayi terlahir ke dunia bersama ketuban, darah, lemak, dan ari – ari,  sebaiknya sang ayah langsung mengubur keempat elemen tersebut di halaman rumah, sesuai desa kala patranya. Secara sekala jika tidak ditanam akan membusuk. Namun, secara niskala jika itu tidak di pertiwikan, maka Nyama Kanda Pat –nya tidak dapat menjaga sang bayi, dan justru akan disalah gunakan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya. (*) 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #Kanda Pat