BALI EXPRESS, DENPASAR - Hidup tak lepas dari dualisme. Ada senang, ada susah. Ada baik, ada buruk. Ada bahagia, ada pula derita. Bahkan manusia pun terlahir dari dualisme, yakni pertemuan antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, selama manusia hidup, dualisme atau yang disebut dengan rwabhineda ini akan selalu mendampingi.
Meski ada dualisme yang menyelimuti hidup, namun manusia tak boleh menyerah. Manusia hendaknya tetap mengusahakan suatu kebenaran, kebaikan, dan keindahan untuk hidupnya, orang lain, dan alam sekitarnya. “Ibarat menanam padi, maka terkadang tanpa kita harapkan senantiasa rumput ikut tumbuh. Tapi sebaliknya, saat kita menanam rumput, padi sangat kecil kemungkinnannya, bahkan mustahil ikut tumbuh,” ungkap Guru Mangku Hipno kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (17/6).
Berdasar analogi tersebut, pakar metafisika yang bernama lengkap Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M. Ag., CHt. MNNLP ini mengatakan, dalam setiap perbuatan baik, pencarian kebaikan, dan pencarian jati diri yang berkualitas, akan selalu mengalami masa-masa susah. “Ada cobaan, ada rumput liar yang tumbuh,” ujarnya.
Namun demikian, saat seseorang melakukan perbuatan jelek, menjadi lebih jahat, tidak mungkin ada kebaikan tumbuh di sana. Di satu sisi, itu menjadi gampang, menjadi mudah. “Artinya, jika kita mengejar sebuah kebaikan, pada awalnya memang agak susah. Tapi anggaplah segala kesusahan tersebut adalah cara Tuhan untuk menguatkan proses yang sedang dihadapi. Tujuannya, agar kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih cerdas, lebih memahami diri sendiri, lebih dekat dengan lingkungan, dan yang paling penting, ketika ada kesusahan cenderung ingat kepada Tuhan,” paparnya.
Sebaliknya, jika manusia hanya merasakan kebahagiaan, tanpa mengecap penderitaan, manusia cenderung lupa pada Tuhan. Dengan demikian, ketika mengalami penderitaan, hal pertama yang diingat adalah Tuhan. Tentu pula saat ada kebahagiaan, yang pertama diingat adalah Tuhan. “Barang siapa yang saat mendapat kebahagiaan, lupa kepada Tuhan, maka kebahagiaan itu tidak menjadi kekal. Meski ia sudah berusaha menjaga kebahagiaan itu, namun ketika lupa dengan Tuhan, maka jangan harap kebahagiaan itu menjadi abadi,” terangnya.
Demikian pula, ketika mendapat penderitaan, seseorang ingat dengan Tuhan. Maka penderitaan tersebut juga bukan sebuah keabadian. “Tapi jika saat menderita itu seseorang lupa pada Tuhan, ngambul (merajuk) pada Tuhan, maka penderitaan itu akan menjadi abadi dalam kehidupannya,” tegasnya.
Hal ini, lanjut Guru Besar Brahmakunta Center yang beralamat di Jalan Kebo Iwa Utara, Denpasar itu, tak terlepas dari hukum sebab akibat. Bagi orang-orang yang berpengetahuan, hukum sebab akibat atau yang biasa disebut Karma Phala adalah sebuah kewajaran. Bagi orang yang berpengetahuan, tidak akan larut dalam penderitaan maupun kebahagiaan, namun tetap melakukan perbuatan yang benar, baik, dan indah berdasar rasa bakti yang tinggi pada Tuhan.
Lalu bagaimana cara menguatkan diri menghadapi segala macam tantangan dan penderitaan? Salah satunya, kata Guru Mangku Hipno adalah memperluas perspektif atau sudut pandang. Hal inilah yang dipelajari oleh metafisika. Metafisika senantiasa berbicara berbagai permasalahan dari banyak sudut pandang dan lebih mendalam. Ada tiga objek yang selalu muncul dalam metafisika, yakni apa yang ada dalam pikiran, apa yang ada dalam kemungkinan, dan apa yang dalam kenyataan. “Sementara ilmu pengetahuan biasanya hanya cenderung menilai sesuatu dari satu sudut pandang,” ujar magister agama IHDN Denpasar tersebut.
Semakin banyak perspektif, kata pria asal Singaraja itu, maka penderitaan semakin kecil. Ibarat melihat permasalahan seperti sebuah kubus, jika hanya melihat satu sisi, maka seolah tidak ada solusi. Namun jika melihat dengan sudut pandang lainnya, permasalahan tersebut ternyata ada sisi manfaatnya, yakni mendorong seseorang untuk belajar lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih baik. “Karena tanpa penderitaan manusia tidak akan mau belajar. Bahagia tidak perlu dipelajari, tapi dengan penderitaan, manusia akan belajar untuk melepaskan diri dari penderitaan itu. Jadi pelajarilah metafisika,” tegas Ketua Ikatan Cendikiawan Metafisika Bali (ICMB) itu.
Dengan demikian, pria yang tengah menempuh Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar itu menekankan, penderitaan bukanlah alasan untuk menyerah berbuat baik. Penderitaan hendaknya justru menguatkan seseorang, baik jasmani maupun rohani. Yang perlu dipelajari adalah hakikat penderitaan itu dan cara mengatasinya. “Jadi jangan anggap penderitaan adalah akhir segalanya. Dengan penderitaan justru kita belajar hidup yang lebih baik di masa depan. Tentunya dengan senantiasa belajar dan mendekatkan diri pada Tuhan,” tandas pakar hipnosis itu. (bersambung)
Editor : I Putu Suyatra