BALI EXPRESS, GIANYAR - Selama Usaba di Pura Dalem Pingit, masyarakat Sebatu, Gianyar, tidak diperkenankan keluar wilayah dan potong rambut.
Desa Sebatu merupakan desa tua yang memiliki sejarah panjang. Kata Sebatu berasal dari kata Sauh yang berarti tergelincir dan Batu yang berarti batu. “Kalau dilihat dari arti katanya, Sebatu berati tergelincir di atas batu. Nah nama ini erat kaitannya dengan kisah Sang Mayadenawa. Konon, raja loba itu jatuh dan tergelincir di sini sebelum akhirnya dibunuh,” papar Pekaseh Desa Sebatu, Senter kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.
Usaba Dalem yang berlangsung selama 12 hari ini juga terbilang menarik, di mana masyarakat tidak diperkenankan keluar wilayah desa. Senter mencontohkan, bila seseorang tinggal di Denpasar, ketika Usaba pulang ke kampung halamannya sempat menginap sehari, maka keesokan harinya hingga selesai Usaba harus terus menginap, belum boleh pulang ke Denpasar.
Khusus untuk pantangan ini tidak ada alasan khusus, hanya faktor kepercayaan. “Ada mitos, jika kita melanggar aturan yang sudah ada konon akan celaka. Ya itu kembali lagi kepada kepercayaan masing – masing. Tapi selama ini memang sudah terbukti,” ujarnya.
Ia bercerita tentang beberapa warga yang mengalami kejadian aneh karena melanggar pantangan Usaba. “Mereka memutuskan untuk pulang ke Denpasar, padahal masih dalam rangkaia Usaba Dalem. Selang sehari mereka datang dengan kondisi tuli dan bisu. Dan, itu terjadi pada satu keluarga secara bersamaan,” ungkapnya.
Selain tak boleh keluar desa, masyarakat juga dilarang memotong rambut serta kuku selama Usaba Dalem. “ Selama Usaba Dalem tidak boleh potong rambut, tidak boleh potong kuku, melaksanakan upacara Manusia Yadnya ataupun Pitra Yadnya juga dilarang. Selain itu, muspa pun selama 12 hari tidak boleh dilakukan,” ungkapnya
Saat Usaba Dalem, lanjutnya, Ida Batara Dalem melancaran, melihat dan mengamankan daerah Sebatu. "Kami diwajibkan untuk menyepi dan mengontrol diri, pikiran serta tubuh. Selama 12 hari tersebut kami tidak boleh terlalu memperhatikan kepentingan duniawi seperti potong rambut dan potong kuku,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh tradisi dan ritual yang ada di Sebatu tetap ajeg dan selalu dijaga. “Kalau bukan kita lantas siapa yang akan menjaga tradisi ini. Saya berharap semoga tetap ajeg hingga nanti,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra