BALI EXPRESS, AMLAPURA - Tenganan tak hanya terkenal akan budaya Bali Mulanya, tapi juga dikenal sebagai penghasil Tuak. Bahkan, minuman tradisonal ini punya fungsi lebih spesifik bagi warga Tenganan.
Bagi sebagian orang, Tuak dianggap minuman yang tak baik untuk kesehatan, bahkan bisa membuat mabuk bila kebanyakan minum karena mengandung alkohol. Namun berbeda bagi masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Agung, Karangasem ini. "Tuak memiliki nilai sangat penting bagi masyarakat Tenganan.
Selain sebagai prasarana upakara, Tuak juga digunakan sebagai ajang mendekatkan hubungan kekeluargaan antara masyarakat Tenganan," terang
Bendesa Adat Tenganan, I Wayan Sudarsana, beberapa waktu lalu kepada Bali Express (Jawa Pos Group). Ketika koran ini berkunjung ke Tenganan sejumlah warga terlihat duduk melingkar di halaman depan rumahnya.
Dengan busana khas Desa Tenganan, Bendesa Adat yang memiliki kumis tipis itu terlihat menemani para tamu dan warganya menikmati Tuak. “Kalau bertamu ke Tenganan biasanya memang begini, disuguhi segelas Tuak dan daging babi goreng sebagai camilannya. Nah, kalau gak ikut minum artinya tidak menerima sambutan kekeluargaan kami,” ujar Sudarsana.
Menurutnya, tradisi yang telah ada sejak dahulu ini bertujuan untuk mempererat tali kekeluargaan. “Jadi, tradisi matuakan di sini tak hanya ditujukan bagi para tamu saja. Ini juga untuk sesama warga. Gelas yang digunakan hanya satu, sebagai simbolisasi bahwa kita semua sama dan sederajat. Mau dia berkasta, mau dia bos perusahaan ataupun pejabat tinggi, tetap menggunakan gelas yang sama,” ujarnya.
Tenganan yang memiliki luas 9,52 km persegi tersebut hanya 8 persennya digunakan sebagai pemukiman penduduk. “Nah itulah keunikan desa kami. Luas wilayah kami kurang lebih 9,52 km persegi, itu terdiri dari wilayah desa, hutan, serta perbukitan. Hanya 8 persennya yang kami gunakan sebagai tempat tinggal. Sisanya kami gunakan sebagai perkebunan dan dibiarkan menjadi wilayah hutan lindung,” ujar Ayah tiga orang anak ini.
Dikatakannya, dengan area yang begitu luas serta banyaknya potensi alam berupa pohon lontar, membuat masyarakat Tenganan sangat bersyukur. “Nenek moyang kami mengajarkan tentag hidup sederhana yang dekat serta kembali ke alam. Kami tidak begitu butuh lowongan pekerjaan di luar. Kami tidak terpengaruh tentang sulitnya mencari pekerjaan, sebab dengan semua yang kami miliki, kami bisa hidup dengan sederhana dan damai,” ujarnya.
Meski demikian, pendidikan baginya dinilai sangat penting. “Meski kami dikenal hidup dengan tradisi kuno, namun tidak begitu dengan pola pikir kami. Bagi kami pendidikan sangat penting. Lewat pendidikan kami bisa mengolah apa yang kami miliki menjadi sesuatu yang bernilai,” paparnya.
Ia menjelaskan, dengan kondisi geografis yang memiliki banyak pohon Lontar, membuat masyarakat kreatif menjadikan hal itu menjadi bernilai. “Wilayah kami banyak ditumbuhi pohon Lontar. Buahnya bisa kami jadikan Tuak, daunnya juga kami kreasikan menjadi media lukisan. Dari semua itu kami dapat meraup keuntungan yang cukup tinggi. Meskipun hal itu berimbang dengan pengeluaran biaya adat yang juga cukup tinggi,” jelasnya.
Sudarsana menjelaskan, kualitas buah Lontar yang dihasilkan di Tenganan serta proses fermentasinya yang alami membuat minuman Tuak yang dihasilkan berkualitas tinggi. “Jelas berbeda. Metode pemilihan buah Lontar yang akan digunakan memiliki cara dan hari pemetikan khusus, tidak sembarangan. Selain itu, pohonya yang tumbuh subur tanpa pupuk buatan tanpa pestisida juga memengaruhi. Dan, yang terpenting adaah proses fermentasinya. Kalau diluar kan belum jadi udah dijual, makanya rasanya sepet. Kalau disini benar – benar kita perhatikan kapan itu layak dikonsumsi, kami kontrol semuanya dengan baik,”ujarnya. Sudarsana menyampaikan, Tuak Tenganan asli tidak dijual sembarangan di pinggir jalan. “Ingat Tuak asli Tenganan ya adanya di Tenganan. Jangan mudah tertipu dengan iklan pedagang Tuak di pinggir jalan. Kadang banyak yang protes, padahal mereka beli Tuak Tenganan yang palsu. Saya imbau konsumen harus lebih berhati – hati,” paparnya.
Tuak memang kerap jadi oleh oleh bila berkunjung ke Tenganan. Namun, kalau ingin yang lebih unik bisa beli kalender yang dibuat dari Lontar, telur hias, kerajinan ata, dan kain Gringsing.
Produk kerajinan khas Tenganan ini dijual mulai dari pintu masuk hingga rumah-rumah penduduk yang setiap rumahnya memang memiliki spot khusus untuk memajang beragam jenis kerajinan. Kalender yang terbuat dari daun Lontar ini, berisi urutan waktu yang sesuai dengan sistem penanggalan kalender Bali pada umumnya. Selain dibuat kalender, gulungan Lontar ini juga ada yang ditulisi cerita pawayangan, seperti Ramayana dan Mahabharata.