BALI EXPRESS, PETITENGET - Pantai Petitenget merupakan salah satu destinasi favorit yang terletak di Desa Pakraman Kerobokan. Pantai Petitenget kini memiliki ikon baru, yakni sebuah patung raksasa Bhuto Ijo yang berdiri tegak di sisi kanan dekat pintu keluar.
Bendesa Pakraman Kerobokan AA Putu Sutarja, mengatakan, Bhuto Ijo sangat terkait dengan histori Petitenget. Kisah kesetiaan Bhuto Ijo menjaga kotak peti Pedanda Wawu Rauh memang sudah menjadi legenda.
Isu tentang betapa seram dan tengetnya wilayah Pantai Petitenget, lanjutnya, juga diyakini karena keberadaan Sang Bhuto Ijo. “Percaya tidak percaya, kami masyarakat adat yang lahir dan tinggal di sini meyakini bahwa ia memang ada. Itu dibuktikan dengan keberadaan Pura Petitenget yang masih berdiri kokoh hingga saat ini,” jelas Bendesa Pakraman Kerobokan AA Putu Sutarja
Konon, dahulu Pantai Petitenget dihuni oleh seorang raksasa bernama Bhuto Ijo. Ketika Pedanda Wawu Rauh melewati pantai tersebut untuk menuju Pura Uluwatu, ia bertemu dengan raksasa berwajah menyeramkan. Namun, dengan tutur yang halus, Pedanda Wawu Rauh akhirnya memberi Bhuto Ijo sebuah tugas untuk menjaga sebuah kotak pecanangan miliknya. Demi menjalankan tugas tersebut, Pedanda Wawu Rauh yang juga dikenal sebagai Dang Hyang Nirarta, memberi kekuatan kepada Bhuto Ijo. Merasa dihargai, Bhuto Ijo benar – benar menjalankan tugasnya dengan baik. Karena rasa kesetiaan yang begitu besar, akhirnya Bhuto Ijo menyerang siapapun yang mendekati kawasan tersebut.
“Nah, karena Bhuto Ijo ini menyerang siapapun yang datang, ia bahkan membuat wabah penyakit, akhirnya masyarakat menjadi resah. Berkat petunjuk dari Pedanda Wawu Rauh, akhirnya masyarakat membuatkan palinggihan untuk Ida Bhatara Labuhan Masceti dan sebuah palinggih untuk Bhuto Ijo.
Berdasarkan kisah tersebut, maka Desa Pakraman Kerobokan akhirnya memutuskan membuat sebuah ikon berbentuk Bhuto Ijo. “Kisah itu bisa jadi juga sebagai ciri khasnya Pantai Petitenget. Di sisi utaranya, kami juga sediakan space untuk tempat patung Pedanda Wawu Rauh nanti,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra