Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

PSN dan Disbud Denpasar Gelar Mebayuh Sapuh Leger Massal

I Putu Suyatra • Senin, 24 September 2018 | 17:01 WIB
PSN dan Disbud Denpasar Gelar Mebayuh Sapuh Leger Massal
PSN dan Disbud Denpasar Gelar Mebayuh Sapuh Leger Massal


BALI EXPRESS, DENPASAR - Prosesi Mebayuh Sapuh Leger secara massal pada Sabtu (22/9) lalu digelar di Pura Maospahit, Denpasar. Ritual yang dilaksanakan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan diikuti sekitar 400an lebih peserta.


Ketua PSN Kota Denpasar Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta menjelaskan, makna prosesi Mebayuh Sapuh Leger tersebut merupakan sebuah prosesi yang dilakukan dengan tujuan membuang segala kekotoran yang dibawa, karena waktu kelahiran pada Wuku Tumpek Wayang. “Dalam Lontar Kala Tatwa dijelaskan, Wuku Tumpek Wayang itu adalah waktu kelahiran yang tenget dan buruk. Karena sifat Bhatara Kala akan mempengaruhi karakkter anak-anak yang terlahir pada wuku tersebut. Maka itu, sebaiknya bagi mereka yang terlahir pada Wuku Wayang harus Mebayuh Sapuh Leger minimal sekali seumur hidup. Lebih dari sekali justru semakin bagus,” jelas Dodi


Ada beberapa dampak yang bisa terjadi jika seseorang yang terlahir pada Wuku Wayang tidak melaksanakan upacara mebayuh. Dimana mereka yang terlahir pada waktu tersebut biasanya memiliki karakter keras, kasar dan susah diberitahu. Untuk mengubah pengaruh kala yang identik dengan kasar dan keras, maka perlu dilakukan upacara mebayuh. “Mungkin kalau secara sekala tidak ada dampaknya jika tidak mebayuh. Tapi secara niskala mungkin akan lebih baik jika mebayuh,” jelasnya.


Dodi menambahkan, prosesi Mebayuh Sapuh Leger terdapat dalam empat dasar sastra, yaitu Lontar Kala Tatwa, lontar Kala Tatwa Purana, Lontar Tangtu Pagelaran dan Lontar Siwa Gama. “Disana dikatakan, jika seorang anak yang lahir pada Wuku Wayang tidak mebayuh, maka dia hanya memiliki kesadaran maya. Artinya dia menganggap tubuh kasarnya sebagai jati dirinya. Padahal jati diri seseorang adalah atman dan karma baiknya,” tegasnya.


Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar I Gusti Ngurah Bagus Mataram ketika ditemui di sela-sela prosesi ini mengatakan, kegiatan mebayuh massal ini merupakan salah satu prosesi yang masuk dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan. “Salah satunya adalah pemerintah daerah wajib mendukung kegiatan prosesi adat serta melindungi  keberadaan cagar budaya, baik berupa benda maupun tak benda,” ujarnya. Seraya menyebut anggaran untuk upacara ini berasal Pemkot Denpasar, dengan total anggaran sekitar Rp 50 juta.


Disisi lain Ketua Tim Pelaksana, Pinandita Wahyu Primayukti menuturkan, prosesi mebayuh ini dimulai dengan Tari Topeng Sidakarya. Kemudian dilanjutkan dengan tedunnya Ratu Ayu yang berkolaborasi dengan Jero Dalang. “Pebayuhan kali ini dipimpin Jro Dalang Ida Bagus Merta Tenaya, Griya Tegal Beji Denpasar. Peserta yang mengikuti pebayuhan hari ini, jauh melampaui target awal. Target awal hanya 300 peserta, tapi yang mengikuti acara hari ini sampai 400an orang,” ujar Primayukti.


Para peserta tersebut tak hanya mereka yang berasal dari Denpasar. Tapi ada juga yang dari luar kota, hingga mereka yang berasal dari Pulau Sumatera.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tradisi