BALI EXPRESS, DENPASAR - Tepat Sabtu (12/1) lalu Karya Agung Yajnya Nangluk Bhaya Marbhu Bhumi Mahayu Ayuning Bhuwana digelar di Lapangan Timur Bajra Sandi, Renon, Denpasar. Karya ini dilangsungkan untuk ngarastitiang Jagat Kertih, Jnana Kertih, dan Niti Praja Shanti.
Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba dari Griya Sakti Manuaba, Ubud menjelaskan, karya ini bertujuan mengharmonisasi seluruh isi alam, dan menciptakan kedamaian manusia. Karya yang baru pertama kali digelar di lapangan umum itu, dimaksudkan untuk menyucikan kembali bumi, alam semesta, dan manusia dari sifat-sifat negatif. Karena itu, melalui Marbhu Bhumi, alam semesta dilimpahkan energi suci melalui rangkaian upacara.
Seperti diketahui, beberapa bencana sempat melanda Bali dan sebagian wilayah nusantara. “Oleh karena itu, upacara dilakukan di lapangan, karena di sinilah menjadi pusat. Seperti yang terlihat, setiap sudut lapangan ini ada catus pata, bahkan bisa kita sebut catur catus pata,” kata Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba.
Ditambahkan, berdasarkan lontar Loka Sangkara Bhumi, hal-hal yang negatif di bumi dapat dinetralisir melalui upacara dan doa. Maka, Yajna Marbhu Bhumi ini digelar, yang disebut juga sebagai golongan upacara tingkat tinggi. Terlebih upacara puncak yang berlangsung pada Saniscara Paing itu melibatkan seluruh tokoh Hindu dari multi tradisi.
Ini tampak dari kehadiran beberapa tokoh supranatural hingga tokoh dari lintas agama, termasuk tokoh Hindu di Bali sampai India, bersama beberapa unsur pemerintah. Acara ini sendiri turut disokong Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Ashram Paramadharma, Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif (FKPPA) Bali, Pinandhita Sanggraha Nusantara (PSN) Bali, dan Pemprov Bali. “Kami mencoba mengkolaborasi seluruh ritual ala Hindu, baik secara tradisi Bali, maupun ritual yang berlaku di India,” imbuhnya.
Tidak itu saja, rangkaian upacara juga diisi dengan kirab Merah Putih. Penambahan kegiatan kirab ini, guna menunjukkan kepada berbagai pihak dalam upaya menyerukan pesan perdamaian. “Karena walaupun kita berbeda, kita wajib menyerukan pesan persatuan. Kedamaian bernegara tak bisa lepas dari kedamaian beragama,” bebernya.
Sedangkan penggagas acara Rasa Acharya Praburaja Darmayasa, dikatakan Marbhu Bhumi adalah ritual nyomia jagat. Sebagai wujud keprihatinan, beberapa persoalan yang menyangkut kedamaian politik, ekonomi, dan lainnya menjadi problem serius. Meski tak dialami Bali secara hebat, namun fenomena tersebut mengetuk hati tokoh di Bali. “Khususnya kami di Ashram Paramadharma. Oleh karena itu acara ini digagas,” ucapnya.
Untuk rangkaian upacara didahului dengan pencarian air suci dari 1.008 titik sumber air di India. Bahkan pihaknya sampai mengunjungi Himalaya hingga Sungai Gangga untuk mencari kelengkapan upacara Marbhu Bhumi.
Tak hanya itu, panitia karya juga telah mencari tirta dari 15 pura utama di Bali. Di antaranya Pura Batur, Lempuyang, Andakasa, Silayukti, Goa Lawah, Dalem Ped, Uluwatu, Pucak Mangu, Besakih, Pasar Agung, Melanting, Pulaki, Kerta Kawat, Pura Purusada, dan Pura Bangun Sakti di Kapal.
Kemudian pada 6 Januari 2019, panitia karya melakukan jejak spiritual ke beberapa sumber air di Bali yang diyakini suci. Ada 33 sumber air (bulakan) yang dijadikan air suci pelengkap upacara. Juga air dari 33 pancuran, air danau, sungai, dan pantai. “Untuk acara puncak, dilakukan prosesi mendak lingga, yaitu Ida Bhatara yang berstana di Uluwatu kami stanakan untuk sementara di area Bajra Sandi, sebagai penuntun karya atau pengerajeg karya,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Acara Ida Bagus Surya Miasa menjelaskan, ritual yang dilakukan saat Yajna Nangluk Bhaya Marbhu Bhumi berbeda dengan rangkaian upacara yang dilakukan di pura-pura pada umumnya. Hal yang berbeda, yakni kolaborasi multi tradisi dan keberagaman yang menjadi ciri pembeda dari rangkaian upacara.
Dia menyebut, ada prosesi Mendak Pula Kerti, yakni semua isi alam (pala bungkah dan pala gantung) yang diperoleh dari penjuru Bali. Kemudian di pasupati di Griya Sakti Manuaba Ubud. Selanjutnya ada prosesi melasti ke Pantai Mertasari. Ngingsah yakni persembahan sarana upacara yang berisi bahan pokok seperti beras, injin, atau lainnya.
Prosesi berlangsung dengan dipuput 14 sulinggih, dimana upacara dimulai pukul 12.00 dan diisi beragam ritual dengan konsep ibu pertiwi, akasa, dewata Nawa Sanga, Ida Bhatara Lingga Munggah ring Sanggah Tawang, Mepuer, dan lainnya.
“Ada banyak sesaji atau sarana upacara yang ditujukan kepada bumi, danau, laut, dan langit disiapkan. Kemudian prosesi Murwa Daksina sebanyak tiga kali. Pementasan tari Rejang Sari, ngeruak caru untuk pertiwi (bumi), caru akasa (langit) berupa pelepasan aneka jenis burung, dan laut berupa kambing selem (hitam),” terang pria yang biasa dipanggil Gus Aji Bima Sakti.
Tak lupa, di akhir acara juga dipentaskan cberjudul “Gesing Waringin” oleh Sanggar Bima Sakti Griya Anyar Basangtamiang, Desa Kapal, Mengwi. Pementasan yang dilakukan di Bajra Sandi disebut mampu menimbulkan energi yang besar, karena dilakukan di pusat catus pata Bali. “Karena sangat baik calonarang itu dipentaskan di pempatan (simpang empat), marga tiga, setra (kuburan) dan wewidangan (area) Pura Dalem,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra