BALI EXPRESS, JEMBRANA - Anak adalah salah satu impian pasangan yang telah menjalin ikatan rumah tangga. Kehadiran anak akan menambah kebahagiaan suami-istri. Kelak, di pundak anaklah orang tua menitipkan masa senjanya.
Dalam Agama Hindu, dikenal istilah ‘Suputra’ yang berarti anak baik. Dan, tentunya para orang tua berharap bisa memperoleh anak yang Suputra.
Menurut kajian Dasa Aksara dan Kanda Empat oleh Pasraman Sastra Kencana, sesungguhnya anak suputra bisa dirancang sejak benih berumur satu bulan dalam kandungan. Caranya, lewat doa-doa yang baik sesuai dengan tattwa sastra, sehingga saat anak lahir bisa membawa mukjizat bagi orang tua. “Meritualisasi anak sejak kandungan berumur satu bulan adalah sebuah proses yang seharusnya dilakukan demi bisa melahirkan anak-anak yang penuh berkah,” ungkap Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Wayan Budiarsa, pekan kemarin di Jembrana.
Ia menjelaskan, berdasarkan tattwa sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat dengan jelas dinyatakan, tubuh manusia terdiri dari dua badan, yaitu jasmani dan rohani. Jasmani terbentuk dari Panca Maha Bhuta, sedangkan rohani atau jiwa terbentuk dari atma dan roh suci Hyang Manumadi.
Lebih lanjut dipaparkan secara rinci, bahwa atma terbentuk dari 10 pancaran sinar suci Tuhan yang datang dari segala arah dan bersumber dari Swah Loka. Sedangkan roh suci berasal dari Surga atau Suargan yang berada di Bwah Loka. Sementara badan yang terbentuk dari Panca Maha Bhuta berasal dari Bhur Loka.
Berdasarkan hal itu, kata pria yang akrab disapa Guru Nabe Budiarsa ini, manusia tercipta dari unsur darah umur satu bulan. “Jika kita jeli dan memahami tattwa, sungguh kesempurnaan itu dapat dibentuk dari penciptaan janin umur satu bulan agar terbentuk badan atau raga yang sempurna, juga jiwa dan roh yang sempurna pula," terangnya. Bagaimana caranya?
"Lewat ritual suci supaya jiwa dan raga memiliki keseimbangan dalam pembentukan. Hasilnya telah puluhan anak-anak terlahir dari proses Ritual Kama Reka, Pangreka Sarira Pawetuaning Manusa,” terangnya. Berdasarkan kajian ilmiah, lanjutnya, manusia di awal terbentuk dari gumpalan darah. Tattwa Kanda Empat pun menyebut begitu. Terbukti darah terbentuk dari unsur api atau panas. Di saudara empat, yang memiliki unsur panas itu disebut Wayah lalu jadi Wayan yang berarti Wayahan. Unsur darah ini setelah mendapat proses kuat menjadi Detya, namanya I Merajapati karena hidup liar di kuburan dan jalanan. “Saking panasnya, setelah mendapat proses penyucian, lalu berubah menjadi sumber kekuatan yang disebut I Krodha,” ujarnya.
Setelah disucikan lagi, maka saudara empat pun ikut disucikan. Sifat panas, berikut kasar dan keras I Krodha dihilangkan. Akhirnya menjadi netral dan diberi nama I Ratu Wayan Tabeng Sakti. Namun, karena tetap memiliki unsur panas dan sebagai pengendali unsur panas, pengendali makhluk gaib yang berasal dari berbagi tempat angker, maka I Ratu Wayan Tabeng Sakti tetap dibuatkan tempat di luar pekarangan, yaitu menjadi dewaning Lebuh. “Tabeng bermakna tutup. Maka beliau bertugas menutup pintu pekarangan rumah agar tidak dimasuki aura negatif atau aura panas yang ada diluar rumah,” jelasnya.
Soal proses Kama Reka Ngardi Suputra, Pinisepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti ini, menjelaskan beberapa langkah. Dimulai dengan bulan pertama pembentukan darah atau gumpalan darah. Karena darah bersifat panas, maka reaksi sang ibu saat hamil satu bulan suhu tubuhnya meningkat. "Apabila tubuh sang ibu kekurangan zat atau vitamin tertentu dalam kesempurnaan pembentukan darah dan daging, maka sang ibu akan minta makanan tertentu yang sangat diidamkan. Inilah yang disebut Ngidam,” ungkapnya.
Sesuai sifat pembentukan gumpalan darah yang panas dan panas adalah sumber tenaga atau kekuatan, maka pada bulan pertama hamil sang ibu wajib minum air bunga tunjung atau teratai merah. Sebelum air itu diminum, tentu harus didoakan dulu di Kamulan ruang paling Selatan, mohon kepada Brahma Saraswati Dewi dan I Ratu Wayan Tabeng Sakti, agar pembentukan darah bisa sempurna. “I Ratu Wayan membentuk badan darah dan daging dari unsur api, dan Brahma memberi urip agar darah itu memiliki kekuatan dan ketahanan untuk terus hidup,” jelas Guru Nabe yang tinggal di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana.
Upakara yang diperlukan cukup pajati. Biarkan air bunga tunjung merah itu semalam di Kamulan. “Saat itu juga mohon agar segala kotoran dan penyakit pembawaan sang jabang bayi dilebur geseng oleh Brahma Saraswati Dewi,” katanya.
Pada usia kandungan dua bulan, dilanjutkan memohon kepada Bhatara Wisnu Sri Dewi yang diiringi I Ratu Nyoman Sakti Pangadangan. Saat ini dibentuk rancangan kepala dan kerangka tubuh dan tulang. Saat dua bulan, bayi sudah memanjang dan membentuk kepala besar. “Mohon kepada Wisnu agar ngurip proses pembentukan kepala sehingga sempurna dan tulang-tulang yang kuat, serta mohon agar segala dosa atas ucapan kata-kata diparisuddha oleh Bhatara Wisnu. Termasuk diberi kemurahan amerta dan rezeki kelak, setelah lahir jadi manusa utama,” ujarnya.
Sarananya berupa pajati serta air bunga tunjung biru, dihaturkan di Kamulan ruang paling utara. Berdoa sore hari, minum airnya pagi hari. “Jika dalam pembentukan kepala dan tulang ternyata banyak zat yang kekurangan, maka sang ibu akan ngidam lagi. Jika diteliti, pasti yg diminta makanan yang mengandung zat pembentuk tulang,” katanya.
Pada bulan ketiga, kembali menghaturkan pajati bunga tunjung putih di kamulan ruang paling tengah. Tujuannya, memohon kepada Iswara-Uma Dewi dan Bhatara Kawitan yang diiring I Ratu Ngurah Sapuh Jagat untuk membentuk kulit dan jantung dan Bhatara Iswara memberikan urip, lalu Bhatara Kawitan menjaga sang jabang bayi dengan anugerah idep atau pikiran yang cerdas. Bhatara Surya menyatukan seluruh sinar suci Dasa Dewata memberi kekuatan pada pikiran sang jabang bayi, lalu Bhatara Leluhur menjaga sang ibu agar jauh dari segala cobaan dan godaan. “Berdoa sore hari, minum airnya pagi hari. Jika sang ibu masih kekurangan zat untuk membentuk kulit dan jantung, pasti ngidam lagi. Biasanya makanan yang mengandung zat pembentuk kulit,” jelasnya.
Pada bulan keempat, kata pria 52 tahun itu, kembali menghaturkan pajati plus air bunga tunjung kuning di Kamulan rong tengah. Tujuannya, memohon kepada Bhatara Mahadewa yang diiring I Ratu Made Alangkajeng untuk membentuk urat saraf dan ginjal, serta Mahadewa yang memberi urip pada ginjal dan saraf-sarafnya supaya memiliki kekuatan dan susunan saraf yang sempurna di seluruh bagian tubuh. “Biasanya bulan keempat sudah tidak ngidam lagi. Kecuali kebiasaan sang ibu selama hidup terlalu pilih-pilih makanan dan tidak pernah makan yang bergizi lengkap. Maka, saat pembentukan saraf pun masih kekurangan zat. Lakukan yang sama, sore berdoa pagi diminum air bunganya,” katanya.
Pada bulan keempat, Sang Catur Sanak telah bersatu membentuk tubuh manusia. Energi empat unsur telah menjadi unsur pembentuk tubuh. Unsur api membentuk darah dan daging. Unsur air membentuk tulang dan sumsum. Unsur angin membentuk kulit. Unsur sinar membentuk urat saraf. “Maka yang kelima adalah unsur pertiwi menyempurnakan pembentukan tubuh manusia, sehingga terbentuklah tubuh dengan energi lima unsur,” jelasnya.
Nah, pada bulan kelima si ibu melakukan palukatan ke segara. Mohon kepada Bhatara Baruna Sakti agar segala penyakit yang dibawa oleh sang ibu dan sang jabang bayi dilebur dan dihilangkan di segara. “Simbolnya, dengan membuang sedikit kain yang diikatkan di pinggang untuk dibuang ke laut sebagai pertanda membuang sial dan segala penyakit. Sehingga sang jabang bayi benar-benar sempurna, karena sang jabang bayi pada umur lima bulan memang sudah sempurna terbentuk,” paparnya.
Datang dari laut, dilanjutkan upacara di merajan. Pertama, puja pangrekaning bhuana sarira. Sanghyang Panca Maha Bhuta mamurti angreka kulit daging, otot, tulang, muah pancering sarira ngardi angreka sang jabang bayi,
Sanghyang Panca Dewata angurip papusuh anerus ring kulit,
Brahma angurip hati anerus rah daging,
Mahadewa angurip ungsilan anerus ring urat saraf, Wisnu angurip ampru anerus ring tulang sumsum,
Siwa angurip pancering sarira anerus sarira kabeh, Brahma Saraswati angreka angurip bayu,
Wisnu Sri Dewi angreka angurip sabda, Iswara Uma Dewi angreka angurip idep, Bhatara Kawitan muah leluhur angrumaksa pratisentana sang jabang bayi ring gua garba sang ibu.
Setelah selesai, lanjutkan dengan upacara Magedong-gedongan, yaitu memasukkan bayi ke gedong kesuma jati atau cecupu manik sang ibu. Beryogalah sang bayi dijaga oleh Bhatara Kawitan, dibentuk oleh Sanghyang Panca Maha Bhuta. Dihidupkan oleh Sanghyang Panca Dewata.Dijelaskannya, bulan kelima adalah sempurnanya bayi berada dalam kandungan. Selanjutnya memohon pada Bhatara Kawitan disaksikan oleh Bhatara Surya Candra Lintang Tranggana dan Trio Dasa Saksi, mohon agar para leluhur hyang maha suci terhindar dari dosa dan bahaya. Diliputi amerta Maha Pawitra Panca Amerta. Diharapkan yang manumadi adalah roh suci.
Pada bulan keenam, kembali menghaturkan pajati dengan bunga tiga warna di Kamulan. Mohon kepada Bhatara Guru dari Sanghyang Dasa Dewata agar membentuk atma yang sempurna yang terbentuk dari Dasa Atma.
Atmanya jantung disebut Sang Niratma, Atmanya hati Sang Tattwatma, Atmanya ginjal Sang Suratma, Atmanya empedu Sang Diratma. Atmanya pangkal hati Sang Siwatma. Kemudian, Atmanya paru-paru Sang Kwatma, Atmanya lambung Sang Adiatma, Atmanya limpa Sang Paraatma. Selanjutnya,
Atmanya ineban Sang Suniatma
Atmanya pangkal jantung Sang Atma Sami. “Kesepuluh Atma itu akan menghidupkan dan menyempurnakan 10 organ utama bayi, dan yang memberi kekuatan Atma itu adalah Sanghyang Dasa Dewata. Kelak jika kita meninggal, kesepuluh Atma itu akan kembali keasalnya dan moksah bersama sinar-sinar suci Tuhan yang datang dari segala arah,” papar Guru Nabe Budiarsa.
Selanjutnya mohon kepada Hyang Manumadi agar kukuh bakuh langgeng sampurna ngrumaksa sarira sang jabang bayi. Pageh pager nyibeh nyengker sang ibu. Ngerka sang jabang bayi, angelpas ala sengkala anolak ala baya.
Menginjak bulan ketujuh, mohon kepada Sanghyang Sapta Dewata agar ngurip Sapta Cakra atau simpul-simpul saraf sang jabang bayi. Sehingga saling bersinergi mengatur sistem metabolisme tubuh, supaya tidak mudah sakit, menyempurnakan sistem jaringan saraf-saraf agar menjadi sempurna.
Di bulan kedelapan, mohon kepada Ista Dewata dan para dewa datang dari segala arah untuk menerangi jiwa raga. Memberi kecerdasan kepada sang jabang bayi dan melepaskan segala sifat kegelapan atau dohing sarwa bhuta kala mamilara mamiruda.
Terakhir, pada bulan kesembilan, memohon kepada Hyang Maha Ibu-Hyang Maha Ibapa, bumi dan langit, membuka jalan sembilan arah atau angruak marga sanga angamet amerta bhuana. Karena sang jabang bayi keluar dari cecupu manik gua garba sang ibu. Keluar dari baga sarira sang ibu. Memohon agar diberi keselamatan, tiada yang menghalangi dan mencelakai. “Semua upacara itu dilakukan di merajan, cukup dengan banten pajati,” tegasnya.
Bagaimana jika tidak bisa berdoa dengan bahasa yang disuratkan itu? Guru Nabe Budiarsa mengatakan, doa harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan. “Tentunya tidak bisa sembarang doa karena berkaitan dengan doa pangreka dan pangurip. Namun, jika tidak bisa, dengan niat hati tulus ikhlas, ngerti dan paham maksud dan tujuan mapinunas, walaupun memakai Bahasa Indonesia, sesungguhnya sangat boleh. Karena Tuhan mengerti semua bahasa,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna