BALI EXPRESS, DENPASAR - Kekerasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang, merupakan bentuk kekerasan multidimensi yang menyerang bangunan fisik sekaligus mental sosial. Namun sayang, tak banyak dipahami bahwa dengan yoga sejatinya bisa meredakan laku temperamental itu.
Simbol -simbol kekerasan yang terjadi belakangan ini dengan cara menghasut, menyerang, merusak, menghancurkan mental dan fisik lingkungan, hingga mengakibatkan kegelisahan dan kerawanan pada tubuh fisiologi dan psikologi masyarakat.
Dikatakan Instruktur Yoga I Gusti Made Widya Sena S.Ag.,M.Fil.H, berbagai latar belakang penyebab kekerasan muncul, bermuara pada dua hal utama, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang memengaruhi perilaku seseorang yang berasal dari dirinya sendiri, seperti emosi, persepsi, dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang memengaruhi perilaku seseorang yang berasal dari luar dirinya sendiri, seperti nilai dan komunikasi dengan lingkungan, komunitas, grup, dan organisasi.
Layaknya dua sisi mata uang, lanjut Widya Sena, faktor internal maupun eksternal dapat memberikan manfaat untuk kebaikan, kedamaian, keharmonisan dan cinta bagi tubuh dan lingkungan. Sebaliknya juga, kedua faktor tersebut juga dapat membawa dampak negatif bagi diri dan lingkungan sosial seperti tindak kekerasan.
Untuk itulah, lanjut pria kelahiran 18 April 1983 ini, rasa empati dan memahami hakikat diri sangat diperlukan untuk terus dikedepankan demi terwujudnya hidup yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. "Yoga adalah salah satu jalan untuk mewujudkan cinta dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena yoga adalah jalan untuk merasakan, melihat dan memahami realita diri," papar Widya Sena kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.
Tak disanggahnya bahwa sedikit orang yang mengenal dan memahami yoga adalah jalan cinta. "Selama ini sebagian besar yoga yang dipraktikkan di dunia digunakan sebagai media dan sarana olah tubuh biasa yang menyehatkan tubuh dan pikiran, layaknya seperti senam biasa. Tapi sebenarnya melampaui itu semua, jalan yoga adalah jalan cinta, jalan bhakti, jalan penyatuan dan jalan pencerahan spritual," urai Widya Sena yang juga dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini.
Dikatakannya, kerinduan seseorang pada kesadaran spritual mengantarkannya pada cinta dan bhakti yang begitu mendalam, dengan menghilangkan berbagai batasan yang membelenggunya. "Berbagai sekat ruang dan waktu, warna kulit, suku, ras, bangsa, usia, bahasa dan budaya dilepaskannya dengan harmoni. Praktek yoga yang dipraktikkan tidak hanya memberikan manfaat yang positif pada tubuh fisik dan pernapasan saja melainkan juga dapat memberikan rileksasi pada pikiran dan jiwa seseorang," imbuhnya.
Ditegaskan Widya Sena, jalan yoga adalah tentang mengalami spiritual Anandam (kebahagiaan) dan 'merendam' hati seseorang di dalam pencerahan spiritual Ilahi. Keadaan bathin yang sejahtera yang dirasakan saat terjadi keharmonisan interaksi antara tubuh, pikiran, dan jiwa. "Sebagai cara hidup, yoga adalah jalan penemuan diri melalui Asanas dan meditasi. Yoga mempromosikan kesehatan fisik, keseimbangan mental, dan kedamaian spiritual," paparnya.
Secara spiritual, lanjutnya, yoga berarti penyatuan dan menunjuk pada keadaan tercerahkan. "Sebagai seni dan sains, yoga membantu kita mengembangkan cara hidup yang lebih sehat dan seimbang," bebernya.
Ditambahkan Widya Sena, seseorang yang melakukan praktik yoga biasanya akan merasakan perubahan dalam pergerakan tubuh fisik dan psikisnya. Kerja otot, sendi, tulang, dan seluruh organ dalam tubuh akan kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Lutut kaki yang tadinya tidak bisa diluruskan dan dicium saat duduk tegap, pada akhirnya bisa dilakukan. Pinggang yang tadinya sulit untuk diputar sekian derajat, pada akhirnya bisa dilakukan. Begitupula dengan organ tubuh lainnya akan mengalami proses pelentukan dan fleksibilitas kembali pada sendi-sendinya seperti saat balita.
Dijelaskan Widya Sena, yoga sebagai jalan cinta merupakan refleksi dari ajaran Isvara Pranidhana dalam Kriya Yoga. Isvara Pranidhana adalah penyerahan diri kepada Tuhan, mengabdi dan merindukan akan cinta Tuhan.
Dijelaskan Widya Sena, saat seseorang melakukan yoga, maka ia akan membangun relasi dengan empat unsur, yakni dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan lingkungan, dan pada akhirnya dengan Tuhan. Dengan membangun hubungan ini, lanjutnya, seseorang akan mulai belajar dan memahami realita sang diri. Diakuinya memang pada awalnya sangat sulit, butuh waktu, proses, disiplin (sadhana), kebiasaan (Abhyasa), dan ketidakterikatan (Vairagya). "Yoga membantu kita untuk mengenal lebih dalam seberapa jauh kita mengenal dan memahami diri sendiri. Untuk itulah mengapa penyerahan diri secara total dan ikhlas kepada Tuhan adalah jalan untuk mewujudkan kesadaran spiritual dalam tubuh," ujarnya.
Menurut Widya Sena, kerinduan akan kebesaran Tuhan, akan semakin sering dirasakan saat panca indera merasa lelah dan suntuk melihat materi di sekeliling kita. Segala apa yang menjadi keinginan kita telah terpuaskan, namun berbanding terbalik dengan kondisi bathin kita yang selalu merasa kurang, seperti halnya tubuh yang kekurangan nutrisi.
"Amarah, iri hati, cemburu, sombong dan suka berprasangka buruk adalah nutrisi untuk meningkatkan ego diri. Sedangkan melakukan meditasi, refleksi diri, sembahyang dan yoga adalah nutrisi spiritual yang dapat mendekatkan diri kita dengan Tuhan," tegasnya.
Dikatakan Widya Sena, tentunya untuk dapat mengenali dan memahami hakikat diri diawali dengan pelaksanaan Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata. Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata adalah dua tangga awal dari delapan tangga dalam pendakian spiritual menurut yoga Sutra Patanjali. Seperti yang tersurat pada yoga Sutra Patanjali Bab II (sadhana pada) sutra 29 yang menyebut : Yama Nyamasana, Pranayama Pratyahara Dharana, Dhyana Samadha Yo Staw Angani. Maksudnya, pengekangan diri (Yama), kepatuhan yang mantap (Nyama), sikap badan (Asana), pengaturan pernapasan (Pranayama), penyaluran (Pratyahara), konsentrasi (Dharana), perenungan (Dhyana) dan kontemplasi (Samadhi). Semuanya ini adalah bagian dari disiplin yoga.
Sedangkan Panca Yama Brata adalah lima macam disiplin dalam mengendalikan keinginan jasmani. Bagian dari Panca Yama Brata adalah Ahimsa (tidak menyakiti,melukai, membunuh), Brahmacari (proses mempelajari pengetahuan), Satya (kejujuran dan kesetiaan), Awyawaharika (melakukan usaha menurut dharma), dan Astenya (tidak mencuri).
Sedangkan Panca Nyama Brata adalah lima macam pengendalian diri tahap mental (rohani), dimana bagian-bagiannya terdiri dari Akroda (tidak marah), Guru Susrusa (bhakti kepada guru), Sauca (suci lahir bathin), Aharalagawa (makan sepatutnya), dan Apramada (tidak sombong).
Dikatakannya, cinta dapat diperoleh dengan melepaskan semua baju ego dan materi yang melekat pada tubuh seseorang. "Semakin kita sadar dan cepat melepas baju keterikatan, semakin mudah dan cepat pula kita dekat dengan kebahagiaan. Yoga adalah jalan untuk itu, jalan bagi seseorang untuk membangun hubungan lewat komunikasi, kepercayaan, dan menumbuhkembangkan cinta dalam hatinya, serta melakoninya dalam hidup sehari-hari melalui panca inderanya," paparnya.
Dikatakannya, pada akhirnya cinta yang dipraktikkan pada diri, lingkungan, akan membawa seseorang membuka relasi hubungan kasih dengan Tuhan.
Editor : I Putu Suyatra