BALI EXPRESS, DENPASAR - Tata letak sebuah rumah di Bali mengacu pada Asta Kosala-Kosali. Bahkan, semua ada ketentuan dan perhitungannya, mulai dari membuat pintu masuk, dapur, toilet, bangunan lainnya hingga pemerajan (tempat suci). Bila keliru membuat pintu halaman rumah, ada efek yang kurang baik terhadap penghuninya.
Hingga kini Asta Kosala-Kosali masih berlaku di Bali, terlebih di Desa Bali Aga. Lantaran parameter tersebut, tak sembarang orang membangun. Melainkan ada hitungan khusus, yang juga menggunakan hitungan dari bagian tubuh pemilik rumah. “Kalau Angkul-angkul itu digunakan keluar masuk oleh manusia dan dewa. Sedangkan pintu halaman biasanya digunakan keluar masuk rumah oleh binatang dan kendaraan,” papar penulis buku Indik Wewangunan, Pinandita I Ketut Pasek Swastika kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Gianyar.
Pria yang juga Wakil Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali ini, mengakui bahwa pintu halaman rumah dapat memengaruhi keadaan pemiliknya, mulai dari hidup, sakit, rezeki hingga ketentraman di rumah tangga tersebut. Jika salah menempatkannya, lanjut
Pasek Swastika, semua komponen itu bisa menjadi kurang baik. Bahkan penempatannya juga diharapkan menyesuaikan dengan profesi si pemilik rumah.
“Bila kita sebagai pedagang, usahakan pada hitungan Dana Teka dan Wredhi Mas, itu ada hitungannya. Karena diyakani dengan hitungan tersebut, profesi sebagai dagang dapat berjalan dengan lancar dan tentram,” ujarnya.
Pasek Swastika menyampaikan, bila untuk rumah tinggal biasa, bisa dengan pilihan Danwan, Redhi Guna, Kinabakten, Wredhi Mas, Akasih Prih, dan Dana Wredhi. Dengan hitungan tersebut pada pintu halaman, maka penghuni rumah akan aman-aman saja. "Meski ada permasalahan akan bisa menemui solusinya," urainya.
Di luar dari ketentuan yang disebutkan, Pasek Swastika menyarankan agar tidak digunakan. "Ketika hitungan lain dari ketentuan yang digariskan tersebut, bisa saja terjadi kapiambeng (hambatan) dalam satu pekarangan tersebut. Mulai dari perceraian, sampai kepanasan secara niskala dalam satu halaman itu. Apalagi ketika menggunakan hitungan Stri Jalir. Saat itu akan terjadi perselingkuhan istri dengan orang lain. Ada juga yang disebut dengan Kabrahmanan berarti kepanasan dan lainnya,” ungkapnya.
Ketika disinggung soal keterbatasan lahan, pria asal Jembrana ini memberikan solusi untuk menyiasatinya dengan menghaturkan pacaruan.
Selain pacaruan, ia menyarankan agar dalam pintu halaman rumah diisi dengan patung Ghana atau Ganesa yang fungsinya sebagai penetral dan penolak energi negatif. Namun, lanjutnya, patung tersebut tidak hanya ditaruh begitu saja, melainkan dipersembahkan banten saiban, secangkir kopi, labaan lainnya. “Bisa disiasati juga dengan pacaruan sesuai peruntukkannya, ” tandasnya.
Banten saiban dilakukan setiap pagi selesai memasak. Juga secangkir kopi atau sejenisnya, dan permen setiap hari. Selain itu, tetap menyalakan lampu minyak kelapa setiap malam. Dengan cara seperti itu, pemilik rumah diperkirakan akan tentram-tetram saja. Pasek Swastika juga menyampaikan, penempatan pintu halaman rumah juga sangat tidak baik jika berhadapan langsung dengan pintu halaman tetangga. Dengan demikian, ia juga menyarankan agar ditempatkan juga Patung Ghana agar terhindar dari hal –hal yang tidak baik.
Bila terlanjur dengan adanya pintu halaman rumah yang diyakini sebagai penyebab tidak tentramnya isi rumah, lanjutnya, bisa dilakukan pacaruan Pamahayu Karang Panes. “Bisa disiasati dengan dua langkah, dengan Ngupahayu Karang dan Caru Palemahan,” ungkapnya.
Ngupahayu Karang dilaksanakan guna menjaga keselamatan penghuni pekarangan. Bisa juga
dengan membangun Padma Andap (Capah) di depan pekarangan rumah bagian luar dari tembok panyengker, menghadap ke jalan atau sungai maupun got yang ada depan rumah. Sedangkan Caru Palemahan adalah caru untuk karang yang tujuannya untuk menangkal dan menetralisasi segala bentuk gangguan niskala.