Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gua Perjuangan Jadi Saksi Bisu di Desa Wisata Baha

I Putu Suyatra • Selasa, 1 Oktober 2019 | 17:30 WIB
Gua Perjuangan Jadi  Saksi Bisu di Desa Wisata Baha
Gua Perjuangan Jadi Saksi Bisu di Desa Wisata Baha


MENGWI, BALI EXPRESS - Desa Baha di Kecamatan Mengwi, Badung, menjadi salah satu lokasi perjuangan melawan penjajahan Jepang. Hingga kini masih ada satu tempat yang menjadi saksi bisu, yakni sebuah gua yang berada di tepi sungai.


Desa Baha, namanya muncul ketika perluasan antar kerajaan di Bali di pengujung abad ke 17. Raja Mengwi Cokorde Dimade pada tahun 1621 Caka atau 1699 Masehi, berniat memperluas wilayah kerajaan ke utara. Sasaran utama sang raja adalah wilayah Ayunan. Dalam perjalanan  menuju ke arah timur laut bersama pasukannya, Raja Mengwi menemui api yang berkobar  menembus langit. Lokasi api tersebut  diperkirakan di wilayah Alas Baha sekarang.


Raja Mengwi mengira itu adalah taktik Arya Ayunan untuk menghalangi gerak pasukannya.
Raja Mengwi bersama pasukan lantas  menghindar dari amukan api yang berkobar itu, untuk kemudian menyusun taktik selanjutnya untuk menyerang Ayunan. Selesai menyususun strategi yang baru, kobaran api pun padam. Namun, api yang sudah padam itu menimbulkan bau yang harum semerbak. Lantaran peristiwa aneh itu, rombongan pasukan Kerajaan Mengwi menyepakati nama hutan yang harum itu sebagai Hutan Alas Arum. Di kawasan hutan arum itu, kini ada sebuah pura yang juga dinamai Pura Alas Arum.


Sementara dari bekas kobaran api itu diberi nama  Alas (Hutan) Baheng. Dan, pemukiman di sebelah utara hutan juga dinamai Desa Baheng. Lambat laun nama desa berubah menjadi Desa Baha dan hutannya dikenal sebagai Alas Baha. “Baha yang orang Bali sering artikan sebagi bara atau lava panas,” ujar Bendesa Adat Desa Baha, I Made Ngastawa, 68,  saat ditemui di Kantor Desa Baha. Desa Baha selanjutnya  berkembang, ada enam banjar, yakni Banjar Pengabetan, Kedua, Gegaran, Bedil, Busana Kaja dan Busana Kelod. Desa Baha menjadi desa wisata yang ditetapkan sejak tahun 1992, karena ciri khas ukiran puranya yang masih kuno.  Warga juga mempunyai angkul-angkul yang terdesain mirip dengan yang ada di Desa Panglipuran, Bangli. Selain itu, juga terdapat gua perjuangan sebagai saksi bisu perlawanan terhadap Jepang yang masih bisa dilihat sampai saat ini.



Saat Jepang menguasai Desa Baha, tentara Jepang kemudian membuat tangsi mliternya di Alas Baha. Jepang pun membangun gudang senjata bersamaan dengan kamp tentaranya di hutan tersebut. “Tangsi Jepang sudah hancur ya, sehingga tidak bisa dilihat lag. Cerita perjuangannya pun tidak terlalu kami tahu. Cuma ada salah satu tempat yang masih kini tersisa untuk dilihat, yakni gua perjuangan,” beber I Made Ngastawa.


Warga Desa Baha yang ikut dalam perjungan dalam perlawanan terhadap Jepang ini, membuat persembunyian di sebuah gua. Gua tersembunyi ini berada di Banjar Gegaran, tepatnya di Tukad (sungai) Tusan. Di sungai yang cukup terjal ini pejuang harus masuk dengan berjalan di sungai. “Waktu saya masuk ke sungai, airnya setinggi lutut saya,” ujar Wayan Sumerta, 80. Saat melihat pintu gua, lanjtnya,  orang mesti nunduk dan ukuran pintu gua hanya cukup buat satu orang saja.

Pria yang kini punya ladang di tepi Tukad Tusan ini, menjelaskan bahwa ada lubang-lubang kecil menjadi ventilasi udara, sehingga sirkulasi udara menjadi bagus. Selain itu, area gua menjadi tidak begitu gelap karena lubang-lubang seukuran pipa paralon besar itu mampu memberi jalan sinar matahari masuk. “Ada dua lubangnya. Selain itu, di sebelah selatan dekat patung gajah di Pura Taman Tusan juga ada,” terangnya sambil menunjuk lokasi lubang.


Dia mengaku pernah menjelajah gua yang pernah dipakai para pejuang tersebut. "Jika masuk pintu gua mesti menundukkan badan. Namun saat di dalam gua bisa berdiri dengan leluasa," ujarnya.


Wayan Sumerta mengatakan ukuran gua itu memanjang dengan lebar sekitar 1,5 meter.
Gua tempat perjuangan juga memiliki batu yang bentuk layaknya tempat tidur, sehingga bisa dipakai untuk istirahat para pejuang. “Sebagai tempat persembunyian, gua memiliki tempat pemantauan lokasi sekitar. Batu yang datar di luar gua, membuat pejuang kala itu memiliki pos pantau,” ujar Wayan Sumerta sambil menunjuk posisi batu tersebut.


Kini, untuk memasuki gua perjuangan  cukup sulit karena sungai yang mendangkal yang membuat aliran air meninggi. Wayan Sumerta menerangkan, lima tahun lalu orang masih bisa masuk ke dalam gua. Bahkan, dahulu anak-anak muda sering masuk ke gua untuk melihat sejarah perjuangan melawan penjajah Jepang. “Kini sudah tidak bisa. Selain air sudah masuk ke dalam gua, bisa jadi binatang liar juga sudah banyak  tinggal di sana, di antaranya ular belang,” pungkasnya. (sueca merta)

Editor : I Putu Suyatra
#mengwi #badung