Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tidak Ada Black Magic dalam Metafisika

I Putu Suyatra • Sabtu, 5 Oktober 2019 | 17:57 WIB
Tidak Ada Black Magic dalam Metafisika
Tidak Ada Black Magic dalam Metafisika

DENPASAR, BALI EXPRESS - Ketika di Bali kerap disebut black megic, Seorang ahli hipnosis, Ketut Gede Suatma Yasa atau yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Mangku Hipno memberikan gambaran lebih detail.


Pria gondrong ini menjelaskan jika ada orang sakit dan ketika ia dicek dengan alat secanggih apapun oleh dokter, tetap tidak kelihatan penyakitnya inilah yang menurutnya disebut dengan penyakit perasaan.


“Seperti kita tahu, penyakit perasaan tidak berbentuk, jadi penyakit ini hanya bisa dideteksi lewat sikap,” jelasnya. Yang aneh menurutnya adalah ketika orang Bali menghadapi hal ini, dengan cepat ia mengatakan bahwa itu karena black magic. “Padahal sesungguhnya tidak ada black magic dalam ilmu metafisika. Black magic dalam metafisika adalah salah kita mengelola pikiran, tindakan, dan perasaan yang mengakibatkan kita menjadi sakit, gagal, miskin, hingga menderita,” tegasnya.


Ilmu hipnosis menurutnya termasuk dalam ilmu ilmiah karena ilmu ini memiliki prosedur, metode, dan dia bisa dipertontonkan dengan sistem yang nyata, bukan sistem yang tidak nyata. Bahkan ia mengatakan bahwa di luar negeri, ini dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran. “Di Amerika saat ini diyakini bahwa 90% penyakit yang diderita manusia zaman modern dan positivistik ini adalah penyakit pikiran dan perasaan,” ujarnya. “Menurut hasil penelitian, ini hanya bisa diatasi dengan ilmu psikologi dan hipnosis adalah salah satu bagian ilmu psikologi yang menitikberatkan pada bidang perasaan,” imbuhnya.


Penjelasan ilmiah orang menjadi tidak sadar menurutnya berdasarkan proses yang dilakukan oleh seorang hipnotis dengan membuat pasien ke dalam tingkat kesadaran tertentu. Ia menguraikan bahwa manusia memiliki tiga kesadaran. Pertama alam sadar disebut Beta. Di bawahnya disebut Alpha, yakni kesadaran sempurna yang mulai menurun. Selanjutnya kesadaran yang masuk ke dalam trance atau orang Bali menyebut kesurupan, itu bernama Teta. Kalau lebih dalam lagi disebut deep trance, ini disebut debagai Delta. Hal inilah yang berkaitan dengan proses penyembuhan. “Jika orang telah masuk ke dalam alam trance itu sesungguhnya ia sudah masuk ke dalam alam pikiran yang beraktualisasi gelombang yang lebih kecil. Secara ilmiah ini bisa diteliti dengan ECG (Electrocardiogram, red),” jelas alumni SMAN I Singaraja tersebut.


Mengenai efektivitas penyembuhan dengan hipnoterapi, ia yang mengaku setiap hari menerima pasien 5-10 orang dari berbagai asal di Indonesia, bahkan luar negeri seperti dari Eropa dan Amerika mengatakan bahwa sangat berhubungan dengan siapa yang melakukan dan siapa pasiennya. “Siapa pasiennya artinya sangat berhubungan dengan kemampuan dia mendengarkan, memahami, dan merasakan apa yang penghipnosisnya katakan,” ujarnya. “Lalu siapa penghipnosisnya, itu berhubungan dengan energi hipnotis,” lanjutnya.


Ia menjelaskan bahwa hipnosis murni kekuatannya tidak permanen dan hanya mengandalkan sistem komunikasi. Menurutnya masyarakat bisa melihat hipnotis modern yang di tv-tv, misalnya orang yang takut ular. Setelah diterapi menjadi berani dengan ular, tapi dalam beberapa jam dia kembali takut ular. “Tapi ketika hipnosis digabungan dengan prana atau kekuatan batin, itu akan menahan setiap sugesti yang kita berikan. Inilah hipnosis ala Hindu yang disebut Jagra Supta,” ungkapnya.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu