Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Enam Buda Kliwon Pemujaan Sang Hyang Ayu

I Putu Suyatra • Selasa, 2 Juni 2020 | 16:19 WIB
Ini Enam Buda Kliwon Pemujaan Sang Hyang Ayu
Ini Enam Buda Kliwon Pemujaan Sang Hyang Ayu

Ada enam jenis Buda Kliwon dalam setiap wuku. Setiap Buda Kliwon  berjarak setiap 35 hari. Salah satunya adalah Buda Kliwon Ugu, yang jatuh Rabu, 3 Juni 2020. Walau tidak sering disebut, namun banyak umat melaksanakan piodalan untuk palinggih Tugu Karang.

Buda Kliwon adalah hari pertemuan antara panca wara, yakni kliwon dengan sapta wara, buda (Rabu). Berdasarkan perhitungan  kalender Bali, maka Buda Kliwon jatuh setiap 35 hari sekali. Dalam satu pawukon sendiri terdapat enam Buda Kliwon. Mulai dari Buda Kliwon Sinta, Buda Kliwon Gumbreg , Buda Kliwon Dunggulan, Buda Kliwon Pahang, Buda Kliwon Matal, dan Buda Kliwon Ugu.



Dalam Lontar Sundarigama diungkapkan bahwa Buda Kliwon merupakan hari khusus untuk pemujaan kepada Sang Hyang Ayu, yakni Ngastuti Hyang Nirmala Jati. Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, 53, menjelaskan bahwa pemujaan kepada Sang Hyang Ayu bertujuan untuk memohon keselamatan di ketiga dunia ini. "Ketiga dunia yang dumaksud adalah diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta secara keseluruhan atau buana agung,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.



Dari keenam Buda Kliwon yang ada, pada umumnya paling dikenal adalah Buda Kliwon Sinta, Buda Kliwon Dunggulan, dan Buda Kliwon Pahang. Dikatakannya, ketiga Buda Kliwon tersebut lebih dikenal karena jatuh pada hari raya besar. Buda Kliwon Sinta adalah Buda Kliwon pertama yang diperingati sebagai Hari Raya Pagerwesi.



Hari Raya Pagerwesi dianggap sebagai hari payogan Sang Hyang Pramesti Guru, dimaknai bahwa ilmu pengetahuan yang telah dikaruniakan pada Hari Raya Saraswati bisa menjadi pegangan hidup manusia. Selanjutnya Buda Kliwon Dunggulan adalah hari rerahinan jagat, yakni Galungan. "Kita tahu makna Galungan sebagai kemenangan dharma melawan adharma. Saat itu adalah titik bangkitnya kesadaran dan titik pemusatan batin yang terang,” ujar sulinggih dengan nama welaka Putu Adhi Purnawan Urip.



Dijelaskan Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti,   Buda Kliwon Pahang yang juga dikenal dengan Buda Kliwon Pegatwakan ini, menurut Lontar Sundarigama sebagai putus atau berakhirnya masa melakukan dhyana semadi dalam rangka perayaan Galungan.
Pada  Buda Kliwon Pahang, lanjut sulinggih asal Peguyangan Kaja, Denpasar itu, sebagai puncak peleburan yang muncul akibat pengaruh Sang Hyang Kala Tiga telah berakhir.



Selanjutnya adalah Buda Kliwon Ugu yang terbilang kalah tenar dengan Buda Kliwon lainnya. Namun, Buda Kliwon yang  jatuh  Rabu (3/6) ini,  di beberapa tempat menjadi piodalan untuk palinggih  Tugu Karang yang diyakini
sebagai 'pecalang' niskala yang akan menjaga pekarangan rumah.



“Di beberapa tempat saat Wuku Ugu, tepatnya saat Buda Kliwon dijadikan sebagai hari piodalan Tugu Karang, yang akan selalu jatuh piodalannya setiap 210 hari sekali,” ujar tokoh umat asal Griya Padukuhan Siddha Swasti, Denpasar.
Di sisi lain, diakuinya ada juga sebagian warga desa di Bali menjadikan Penampahan Galungan sebagai piodalan Tugu Karang.
Menurut Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, piodalan yang dilaksanakan di Tugu Karang pada Buda Kliwon Ugu, sebagai wujud syukur dan rasa bakti umat kepada Tuhan, dalam hal ini di Tugu Karang sebagai kekuatan penjaga seluruh penghuni rumah  secara niskala.



Walau tidak semua menjadikan Buda Kliwon Ugu sebagai patokan untuk piodalan Tugu Karang, bagi Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti tidak masalah. "Walaupun harinya berbeda-beda, sebenarnya tetap sama saja, dan  pasti dilakukan di hari yang dianggap suci oleh umat," terangnya.



Ditambahkannya, dengan membuat piodalan, manusia bisa mendekatkan diri pada Tuhan. Melalui hari suci, umat bisa meningkatkan kualitas dirinya melalui pembersihan dan penyucian diri, manusia diharapkan mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah hidup.



Layaknya piodalan di pura pada umumnya, Tugu Karang ketika Buda Kliwon Ugu akan dihias dengan wastra, tedung dan umbul-umbul hitam putih.



Banten yang digunakan biasanya berupa banten tebasan yang terdiri dari suci asoroh, daksina pajati, dandanan, clekontong, tegteg, penyolasan, jrimpen apasang, sayut pejeg. Selanjutnya ada  sayut taman pebersihan, surya jati, merta sari dan sayut luputan, ditambah caru eka sata. Sebelum piodalan, dijalankan banten prayascita, byakaon, durmanggala dan pangulapan.



"Ada juga yang menggunakan pajati saja. Semua itu tidak masalah, dan dikembalikan sesuai desa kala patra dari tempat tinggal umat.  Perlu diingat sejatinya tidak ada kata harus banten ini atau itu dalam piodalan Tugu Karang, karena yang penting disesuaikan dengan kemampuan umat,” pungkasnya.


Editor : I Putu Suyatra
#bali #sulinggih #hindu