Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wayang Jadi Pelajaran Hidup, Simbol Sang Hyang Tunggal  

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 15 Juni 2020 | 13:00 WIB
Wayang Jadi Pelajaran Hidup, Simbol Sang Hyang Tunggal   
Wayang Jadi Pelajaran Hidup, Simbol Sang Hyang Tunggal  


 


GIANYAR, BALI EXPRESS – Masyarakat Bali sangat akrab dengan wayang, karena kerap dilibatkan untuk upacara yadnya maupun kesenian. Wayang merupakan simbol dari Sang Hyang Tunggal yang berarti palemahan atau bayangan. Bayangan yang dimaksudkan, bagaimana mengetahui sifat baik dan buruk maupun perbedaan (Rwa Bhineda). 


Dalang I Gusti Ngurah Rai Suliatmaja, tak menyanggah  bahwa wayang memang dikhususkan oleh umat Hindu Bali. “Fungsinya ada yang untuk yadnya dan kesenian, yang di dalamnya terkandung banyak ilmu atau pelajaran tentang hidup baik maupun buruk," ucap pria 53 tahun asal Banjar Sengguan Kangin, Desa Gianyar, Kabupaten Gianyar ini. 


Dikatakannya, wayang memang identik dengan Dewa Iswara. Buktinya adalah setiap pementasan wayang, seorang dalang harus menghadap ke timur sebagai simbol ulu atau kepala. Arah timur yang mengacu Dewata Nawa Sanga adalah arah dari Dewa Iswara. 


Selain itu, dalam pementasannya, wayang diceritakannya tentunya lewat suara atau ‘wak’ yang merujuk dari nama Iswara (suara) itu sendiri. "Semua pakem atau tata cara sebelum melakukan pentas, semuanya ada dalam Lontar Dharma Pawayangan. Saya sendiri menekuni pedalangan sejak 2015 lalu," ucap Gusti Ngurah Rai kepada Bali Express (Jawa Pos Grup) akhir pekan kemarin di Gianyar.


Lalu, bagaimana soal pantangan sebelum pentas? "Pantangan khusus tidak ada. Aturan khusus itu tergantung masing-masing. Misalnya kalau saya, linggihang dulu Sang Hyang Taksu di rumah, yang diiring atau dibawa ke lokasi itu taksu Catur Sanak (saudara empat)," terangnya. 


Begitu juga, setelah sampai di lokasi, sebelum memasuki angkul-angkul (pintu masuk) areal yang dituju, ada proses upacara khususnya. Bahkan, saat hendak duduk saja, ada aturan wajibnya, seperti membersihkan tempat duduk menggunakan kancut kamen. Kemudian ditambahkan pacanangan yang berisi base (daun sirih), pamor (kapur), mako (tembakau), gambir, dan buah pinang. “Cara itu merupakan simbol dari Panca Maha Bhuta, yang semua ada di lontar," ucap Gusti Ngurah Rai. 


Ditambahkannya, jenis wayang ada dua, yakni wayang untuk yadnya dan wayang untuk kesenian. Wayang khusus yadnya terdiri dari tiga, yaitu Wayang Gedog, Wayang Sudamala dan Wayang Sapuh Leger. Untuk wayang kesenian ada Wayang Ramayana, Wayang Babad, Wayang Cupak, Wayang Gambuh, Wayang ,dan Wayang Calonarang. 


"Wayang Gedog atau Pagedogan biasanya saat piodalan agung atau ngenteg linggih dan berhubungan dengan Tri Premananing Karya yang terdiri dari Sulinggih, Wayang, dan Topeng. Itu harus ada setiap piodalan yang sifatnya utama atau odalan ageng (gede),” terangnya. Kemudian, Wayang Sudamala untuk bayar kaul,


dan Wayang Sapuh Leger untuk malukat anak yang lahir di Wuku Wayang. “Sedangkan Wayang Caloranang, lebih tepat dipentaskan saat upacara Ngaben dan odalan di Pura Dalem. Karena ini berkaitan dengan Dewa Siwa dan Dewi Durga," urainya. 


Dalam pentas pawayangan, lanjutnya, tentu ada sarana atau tempat yang digunakan sebagai pendukung, agar pementasan bisa berjalan lancar. Yang pertama adalah  gedebong (batang pisang) yang melambangkan pertiwi. Kemudian ada kelir yang melambangkan kekosongan atau sunyi. Blencong (damar wayang) yang melambangkan Dewa Surya. Keropak simbol alam semesta atau Bhuana Agung. Jelujuh simbol dari tulang. Racik simbol jeriji. Sarwa Tali simbol otot. Dalang simbol Tuhan Yang Maha Kuasa. Wayang simbol makhluk Tuhan. Gender simbol irama (ritme). Empat tukang gender melambangkan Catur Sanak (saudara empat) dan dua Ketengkong melambangkan simbul Akasa dan Pertiwi.


Sebagai seorang dalang, I Gusti Ngurah Rai kerap merasakan hal gaib, baik itu saat latihan maupun saat pementasan. Ada beberapa cerita mistis yang pernah ia alami. Dikatakannya, saat latihan Wayang Calonarang di Bona, Blahbatuh minggu lalu. Dalam proses itu, Gusti Ngurah Rai 'ngundang', istilahnya mengundang penekun Ilmu Leak. Tanpa disadari, hal itupun menjadi kenyataan, padahal hanya latihan. Saat pulang, Gusti Ngurah Rai diikuti oleh sosok makhluk yang disebutkannya penekun Ilmu Pangleakan. "Waktu itu memang saya yang salah, pulangnya malah dikerjai," tuturnya. 


Dijelaskannya, ciri-ciri ada orang yang memiliki ilmu yang sedang menjahilinya adalah lewat gerakan kuping. Jika kuping kirinya bergetar dan melipat ke dalam, artinya orang yang sedang menjahilinya adalah perempuan. Sedangkan yang kanan, adalah laki-laki. "Itu versi saya. Tidak tahu dalang yang lainnya, apakah sama juga ciri-cirinya jika ada yang menjahili. Ciri yang saya rasakan juga, jika jantung, tengkuk, dan ubun-ubun kalau sudah merasa panas, itu ada yang menjahili juga," akunya.


Di lakon wayang, lanjutnya, ada sosok yang paling misterius. Dia adalah Tualen atau Malen. Menurut Gusti Ngurah Rai, Tualen adalah sosok punakawan perwujudan Ida Sang Hyang Tunggal yang disebut Angkus Prana. Sosok Tualen ini adalah orang tua yang berbeda, berasal dari kata ‘Tua’ yang berarti orang tua, dan ‘Len’ artinya berbeda. "Jadi, Tualen adalah sosok orang tua yang memberikan wejangan yang positif dan karakternya bijaksana. Raos atau perkataan yang benar-benar riil yang berbobot. Perkataannya dalam pawayangan cenderung ke arah ajaran dharma," tegasnya. 



 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya