SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ada tiga buah keris yang konon lahir atau dibuat berdasarkan pawisik (petunjuk gaib) sebagai pangenteg jagat atau membuat tenang bumi. Masing masing keris dengan jumlah luk (liuk) bervariasi, yakni luk 21 melambangkan Siwa, luk 5 melambangkan Wisnu, dan luk 3 melambangkan Brahma.
Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung ke Desa Pedawa, Buleleng, Sabtu lalu, menyaksikan ketiga keris yang dibungkus kain warna poleng tridatu tersebut dipasupati di Palinggih Bukit Anyar, Pura Desa Pedawa.
Pelinggih Bukit Anyar adalah stana dari Sang Hyang Pasupati atau Dewa Bagus Manik Dalang yang disimbolkan Tualen. Prosesi pasupati yang dimulai sejak pukul 08.00 Wita berakhir hingga pukul 09.30 Wita. Bahkan, prosesi ini diwarnai karauhan (trance) seorang tapakan dari Palinggih Bukit Anyar.
Selama karauhan, pria tersebut memberikan petunjuk terkait prosesi Pasupati yang dilakukan Pasraman Pasir Ukir di bawah pimpinan Jro Tapakan Kadek Satria, 33. Seusai dipasupati, ketiga keris tersebut selanjutnya dibawa ke Pasraman Pasir Ukir untuk distanakan di tempat yang telah disediakan.
Pria yang juga dosen di UNHI Denpasar ini, menceritakan, mulai menekuni dunia spiritual sejak tahun 2014 silam. Jro Satria pun menginisiasi dengan mendirikan Pasraman Pasir Ukir di desa kelahirannya Dusun Bangkiang Sidem, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, sebagai tempat menimba ilmu keagamaan bagi generasi muda di desanya.
Namun, ketika dirinya melaksanakan pemujaan saat Siwaratri bulan Januari 2020 lalu di Pasraman Pasir Ukir, tiba-tiba saja seorang Permas (pemangku di Pedawa) karauhan dan memberikan bawos (petunjuk) jika dirinya harus ngalinggihang (menstanakan) Palinggih Pasupati berupa keris luk 21, luk 5, dan luk 3 sebagai pangenteg jagat di tengah sasab merana (Pandemi Covid-19) yang saat ini dialami masyaakat di seluruh dunia.
“Saat karauhan, Permas itu mengatakan bahwa di pasraman ini harus ngalinggihang Palinggih Paasupati. Palinggih Pasupati harus diupacarai saat Tumpek Landep di Palinggih Bukit Anyar di Pura Desa Pedawa,” tutur putra keenam dari delapan bersaudara pasangan I Nyoman Resek dengan Ni Nengah Dendi ini.
Jro Satria pun kembali mencaritau Palinggih Paasupati apa yang dimaksud dalam bawos itu. Hingga akhirnya dia diisyaratkan untuk membuat keris luk 21 berbahan kayu Majegau. Keris tersebut nantinya sebagai pangenteg jagat, pangenteg gunung sari (Desa Pedawa), pangenteg Den Bukit (Buleleng), pangenteg Bali, dan Nusantara.
“Dalam bawos itu saya berkeyakinan bahwa Ida Sasuhunan dalam konteks Covid-19 memberikan isyarat bahwa dengan memuja beliau dan ngalinggihang beliau bisa sebagai pangenteg jagat dan menghilangkan sasab merana yang sedang dialami saat ini,” imbuh Jro Satria.
Bahwa yang nangkil ke pasraman nunas tamba (mohon obat), nunas paica berupa menyan majagau dan sepit semprong dalam konsep purusa pradana untuk nyepuh menyan majagau dengan membuat asap di rumahnya.
Lalu, darimana dapat kayu Majegau sebagai bahan keris? dijelaskan Jro Satria, Majegau diperolehnya terhitung sejak Mei dan Juli. Khusus keris luk 5 dan luk 3, bahannya diperoleh dari potongan kayu Majegau yang dibawakan oleh seseorang berdasarkan petunjuk niskala.
Hanya saja prosesnya tergolong ajaib. Ia mengakui jika awalnya potongan kayu yang dibawa seseorang ke pasraman bukanlah kayu Majegau. “Dia bilang tidak yakin itu Majegau. Setelah itu dibawa ke pasraman memang bukan Majegau. Tetapi setelah tunasang (dimohonkan), ajaibnya kayu itu berubah menjadi Majegau berwarna merah. Dan, inilah dipakai untuk keris luk 5 dan luk 3,” imbuhnya.
Sedangkan kayu Majegau untuk bahan keris luk 21, ia peroleh dengan cara membeli di Desa Tigawasa. Pohon Majegau tersebut diperkirakan berusia 48 tahun. Namun, dari bagian akar ajegau yang dibeli tersebut menurutnya memiliki keunikan.
“Dari bagian batang, daun, cabang Majegau yang saya amati ternyata bagian yang paling menarik menurut saya itu ada pada akarnya. Akhirnya diambil dan diolah untuk bahan keris luk 21,” bebernya.
Proses pembuatan keris pun, sebut Jro Satria, tergolong unik. Pasalnya, sesuai pawisik agar keris luk 21, luk 5, dan luk 3 itu harus dikerjakan di Pasraman Pasir Ukir. Bahkan yang mengerjakan wajib berasal dari keturunan Panyarikan. Pria yang berprofesi sebagai tukang ukir itu bernama I Cubit.
Diceritakan Jro Satria, awalnya I Cubit menolak untuk membuatkan keris berbahan kayu Majegau. Alasannya pun aneh. Konon Cubit merasa ketakutan dan gemetar untuk membuatkan keris sesuai bawos itu.
“Akhirnya saya suruh napak, sehingga muncul keberanian dan siap untuk mengerjakan. Cubit ini memang tukang ukir, tapi dia belum pernah mengukir keris. Kami kemudian mohonkan ke Beliau Ida Sasuhunan, ke Panyarikan, dan dalam kurun waktu tiga hari keris luk 21, luk 5, dan luk 3 tuntas dikerjakan,” jelasnya.
Setelah tuntas dikerjakan, rupanya muncul persoalan lain. Sehari setelah menuntaskann tiga keris tersebut, tangan I Cubit sakit dan nyaris tak bisa digerakkan. Hingga akhirnya ia datang ke pasraman untuk nunas tamba (obat). “Setelah nunas tirta di pasaraman, ia kembali sehat,” terangnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya