DENPASAR, BALI EXPRESS-Bulan kedua perhitungan kalender Bali atau penanggalan tahun Saka lebih dikenal dengan Sasih Karo. Sasih (bulan) kedua dalam tradisi Hindu di Bali merupakan sasih yang sangat baik menyelenggarakan upacara Pitra Yadnya, karena sang Pitara yang diupacarai akan mendapatkan jalan lapang menuju Surga. Lantas, seperti apa karakter dari Sasih Karo tersebut?
Menurut ahli upakara, Ida Bagus Sudarsana, dalam tradisi Hindu di Bali, Sasih Karo memang menjadi sasih yang sangat baik untuk menyelenggarakan upacara Pitra Yadnya. “Mengenai ketentuan ini, dapat dilihat dalam beberapa literatur, salah satunya dalam lontar Gong Besi,” jelasnya akhir pekan kemarin di Denpasar.
Dalam Lontar Gong Besi ini, dikatakan Sudarsana, disebutkan pada Sasih Karo, matahari sedang bergerak ke arah utara. Kemudian pintu Yamaloka (surganya Bhatara Yama) sedang terbuka. Selain itu, pintu Pitraloka (surganya para pitra) juga sedang terbuka.
Sehingga pada bulan ini menjadi bulan yang baik untuk menyelenggarakan upacara yang bersifat Pitra Yadnya, seperti Ngaben ataupun upacara Atma Wedana.
Hal ini disebutkan Sudarsana, karena ketika pintu Yamaloka dan Pitraloka terbuka, maka Sang Atma sudah siap untuk diberikan upacara, dan melalui upacara tersebut, Sang Atma sudah siap untuk diantarkan ke Surga.
Jika pintu Yamaloka dan Pitraloka terbuka pada Sasih Karo ini, maka ada beberapa pintu Surga yang tertutup pada Sasih Karo ini, yakni pintu Wisnuloka dan Pitaraloka. “Karena kedua pintu ini tertutup, maka Sasih Karo ini tidak baik untuk menyelenggarakan upacara Dewa Yadnya,” lanjutnya.
Dikatakannya, pelaksanaan upacara Dewa Yadnya lebih banyak dilakukan pada Sasih Kasa. Karena pada sasih ini, pintu Wisnuloka dan Pitaraloka sedang terbuka, sehingga menjadi waktu yang baik untuk menyelenggarakan upacara Dewa Yadnya, seperti karya di pura atau piodalan.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya