Dalam Lontar Kalattwa, banyak berbicara tentang mitos-mitos masyarakat Bali yang berkaitan dengan waktu. Diyakini pula dalam lontar ini, terjadi suatu waktu paralel, walaupun secara sains belum bisa dibuktikan. Akan tetapi dalam lontar ini juga memuat pengobatan tradisional. Disamping yang memang terdapat pula dalam Lontar Taru Premana.
INI berkaitan dengan anugerah yang didapatkan Bhatara Kala dari sang ibu, yakni Bhatari Durga.
Ia dianugerahi kesaktian untuk menyembuhkan orang-orang yang memohon obat ke tempatnya berstana yakni Pura Dalem.
Selain itu, banyak sekali petuah dan petunjuk obat-obatan yang diberikan Bhatari Durga kepada Bhatara Kala, yang kemudian bergelar Sang Durga.
Hal-hal mengenai cara pengobatan terhadap seseorang yang sakit akibat mencari dukun pun turut disebutkan dalam Lontar Kalatattwa yang ditulis I Gusti Ngurah Alit dari Sidemen, Karangasem, pada tahun 1884 Saka.
Diceritakan dalam lontar tersebut, jika ada orang bersin, mula-mula sekali dua kali saja, tetapi kemudian berkali-kali, hingga sekarat, lalu semakin lama semakin keras.
Maka obatnya adalah jeruk purut, laos dan kapur, temulawak, kencur, kunir, ditim dikukus, diremas diperas, lalu disaring, diberi air cuka tahun, air cendana, diramu dengan kemenyan dikukus, pulasahi, lalu diurapkan.
Ramuan obat itu dibuat pada saat kajeng kliwon. Boleh tidak kliwon, tetapi harus kajeng. Bedaknya adalah daun beringin jatuh, kencur dipanggang, pulasahi, dan adas.
Adapun jika ada orang mencari dukun, perhatikan dengan saksama, kakinya ketika naik ke teras.
Jika kaki kanan melangkah lebih dulu, itu pertanda bahwa seluruh persendian tubuhnya sakit, lesu, hulu hatinya nek, pusing-pusing, demikianlah penyakitnya. Sebagai obatnya adalah kasisat putih, silodaka, masui, pulasahi, urapkan.
Bedaknya adalah daun kendal, kencur, cendana, diramu dengan pulasahi.
Nah jika kaki kirinya melangkah terlebih dulu, yang sakit itu adalah hulu hatinya, punggungnya, lesu, pusing-pusing, dan apabila lewat dari sepuluh hari, pasien tidak bisa diobati, maka orang itu akan mati.
Gejala penyakitnya adalah keluar darah dari ketiak, dari rambut, dari dubur, dari lobang bulu tubuhnya. Orang itu tidak bisa ditolong.
Ia mengidap penyakit bayu kasuduk, obatnya adalah temu poh, temu akar, laos, diramu dengan cengkeh, pala kurung, sampar wantu, santan kelapa kopyor, didadar hingga kental, diremas terlebih dahulu, setelah matang, dipulung-pulung, ditelan berkali-kali.
Uang sasantun selengkapnya, uang 77, lengkap dengan segala atributnya.
Ada lagi ciri-ciri orang mencari dukun, yakni perhatikan matanya, jika matanya memerah, tangannya bergerak-gerak, yang sakit adalah kepalanya, perutnya, kakinya, ia terkena serangan wabah wiwyawara guna.
Lama-lama orang itu bisa mati.
Pertandanya adalah menguap, mendeham, menggigil, keluar keringat tiada putus-putusnya, setelah itu matanya melotot, telinganya berdengung, sebentar sadar lalu kambuh lagi seperti sebelumnya.
Obatnya adalah temulawak dikupas diambil dagingnya, dicampur kemenyan, air arak, dibakar, ditim, setelah matang lalu dilumatkan, diperas disaring, sari-sari beningnya diberi kalabet, ginten hitam, dimasukkan ke dalam hidungnya.
Sebagai obat minumnya adalah daun bengkel putih, temulawak, kacang ijo, diulek diperas disaring, dimasak, dicampuri dengan kuning telor ayam, setelah masak diberi air jeruk purut, kemudian dipanaskan dengan wajan.
Lalu diberi rerajahan. Setelah masak, kembali diberi rerajahan, dan diramu dengan remek daging, gula batu, merica, musi, air jeruk, setelah dicampur lalu didadar dengan alat pendadar hitam, sebisanya.
Inilah rerajahan pendadar: “Nde, Yung, Mung”.
Setelah didadar, lalu diberi ketan gajih, urapkan, hasilnya adalah segala penyakit perut sembuh olehnya.
Obat ini tidak memilih penyakit. Untuk membuat obat ini dicari waktu yakni hari Jumat Kliwon bertepatan dengan Kajeng.
Meskipun tidak Kliwon tetapi harus Kajeng.
Sebagai obat bedaknya adalah gamongan, cendana, air dari mata air, air jeruk, ditempatkan pada limas andong, setelah bedak itu diwadahi, lalu wadah itu diberi rerajahan “Nyung, Wyung, Ong”.
Hasilnya orang pingsan kemudian sembuh.
Ada lagi gejala penyakit pasien yang tidak tampak.
Hal itu bisa diperkirakan melalui tanda-tanda orang yang mencari dukun, yaitu di matanya, pada suaranya, jika putih matanya terlihat kekuning-kuningan, bulu matanya bangun, suaranya serak, yang sakit adalah hulu hatinya nek, nafasnya sesak, dadanya sakit, seluruh bulu tubuhnya terasa sakit, orang itu terkena serangan penyakit wisya banyu mala namanya, dan lagi perutnya melilit, tetapi jika sampai batas waktu tujuh hari penyakitnya, dan tidak tahu mengobatinya, orang itu bisa mati, jika tidak mati bisa gila.
Obatnya adalah akar selegui jantan, kencur, sembung, diremas, diperas, disaring, lalu didadar dengan wajan.
Inilah rerajahan wajannya, “Ndyah, mram, Ung”.
Setelah didadar, lalu diberi minyak kelapa dikilang, diramu dengan wangkawa, mundar parawos, diberi minum.
Setelah selesai minum obat itu, berikanlah dia sedikit arak. Ada lagi jamu yang dibuat dari bahan temulawak, gamongan, bunga kenanga, bunga belimbing, air nira manis, dipanaskan sampai matang. Jika dimandikan, jangan memakai air panas.
Itu dinamakan penyakit banyu mati.
Dan jika mata si pasien tampak kuning, suaranya asal bunyi saja, kadang-kadang lucu, maka si dukun patut mengeluarkan tenaga melalui kedua hidung.
Jika tenaga deras keluar melalui hidung kanan, penyakit itu amat berat, bisa-bisa mematikan.
Gejala-gejala penyakit si pasien adalah lesu, pusing-pusing, tubuhnya gerah, gelisah, tidak merasa bertubuh, otot-ototnya terasa sakit, berkedip-kedip, jika lewat dari enam hari penyakitnya itu, jika orang tidak tahu cara mengobatinya, maka pasien itu akan mati, muntah darah tiada putus-putusnya.
Obatnya adalah daun pancasona kuning, asam dipanggang, diramu dengan bawang bakar, diminum. Bedaknya dibuat dari bahan air gamongan, air beras putih, air candana, biji jalawe.
Jangan diijinkan mandi, ia bisa mati. Ada lagi obat tambahannya yaitu tiga iris gamongan, air cuka, didadar seperlunya.
Apabila berbuah-buah tubuh si pasien, dan datang seperti tergesa-gesa, maka alirkan tenaga melalui hidung, jika sama derasnya, si pasien itu sakit setiap dua hari sekali, hulu hatinya sakit, sesak, sering berludah, perutnya melilit, obatnya adalah sulasih, miana hitam, kesimbukan putih, diulek diperas disaring diramu dengan pala.
Simbur bagian hulu hatinya dengan daun sirih kuning, kencur, laos, tiga iris kunir. Bedaknya dibuat dari daun sirih yang bertemu urat, kencur bakar, asam panggang, sampar wantu bakar, pulasahi bakar, air cendana, air jeruk.
Dosen STAHN Mpu Kuturan Ari Dwijayanthi menerangkan, ciri-ciri orang yang sakit akibat mencari dukun inilah yang dinamakan Puspakalimosada.
Untuk mengetahui penyakit pasien, di dalam tubuh pertandanya, tetapi jika menggunakan ilmu ini, harus diawali dengan bertapa secara tekun.
“Hasilnya adalah jika ada orang mencari dukun, kau akan dapat mengetahui gejala penyakitnya melalui tubuhnya, kau dapat menerka penyakit pasien, apakah bisa hidup atau mati, terasa di dalam tubuhnya. Jika ia akan hidup, akan ada orang datang membawa daun beringin, menyuruhmu supaya dirinya diobati. Jika ia akan mati, akan ada orang datang membawa mayat, dalam mimpi, ataupun dalam semadi, demikianlah tandanya,” jelas Ari.
Dan jika ada orang mencari dukun, datang pada pagi hari, pada saat si dukun masih berguru, dan yang mencari dukun itu adalah lelaki, yang sakit adalah perempuan, panas pertama kali, dan sudah dicarikan dukun, sudah pernah disembur panas tubuhnya itu, tetapi kemudian menjadi panas dalam, lama-lama penyakitnya sering dicarikan dukun, tiba-tiba dari duburnya keluar darah, mengucur deras seperti air kencing, tidak bisa berak, tidak bisa kencing, lehernya bengkak, tidak bisa menelan, paha kirinya bengkak. Jika demikian penyakitnya, maka orang itu akan mati.
Obatnya adalah labu harum, temulawak, bawang bakar, diparut, diperas, disaring lalu didadar dengan wajan.
Urapkan. Inilah obat segala penyakit panas dalam.
Jika membengkak di setiap bagian tubuhnya, obatnya dibuat dari bahan-bahan daun kerepetan, bawang merah, adas, empol andong, dioleskan pada bagian tubuh yang bengkak. Jika perutnya kembung tidak bisa kencing, tidak bisa berak, obatnya adalah kulit pohon dedap, bawang merah, adas, disemburkan pada perutnya.
Dan lagi obatnya yaitu empol pandan, empol nenas, empol andong, empol aren, bawang merah, adas, disemburkan pada lobang duburnya.
Dan apabila ada orang mencari dukun, seorang lelaki, dan datang pada malam hari ketika si dukun sudah tertidur, ia datang seperti tergesa-gesa.
Yang sakit adalah lelaki, tubuhnya panas dan sudah pernah disembur. Setelah disembur berbalik menjadi panas dalam, panasnya datang sekali waktu, lalu mengeluarkan darah seperti mimisan, kemudian pingsan, tidak sadarkan diri, nafasnya ngorok, keluar keringat di sepanjang tubuhnya, begitulah gejalanya.
Obatnya adalah labu harum, temulawak, bawang merah bakar, diparut diperas disaring, lalu didadar dengan wajan. Jika panasnya keluar seperti dulu, orang itu akan sembuh, jika panasnya tidak keluar, maka orang itu akan mati.
Editor : I Putu Suyatra