Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nyepi Adat Tenganan 15 Hari, Pantang Tertawa dan Menangis

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 21 Mei 2021 | 15:29 WIB
Nyepi Adat Tenganan 15 Hari, Pantang Tertawa dan Menangis
Nyepi Adat Tenganan 15 Hari, Pantang Tertawa dan Menangis

AMLAPURA, BALI EXPRESS — Sebanyak 29 krama adat di Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, akan menggelar sangkepan (rapat) di Bale Agung, serangkaian Nyepi Adat yang puncaknya jatuh pada Purnama Sasih Kasa. Mereka memang mendapat mandat sebagai pangayah di Bale Agung untuk menggantikan tugas orangtua mereka sebelumnya.


Para pangayah ini juga membuat beberapa sarana upacara yang dihaturkan tepat pada puncak Nyepi Adat. “Ketentuan ini sudah berlangsung turun-temurun. Jadi, ketentuan tersebut telah diatur desa adat,” ujar Kelian Adat Keempat Tenganan Pegeringsingan I Wayan Mudana, beberapa waktu lalu.


Mudana menjelaskan, Desa Tenganan Pegringsingan punya perayaan khusus Nyepi yang pelaksanaannya berbeda dengan Nyepi Tahun Baru Caka. Bahkan, Nyepi Adat dilaksanakan selama 15 hari berdasarkan penanggalan khusus di desa adat. Yakni dimulai sehari setelah Tilem Sasih Sadha atau juga disebut saat Pati Panten Sadha, sampai puncaknya pada Purnama Sasih Kasa.


Beberapa hal yang tak boleh dilakukan selama 15 hari, salah satunya krama pantang untuk tertawa. Bukan itu saja, warga juga pantang memukul kentongan, menumbuk padi, membuat lubang sedalam tangan-siku, menyembelih babi dan ayam, serta tidak boleh menangis.


Menurut Mudana, tidak ada sanksi bagi warga yang melanggar pantangan itu. Sebab, warga sudah yakin pantangan tersebut wajib dijalankan demi keselamatan. Pihaknya juga belum bisa jelaskan gamblang alasan soal pantangan tersebut.


“Nyepi di desa ini kami laksanakan saat Sasih Kasa selama 15 hari itu. Kami juga berbeda dengan masyarakat Bali umumnya, tidak mengarak ogoh-ogoh saat Nyepi umumnya di Bali. Jadi itu sudah dari dahulu yang kami percayai,” sebutnya. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #dresta #hindu #tradisi