SINGARAJA, BALI EXPRESS-Jika mendengar paica (pica) bagi orang Bali (Hindu) bukanlah hal yang tabu dan baru. Paica bisa merupakan benda-benda bertuah dan berkhasiat yang diperoleh dengan berbagai cara, baik secara skala maupun niskala. Jika bagus merawatnya, paica bisa saja menjadi berkah. Namun, bila salah, maka bisa saja mengakibatkan musibah.
Penekun spiritual Putu Agus Panca Saputra yang dikenal dengan nama Jro Panca, 30, mengatakan, paica bisa saja diperoleh secara gaib. Bisa juga paica itu adalah sesuatu benda yang didapatkan melalui keturunan mapun dengan cara meditasi.
Bentuknya pun beragam. Ada berupa batu permata, cincin, kalung, logam hingga pusaka. Sebagai benda bertuah dan menjadi pegangan, paica ada yang sifatnya kekal, ada pula yang tidak.
Jika paica itu dipasupati paranormal atau isian, maka jika salah menggunakan, dikatakan Jro Panca, bisa menyerang si pemakai. Sebaliknya, jika paica itu merupakan anugerah dari leluhur. Kalau salah digunakan, maka dipastikan energinya akan hilang. “Bisa hilang bendanya atau juga bisa hilang energinya,” ujar Jro Panca kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (18/6) malam.
Ia menambahkan, ada berbagai cara mendaparkan paica. Pertama, paica diperoleh secara gaib lewat meditasi di tempat-tempat tertentu. Banyak kasus orang menerima paica saat nangkil di pura atau tempat angker lainnya.
“Misalnya kita melihat batu unik. Ketika diambil, kemudian dibuang, biasanya tiba-tiba ada lagi di samping kita. Nah itu bisa menjadi pertanda kalau itu adalah paica,” akunya.
Cara kedua, ada juga paica diperoleh secara langsung sebagai keturunan. Ia menyebut banyak kasus bila para leluhurnya adalah seorang paranormal. Maka sudah pasti anak maupun cucunya wajib menerima paica sebagai warisan dari pendahulunya.
“Bila ada panglingsirnya jadi balian, kemudian anak cucunya yang melanjutkan. Meskipun tanpa meditasi, tetapi sudah ada, dan diterima. Tinggal merawat saja,” imbuhnya.
Tidak jarang pula, bahkan ada orang yang justru tidak dikenal tiba-tiba memberikan paica. Setelah memberikan benda keramat tersebut, biasanya orang tersebut menghilang entah kemana.
Menurut pengasuh Taksu Poleng ini, bisa saja ada perjanjian di inkarnasinya yang terdahulu, bahwa saat inkarnasi sekarang si penerima wajib menerima paica di usia tertentu.
“Kasus-kasus seperti itu sering kita dengar. Ada yang pernah mengalami, kalau tiba-tiba diberikan batu permata, kepingan logam, atau pusaka. Nah ini juga kategori paica,” paparnya.
Cara ketiga, ada pula dengan cara membeli, atau meminta kepada paranormal atau pasupati. Misalnya dengan membeli uang kepeng dirajah, berisi gambar dewa, aksara, lalu dipasupati kemudian digunakan.
Mempunyai atau menerima anugerah paica (benda bertuah), butuh perhatian dan perawatan khusus agar semakin bermanfaat. Bagaimana cara merawatnya?
Saat Tumpek Landep menjadi momentum yang tepat untuk merawat paica. Di Bali sendiri, saat Tumpek Landep masyarakat yang memiliki paica berlomba-lomba membuatkan sesajen sesuai dengan desa kala patra yang berlaku.
Dikatakan penekun spiritual Putu Agus Panca Saputra yang dikenal dengan nama Jro Panca ini, secara umum masyarakat Hindu di Bali menggunakan sarana berupa Peras Pajati dengan sarana ayam panggang sebagai sesajen saat mempasupati pusaka.
Runtutannya, jika pusaka yang dimilki sebuah keris, maka digunakan sibuh cemeng atau batok kelapa warna hitam. Kemudian diikat dengan benang tridatu dan menggunakan uang kepeng sebelas.
Prosesi selanjutnya dengan mengambil kalpika, lalu diisi air. Kemudian dimohon kepada sang Hyang Pasupati. “Agar Beliau memberikan tuah kepada pusaka. Kemudian diambil air lalu ditaruh di tempayan, ditambahkan kembang setaman mawar cempaka, lalu pusaka dimandikan. Setelah dikeringkan baru diolesi minyak,” jelasnya.
Ia menyarankan agar tidak meminum wangsuhan keris. Sebab, bisa saja bekas wangsuhan (air basuhan keris) mengandung zat arsenic yang berbahaya bagi tubuh. Namun, jika wangsuhan itu digunakan untuk memerciki areal pekarangan, tempat usaha diyakini memberikan kemakmuran.
Lalu, apa dampak jika salah memeliharanya? Jro Panca menyebut, banyak fenomena yang terjadi di masyarakat jika salah dalam merawat keris. Bahkan, ada pula keturunan yang sampai tega menjual paica yang sifatnya tetamian dari leluhurnya.
Agar taksu dari paica itu baik, lanjutnya, mesti dirawat sebaik-baiknya. “Efeknya kalau salah merawat adalah kehancuran diri, kehancuran keluarga. Apalagi sampai menjual paica. Bisa kena kutuk, hidup tidak tenteram, bisa sakit-sakitan. Keluarga tidak harmonis, dan rezeki carut marut. Banyak yang mengalaminya,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya