Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Medaha, Proses Pembentukan Karakter Remaja di Tenganan

Nyoman Suarna • Rabu, 28 Juli 2021 | 17:35 WIB
Medaha, Proses Pembentukan Karakter Remaja di Tenganan
Medaha, Proses Pembentukan Karakter Remaja di Tenganan


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Desa Tenganan Pegringsingan di Kecamatan Manggis, Karangasem, memang terkenal sebagai salah satu desa tua yang banyak melahirkan tradisi unik. Tidak heran karena Tenganan merupakan desa Bali Aga.



Salah satu tradisi wajib di Tenganan Pegringsingan adalah Medaha atau Menek Kelih (beranjak remaja). Seperti sebutannya, tradisi tersebut merupakan sebuah ritual atau prosesi yang wajib dijalani anak perempuan yang menginjak usia remaja. Mereka nantinya akan disebut sebagai Daha apabila telah tuntas menjalani prosesi Medaha.



Prosesi Medaha, bak seperti proses karantina dengan tujuan membentuk karakter si anak gadis. Para calon Daha-sebutan bagi anak perempuan yang akan remaja, akan menempati sebuah asrama yang disebut masyarakat setempat sebagai Gantih, khusus untuk para putri.



Salah seorang tokoh Tenganan Pegringsingan I Wayan Mudana menerangkan, saat prosesi Medaha, masing-masing putri akan ditempatkan menuju sebuah Gantih. Ada tiga Gantih. Di antaranya Gantih Wayah, Gantih Nengah, dan Gantih Nyoman.



Di sana, para calon Daha naik ke sebuah balai dan ditempa ilmu tentang kepribadian. Tujuannya agar kelak sebagai Daha di Tenganan dapat menjalankan swadharma.



Jadi warga adat yang taat aturan desa. Warga yang siap menjalankan kewajiban-dengan tulus dan selalu bakti terhadap leluhur. “Filosofinya membentuk karakter,” katanya, beberapa waktu lalu.



Upacara Medaha dilaksanakan saat Punama Kelima. Prosesi ritual ini sudah berlangsung lama dan selalu dilaksanakan. Sehingga wajib bagi para anak perempuan naik menjadi remaja.



Pihaknya menyadari, generasi muda di Tenganan selalu ditanamkan nilai karakter agar tetap menjalankan tradisi yang berlaku. “Mereka seperti belajar. Diberikan pemahaman,” ucapnya.



 



Editor : Nyoman Suarna
#balinese #dresta #tradisi