Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bagian-bagian Daging Babi Saat Upacara Mekelin di Desa Banyuseri

Nyoman Suarna • Senin, 27 September 2021 | 14:14 WIB
Bagian-bagian Daging Babi Saat Upacara Mekelin di Desa Banyuseri
Bagian-bagian Daging Babi Saat Upacara Mekelin di Desa Banyuseri

Jika masyarakat hendak melaksanakan upacara Mekelin, maka wajib untuk mencari padewasan dengan meminta petunjuk kepada Kelian Adat. Bagi masyarakat Banyuseri, upacara Mekelin bisa dilaksanakan saat Senin Pahing Warigadean, Wrespati Pon Uye, Sukra Umanis Merakih, Sukra Pahing Matal, dan Sukra Wage Kuningan.


Sedangkan hari-hari Kala Gotongan yaitu Sukra Kliwon, Saniscara Umanis, Redite Paing dan Semut Sedulur yaitu Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon sangat dihindari karena diyakini akan mendatangkan akibat buruk bagi orang yang diupacarai maupun bagi yang membuatkan upacara.


setelah padewasaan ditetapkan, maka dibunyikanlah kentungan ngoncang sebagai tanda memberi bekal kepada orang yang meninggal dan juga sebagai pertanda bahwa orang yang meninggal itu akan langsung dibuatkan upacara Mekelin.


Selanjutnya keluarga yang bersangkutan menghubungi orang suci yang akan memimpin upacara tersebut (mesadok) dengan membawa banten apengayatan. “Proses awal dari upacara mekelin ini sama dengan mreteka orang meninggal (sawa prateka) seperti: nundun, nyiramang dan ritual lainnya,” imbuhnya.


Made Merta mengatakan, Upacara Mekelin bisa dilaksanakan bagi orang yang baru meninggal maupun sudah lama meninggal.


Sebelum dipotong,Babi diambil kemudian dimohonkan tirta pangening-ngening yang diambil dari toya bulakan (mata air) yang tempatnya dekat dengan Pura Tirta Sari oleh pelaksana upacara Mekelin.


Babi dipotong di kepala, kemudian daging babi diambil lengan kanan yang disebut buntar, daging babi diambil pada bagian dada dengan ukuran tertentu yang disebut tangkar, paha kanan diambil berbentuk segi empat yang dinamakan celing, kemudian bagian ekornya diambil sesuai panjang ekornya disebut keceng dan pada mulut bagian bawah disebut cadik.


Posisi tetandingannya dari daging babi yaitu: celing menghadap ke atas (nulengek), buntar menghadap ke bawah (ngelingeb), tangkar mengahadap ke bawah (ngelingeb), cadik menghadap ke bawah (ngelingeb) dan keceng juga menghadap ke bawah (ngelingeb).


Setelah babi dikeluarkan isi perutnya baik hati, paru-paru, usus dan lain-lainnya maka yang pertama diambil adalah tulang rusuknya atau iga untuk dipotong kecil-kecil yang nantinya dibekalkan pada orang yang sudah meninggal dengan jumlah 28 biji.


Banten yang berisi celing atau daging yang diambil dari paha kanan babi dihaturkan kepada Kanda Pat atau saudara empat yaitu yeh nyom (Banaspati). Banten yang berisi tangkar atau daging yang diambil dari bagian dada babi kemudian dihaturkan kepada saudara nomor dua yaitu lamas (Mrajapati).


Banten yang ketiga yang berisi buntar yang berasal dari daging bagian lengan kanan dari babi. Banten ini dihaturkan pada saudara nomor tiga yaitu getih (Anggapati) dan banten yang keempat yang berisi keceng (bagian ekor babi) dihaturkan pada saudara nomor empat yaitu ariari (Banaspati Raja). Dan banten yang kelima berisi cadik (bagian pangkal rahang bawah babi) dihaturkan kepada orang yang baru meninggal.


Keesokan harinya setelah selesai upacara penguburan jenasah, maka semua sanak keluarga maupun tetangganya datang kembali ke kuburan untuk melanjutkan rangkaian upacara Mekelin, serta membuang kamen maya yang artinya membawa pakaian yang dipakai saat meniggal.


Sarana yang dibawa yaitu banten bebakaran lagi dua pasang (klatkat) yaitu satu pasang untuk kebaktian kepada Sanghyang Surya dan yang satu lagi untuk bekal yang masing-masing isinya abug tan porat (abug gelebug) yang dibuat dari tepung beras bercampur gula merah yang dikepal-kepal kemudian dikukus sampai masak. Setelah upacara selesai barulah sanak keluarga maupun tetangga yang ikut ke setra pulang bersama-sama.


“Setelah berlangsung tiga hari (nugtugang ketelun) upacara dilanjutkan lagi dengan membawa banten punjung disertai dengan sesajen yang berisi pecel daging ayam untuk selamatan dengan tujuan agar arwah yang meninggal mendapat tempat yang layak dan keluarga yang ditinggalkannya agar dalam keadaan selamat,” katanya.


Sedangkan upacara Mekelin bagi yang telah lama meninggal diawali dengan upacara mungkah, membuat pengawak, mendem sawa. (habis)

Editor : Nyoman Suarna
#bali #buleleng