Secara fisik, Danda Astra ini memang berfungsi untuk menahan, bepegangan. Tetapi secara filosofis, tateken ini adalah simbul sastra seorang wiku, sulinggih. Teteken simbol sastra inilah dianggap telah menguasai jnana.
Ia menambahkan, sebelum seseorang memasuki Sadhaka itu dibutuhkan praktek. Menurutnya, mengubah watak walaka menjadi watak Panditia adalah hal yang paling sulit. “Mengubah perilaku juga sulit. Kalau saat Walaka masih suka marah-marah, maka saat sudah menjadi Sadhaka ya tidak boleh marah-marah,” ungkapnya.
Sadaka itu juga disebut Sang Hyang Dharma. Karena dianggap sudah ahli sastra, ahli magegitaan, ahli memahami yadnya. Karena dianggap sudah wikan. Itulah sebabnya, mengapa saat menjalankan peran sebagai Sadhaka tidak boleh linyuk, atau ingkar janji dan tidak boleh berbohong. “Harus Satya Hredaya, dan memahami ketentuan makanan. Karena itu adalah Satya Brata,” katanya.
Dalam urusan makanan, Sadhaka harus paham, mana saja makanan yang boleh dimakan, dan tidak boleh dimakan. Satya Brata Asrama, juga mematsikan dimana seorang Sadhaka boleh tinggal, maupun membuat pasraman.
Lalu, apakah boleh seorang Walaka yang sudah menguasai Weda, Itihasa, Purana, sastra, yadnya rambutnya diperucut dan berpenampilan layaknya Sadhaka? Ida Bagus Purwa Sidemene menegaskan dalam sastra disebutkan, hanya Sadhaka yang boleh mempergunakan penampilan dengan rambut meperucut.
“Namun seorang Walaka belum bisa. Ibarat naik motor, dia belum punya SIM. Aturan itu tetap melanggar. Nah, SIM dianalogikan saat mulai dwijati.
Menurutnya, seorang jika memutuskan untuk menjadi Sadhaka, maka harus berubah. Amari aran, amari wesa dilihat dari pakaian harus berubah. Seorang Sadaka atau seorang wiku, seorang sulinggih harusnya taat pada prilaku subha karma dan ketentuan sasana kawikuan.
“Seorang sulinggih, seorang Wiku, Peranda, Sri Mpu, Dukuh, Bagawan, maka diharapkan untuk lebih sabar, lebih banyak senyumnya, bijaksana. Karena itulah menjadi tuntunan menjadi sadaka,” pungkasnya. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana