Ratusan krama Adat Pedawa berduyun duyun ke Pura Desa untuk mengikuti upacara yang dulaksanakan setiap lima tahun sekali ini. Puncak upacara sudah dilaksanakan pada Senin (17/1) malam.
Krama diwajibkan untuk membawa banten galih, yang merupakan sarana utama Saba Muja Binih. Banten galih yang dimaksud terdiri dari benih padi yang dialasi wadah sederhana yang didalamnya terdapat canang burat wangi.
Balian Desa Pedawa Jro Mangku Nyoman Kalam menjelaskan, upacara Saba Muja Binih memang sudah diwariskan oleh leluhurnya secara turun-temurun.Tradisi lisan ini memang tidak ada catatan tertulis. Namun diyakini membawa dampak yang besar terhadap krama Pedawa.
Dikatakan Saba Muja Binih adalah dimaknai sebagai pemuliaan benih sarwa tetanduran. Bukan tanpa alasan mengapa krama memuliaka benih. Pasalnya, sebagian besar krama desa di Pedawa ceruk ekonominya adalah sebagai petani, pekebun.
“Benih-benih ini dimohonkan restu kepada Dewi Sri agar tumbuh dengan baik, tidak terserang hama dan hasil panen bagus sehingga membawa kesejahteraan pada krama,” kata Jro Mangku Kalam.
Lanjutnya, seluruh rangkaian Saba Muja Binih sejatinya telah dimulai pada Saniscra Umanis Medangkungan. Prajuru desa adat mulai melakukan persiapan di Pura Desa. Tepatnya menurunkan benih padi ikat yang disimpan di lumbung padi pura. Kemudian, benih padi itu ditempatkan di tempat yang telah disiapkan untuk diupacarai pada Purnama Kaulu.
Sedangkan krama desa Pedawa juga wajib membawa banten galih sebagai persembahan pada saat Purnama Kaulu yang pada rangkaian upacara disebut tahapan menek banten. Krama dibebaskan membawa benih apa saja yang dimiliki yang dimohonkan anugrah melalui banten galih yang dibawa.
Puncaknya, ritual Muja Binih digelar pada malam hari, dipimpin langsung oleh Balian desa, dan didampingi oleh pengulu desa serta prajuru desa adat. Seluruh prosesi disaksikan oleh seluruh krama desa Pedawa.
“Saat malam itu benih-benih yang dibawa krama dan yang ada di pura desa akan dimohonkan anugerah agar bisa tumbuh dan panen sehingga memberikan kemakmuran untuk para petani,” imbuhnya. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana