Seperti yos (kawitan lokal) yang sesuai dengan sungsungan bhatara dari pihak istri dan berapa jumlah rong (ruang) yang sesuai dengan kepercayaan individu tersebut.
Selain itu, sarana yang digunakan seperti banten daksina, baas pipis canang meraka ini merupakan banten yang wajib ada pada saat upacara mendirikan Sanggah Kemulan Nganten. Banten tersebut simbol Pura Sad Kahyangan.
"Karena banten ini menyimbolkan Pura Sad Kahyangan sebagai wiujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan kita kehidupan,” kata Tokoh adat Pedawa Wayan Sukrata.
Selain menggunakan banten daksina, baas pipis canang meraka, pada saat upacara mendirikan Sanggah Kemulan Nganten juga menggunakan banten pespesan. Sarana ini terdiri dari daun punggel (pucuk daun pisang) yang berisikan nasi mecekolan. Kemudian memakai cetakan dari tempurung kelapa yang kecil. Selanjutnya ditumpuk lagi dengan pucuk daun pisang yang berisikan pespesan.
Sarana ini terdiri dari garam, kulit kidang, pangi, kacang, gerang yang dicampur parutan kelapa, daun labu. Di tengah-tengahnya berisikan telur selanjutnya ditumpuk lagi dengan pucuk daun pisang yang berisikan jajan uli putih dan jaje abug (jajan uli merah), tape isi 2, tebu, pisang dan jajan gorengan.
“Banten pespesan ini juga wajib ada pada saat upacara mendirikan Sanggah Kemulan Nganten. Terdapat juga banten pelawah yang berisikan base lunggahang dan sekar,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra