Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Magis Sanghyang Dedari di Kayu Kapas Bermula dari Mainan Deling Aneh

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 23 April 2022 | 14:41 WIB
PURA PENYIMPENAN : Pura Penyimpenan di Desa Adat Kayu Kapas berkaitan erat dengan Tari Sanghyang Dedari. I Made Mertawan/Bali Express
PURA PENYIMPENAN : Pura Penyimpenan di Desa Adat Kayu Kapas berkaitan erat dengan Tari Sanghyang Dedari. I Made Mertawan/Bali Express
BANGLI, BALI EXPRESS - Tari Sanghyang Dedari yang disakralkan terdapat di sejumlah desa di Bali. Salah satunya di Desa Adat Kayu Kapas, Kecamatan Kintamani, Bangli.

Tari Sanghyang Dedari di Desa Adat Kayu Kapas ini dilestarikan oleh sekaa (kelompok) yang sekaligus jadi pangempon Pura Penyimpenan di desa setempat.

Pura Penyimpenan merupakan tempat ngalinggihang Ida Sanghyang Deling yang tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Tari Sanghyang Dedari.

Tari Sanghyang Dedari sudah ada sejak zaman dahulu di Desa Kayu Kapas, dan dilestarikan secara turun-temurun oleh sekaa itu. Bahkan kini sudah menjadi daya tarik wisata. Sering ada wisatawan yang datang secara khusus untuk menyaksikan Sanghyang Dedari masolah (menari).

Salah seorang panglingsir pangempon Pura Penyimpenan I Wayan Jatu menuturkan, keberadaan Tari Sanghyang Dedari berawal dari mainan. Konon anak dari leluhurnya sering rewel. Kemudian untuk menenangkannya dibuatkan mainan dengan bahan kelopak batang bambu. Mainan itu diberi nama Deling-delingan.

Setelah diberikan mainan, anak yang awalnya rewel, menjadi senang bermain Deling-delingan yang digerakkan, lengkap dengan gending.

Di luar dugaan, Deling-delingan yang disimpan itu memancarkan aura mistis. Setiap Purnama, Tilem dan Kajeng Kliwon bisa bergerak sendiri. Hal itu bikin penasaran, dan akhirnya nunas baos atau mohon petunjuk kepada orang pintar secara niskala. “Hasil nunas baos warga mesti buat Sanghyang Dedari,” kata Jatu menuturkan kisah singkat awal mula Tari Sanghyang Dedari, belum lama ini.

Berdasarkan petunjuk itu, leluhurnya kemudian membangun Pura Penyimpenan. Di sana ngalinggihang Sanghyang Deling, dan diputuskan membuat Tari Sanghyang Dedari yang dilestarikan sampai sekarang.
“Awalnya hanya dua orang, lama-lama jadi banyak pangempon pura,” jelas pria berusia 70 tahun ini.

Keberadaan Sanghyang Dedari, lanjut mantan Bendesa Kayu Kapas ini, tidak sebatas tarian sakral. Diyakini bisa menyembuhkan penyakit. Banyak orang sakit nunas agar sembuh dari sakitnya. Hal itu bisa dilakukan saat masolah di Pura Penyimpenan.

Diwawancara terpisah, anggota Sekaa Sanghyang, I Wayan Arnawa menuturkan, sekaa itu terdiri dari  penari, sekaa gambel, dan sekaa gending. Sekaa gambel adalah yang bisa magambel, dan sekaa gending yang hobi magending.

Berbeda dengan penari Sanghyang Dedari yang tidak bisa ditentukan secara sekala. Penarinya murni dipilih secara niskala. Ada prosesnya, yakni nyolahang tapakan Sanghyang Deling. Di sana akan ketahuan orang-orang yang ditunjuk menjadi penari.

“Siapa yang saat nyolahang ini tidak sadar atau karauhan, itu lah penarinya,” jelas Arnawa. Selanjutnya, mereka yang terpilih secara niskala ini akan mawinten, baru  kemudian bisa masolah.

Para penari biasanya anak perempuan yang belum menstruasi. Setelah mentruasi, mereka tidak berani lagi menari, sehingga diganti dengan yang lain melalui proses yang sama. “Biasanya ada empat orang penari,” ujar Arnawa.

Lebih jauh mantan Klian Sekaa Sanghyang ini menyampaikan, Tari Sanghyang Dedari tidak hanya masolah saat piodalan di Pura Penyimpenan, yang jatuh tiap Anggarkasih Medangsia atau hari tertentu seperti Purnama, Tilem dan Kajeng Kliwon. Katanya boleh pentas di pura lain, baik itu permintaan dari pangempon pura atau keinginan dari sekaa untuk ngayah.

“Seperti beberapa hari lalu, masolah di pura di Desa Katung, permintaan dari pangempon puranya. Pernah pentas di beberapa desa. Kami juga sering ngayah di Pura Batur (Pura Ulun Danu Batur),” terang pria  berusia 67 tahun ini.

Setiap masolah, selalu ada ritualnya. Pertama matur piuning atau sembahyang di Pura Penyimpenan. Sarananya banten pajati dan segehan. Selanjutnya nedunang tapakan Sanghyang Deling, yang juga akan masolah sebelum Tari Sanghyang Dedari.

“Di tempat masolah juga sama, ngaturang banten pajati, segehan. Setelah masolah kembali ngaturang ajuman dan segehan di Pura Penyimpenan,” ungkapnya.

Dijelaskannya lagi, saat masolah, para penari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mereka asyik menari-nari diiringi gambelan seperti gambelan Tari Arja dan gending khas Tari Sanghyang Dedari.

Dalam pementasan yang biasanya sekitar 1 jam, juga ada ritual menginjak-injak serabut atau batok kelapa yang dibakar. Mereka tidak merasakan panas, apalagi terbakar. “Serabut kelapa boleh, batok kelapa boleh, yang penting tidak didapat sembarangan,” kata Arnawa yang kesehariannya sebagai petani.

Ni Made Siti, wanita berusia 66 tahun, yang pernah merasakan sebagai penari Sanghyang Dedari di Desa Kayu Kapas saat masih anak-anak, mengaku awalnya tidak pernah menyangka akan menjadi penari Sanghyang Dedari. Sebab ia sama sekali tidak bisa dan tidak hobi menari. Justru dia salah satu yang terpilih. Namun karena sudah kehendak, ia pun menjalaninya dengan tulus.

Kata Made Siti, sebagai seorang penari Sanghyang Dedari tidak harus bisa menari. Para penari ini otomatis bisa ketika pentas. Tidak perlu belajar.  tidak pakem atau gerakan khusus yang harus dipelajari atau dilatih. “Kalau sudah masolah dengan sendirinya bisa. Saat nenari saya tidak sadar,” ujar wanita yang anak perempuanya juga pernah menjadi penari yang sama.

Diakui Made Siti, banyak orang yang heran dengan dirinya saat menari. Khususnya soal menginjak-injak api.  Banyak yang bertanya apakah tidak panas. Pernah juga saat menari di luar Kayu Kapas, sampai kakinya diperiksa untuk memastikan tidak mengalami luka bakar. Ternyata aman-aman saja. “Saya tidak apa-apa,” kata istri Arnawa ini.

NI Made Siti mengungkapkan, ada beberapa pantangan selama menjadi penari Sanghyang Dedari. Salah satunya tidak boleh makan daging sapi. Itu sudah pantangan dari dahulu.

Ia menegaskan, pantangan itu berlaku ketika masih aktif menjadi penari. Setelah diganti, kembali seperti biasa. Boleh makan daging sapi. Tak hanya pantang makan daging sapi. Pantangan lain adalah soal pakaian. Tidak boleh  menggunakan pakaian bekas orang lain. Ia tidak tahu akibatnya apabila itu dilanggar, karena sudah pantangan sejak zaman dahulu. Tidak ada yang berani melanggar.

“Kalau sudah tidak menjadi penari, boleh makan ulam banteng (daging sapi), kalau mau. Saat menjadi penari saja tidak boleh,” ungkapnya, dibenarkan Arnawa.

Arnawa menambahkan, pantangan soal memakai pakaian bekas orang lain tidak terlepas dari penari yang sudah suci melalui proses upacara. Salah satunya mawinten. Pakaian yang dipakai menari pun tidak boleh ditaruh sembarangan. Ada yang bertugas khusus menyimpan pakaian itu. “Kalau gelungannya, saya menyimpan,” kata Arnawa.

Selain soal pantangan penari, Arnawa juga menilai unik keberadaan sekaa gending. Arnawa yang sudah lama menjadi sekaa gending, tidak pernah latihan, karena tidak akan pernah bisa. Tidak akan pernah hafal semua jenis-jenis gendingnya.

Sekaa gending yang jumlahnya 6 orang ini akan hafal ketika Tari Sanghyang Dedari sudah masolah. “Seperti saya sekarang, kalau disuruh magending Tari Sanghyang Dedari, tidak bisa. Tidak hafal. Kalau sudah masolah, ramai-ramai dengan sekaa, langsung bisa,” ungkap Anawa. (wan)

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Mainan Deling Aneh #balinese #hindu #Magis Sanghyang Dedari #Desa Adat Kayu Kapas-Kintamani #pura #budaya