Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berkat Mimpi dan Suara Macan, Pura Ulun Danu Pegubugan Ditemukan

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 17 Mei 2022 | 14:25 WIB
DI ATAS BATU: Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Pegubugan berdiri di atas batu besar. Gde riantory/Bali Express
DI ATAS BATU: Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Pegubugan berdiri di atas batu besar. Gde riantory/Bali Express
JEMBRANA, BALI EXPRESS -Di Kabupaten Jembrana, tepatnya di Desa Manistutu, Kecamatan Negara, terdapat pura yang sejarah berdirinya terbilang unik. Pura yang dinamai Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Pegubugan ini, terletak di atas batu besar, dikelilingi aliran sungai di salah satu hutan desa.

Dahulu pura ini tempat para petani untuk memohon kesuburan lahan yang digarapnya. Namun kini banyak masyarakat, bahkan dari luar kabupaten datang pura ini.

Sekretaris Samania Wana Giri Merta Pura Kahyangan Jagat Ulun Danu Pegubugan Ketut Riasna menuturkan, pura yang terletak di sebelah utara Bendungan Benel, Desa Manistutu itu memiliki sejarah yang cukup unik.

Berdasarkan cerita turun-temurun bahwa para petani di daerah Subak Desa Kaliakah tidak pernah berhasil dalam hal pertanian. Suatu ketika ada seorang petani muslim di sana bermimpi didatangi sosok berpakaian serba putih dan menyampaikan pesan. “Yen cening mekita padi tetep nadi rereh genah nira ring palinggih duur batu campuhan tukad sane misi pinget punyan jepun dadua, punyan duren dadua" demikian pesan yang ditetima lewat mimpi.

Maksudnya, "Kalau kamu ingin hasil padi bagus cari pura di atas batu pinggir sungai dengan tanda pohon jepun 2 buah dan pohon durian 2 buah,” ungkap Riasna, menirukan pesan dalam mimpi tersebut.

Setelah salah seorang petani bermimpi demikian, para petani menjadi bingung, sehingga nangkil ke Puri Gede Jembrana untuk menanyakan arti dari mimpi itu, Pihak puri pun akhirnya mengutus seseorang yang mengerti tentang hutan untuk membedah mimpi petani tersebut.

“Mungkin dahulu ada namanya tuan alas (hutan), dan dicarilah petunjuk tersebut hingga berbulan-bulan lamanya, namun tidak kunjung ditemukan, akhirnya sembahyang di Pura Pulaki yang lokasinya di Banjar Munduk Desa Kaliakah untuk mencari petunjuk,” ungkapnya.

Dari Pura Pulaki, lanjut Riasna, didapatkan petunjuk agar mengikuti suara Gong Sieng (suara macan). Dari suara itu ditemukanlah tempat yang sama persis dengan petunjuk seorang petani dalam mimpi, sehingga dibuatkan Meru di atas batu tersebut. “Mengenai tahun dibuatnya masih belum pasti, namun dari cerita panglingsir itu dibuat setelah zaman Jepang,” papar pria berusia 56 tahun ini.

Seiring berkembang zaman, pangempon pura membangun Pura Penataran di sebelah selatan Pura Pegubugan. Pura Penataran dibangun menggunakan dana bantuan pemerintah.

“Selain tempatnya sempit, masyarakat juga ingin Pura Pegubugan ini memang betul-betul disucikan, dan tidak sembarang orang yang boleh masuk ke dalam pura, sehingga menginginkan adanya Pura Penataran, dan dibangunlah Pura Penataran pada tahun 2013 dan selesai pada tahun 2018,” tuturnya ditemui Sabtu (14/5) lalu.

Selain adanya batu yang disucikan, Riasna menambahkan, di Pura Pegubugan ini juga terdapat gamelan gong yang ditempatkan pada lumbung yang dibungkus kain putih. Hanya saja, Riasna tak berani memastikan asal-usul gong tersebut. Ia sebatas mengetahui bahwa besi gambelan sempat diambil oleh seseorang.

“Dahulu sempat ada yang mengambil lembaran besi gambelan itu untuk dibuat senjata tajam, namun setelah hendak dipotong malah alat pemotong tersebut yang hancur, sehingga dikembalikan lagi,” tuturnya.

Disinggung terkait pangempon Pura Pegubugan, Riasna mengatakan ada 10 subak. Di antaranya satu subak di Desa Manistutu, tujuh subak di Desa Kaliakah, dan dua subak di Desa Baluk.

Piodalan di pura itu dilaksanakan setiap 6 bulan, bertepatan dengan Aggarkasih Prangbakat. “Namun dikarenakan transport yang lumayan jauh, dan atas petunjuk dari Griya Ketugtug, odalan disini diambil 1 tahun sekali, untuk 6 bulan berikutnya hanya sembahyang seperti biasa,” imbuhnya.

Di areal pura itu, sebut Riasna, terdapat binatang yang muncul sewaktu-waktu. Biasanya muncul saat piodalan. “Adanya hewan atau ancangan macan ini memang benar, seperti di awal cerita adanya suara macan yang menuntun untuk menemukan pura ini benar ada,” katanya.

“Tidak hanya satu, ada beberapa macan yang warnanya beda-beda, itu dibuktikan ketika pembangunan Pura Penataran sering didatangi berbagai jenis macan, namun ukurannya berbeda-beda, ada yang sebesar kucing, bahkan ada yang sebesar kerbau,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Pura Ulun Danu Pegubugan Ditemukan #ritual #bali #Berkat Mimpi #balinese #adat #Suara Macan #hindu #pura