SEHARI sebelum hari Raya suci Hindu, Galungan diperingati sebagai hari Penampahan. Hari ini identik dengan nampah (nyemblih) hewan babi dan membuat lawar.
Mengacu pada ajaran Tantra, binatang (salah satu bahan lawar) merupakan simbol kebodohan. Secara filosofi, Penampahan Galungan diartikan untuk membunuh kebodohan-kebodohan yang ada dalam diri.
Hal ini disampaikan oleh Budayawan I Gede Anom Ranuara terkait lawar dan penampahan Galungan.
Lebih lanjut, Anom Ranuara yang kerap disapa Guru Anom, tidak memungkiri jika orang Bali asli menganut sekte Bhairawa. Jika difeminimkan Bhairawa menjadi Bhairawi yaitu Dewi Durga yang identik dengan olahan daging mentah.
“Durga itu raksasa. Raksa itu menguasai dan Sa itu sendiri, sehingga ia ingin menguasai semua secara individualnya,” papar Guru Anom, Senin (6/06).
Dalam lontar Hyang Durga disebutkan, semua olahan daging babi ditujukan kepada Dewi Durga, baik itu gayah maupun lawar. Ia menjelaskan bahwa lawar sama dengan Anyang, identic dengan olahan daging mentah.
Namun dalam lontar caru tidak disebutkan adanya lawar. Yang ada adalah urab. “Ketika kita berbicara urab barak dan urab putih, tidak ada Anyang. Namun kalau ada olahan mentah, itulah lawar,” ungkapnya.
Galungan selalu identic dengan lawar. Hal ini dikarenakan dalam perayaan hari Raya Galungan berkaitan dengan Sang Kala Tiga, yaitu Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Mereka adalah symbol angkara (tidak suci).
Berbicara bhuta maka identik dengan Durga. Sementara Durga identik dengan persembahan olahan daging mentah dari babi.
Baca Juga: H-2 Galungan, Harga Canang Sari, Salah Satu Sarana Upakara Hindu di Bali Tembus Rp 35 Ribu per Bungkus
Lawar dapat diklasifikasikan menjadi tiga dari tingkat kepedasannya. Pertama Dharmawangsa Santa yaitu lawar yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak hingga dewasa.
Kedua Bima Kroda yaitu lawar yang dapat dikonsumsi oleh peminum, pedasnya dari cabai. Terakhir Arjuna Menangis yaitu lawar yang pedasnya dari merica.
Secara fungsi, untuk dikonsumsi disebut dengan lawar. Jika digunakan sebagai persembahan, disebut dengan urab.
Dalam satu tandingan urab yang akan digunakan sebagai persembahan, terdiri atas urab barak, urab putih, gegecok, dan serapah ngeleb. Dalam satu porsi tandingan ada urab yang teksturnya kasar hingga halus.
Hal ini merupakan filosofi pemrosesan Sad Ripu menjadi Sad Guna.
“Inilah pemaknaan yang terselebung dari adanya olah-olahan penampahan Galungan. Di sini kita dituntut bagaimana memproses Sad Ripu menjadi Sad Guna. Bagaimana proses mengolah daging babi menjadi urutan, serapah, lawar atau urab,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna