Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Sundarigama Jadi Pegangan Melaksanakan Yadnya

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 10 Juni 2022 | 21:10 WIB
LONTAR : Sundarigama, salah satu lontar yang jadi pegangan melaksanakan yadnya. Wikimwdia.common
LONTAR : Sundarigama, salah satu lontar yang jadi pegangan melaksanakan yadnya. Wikimwdia.common

“Setiap pelaksanaan upacara tidak akan lepas dari sisi tattwa atau kebenarannya, dan juga diimbangi oleh etika atau susila, agar upacara tersebut menjadi sangat berkualitas, bukan semata-mata sebagai kegiatan yang tanpa makna.”


SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ada banyak jenis lontar yang berkaitan dengan ritual yadnya di Bali. Umumnya  berisi petunjuk tentang pelaksanaan yajna (korban suci), baik mengenai jenis banten atau sesajennya, perlengkapannya dan sebagainya. Salah satunya adalah Lontar Sundarigama.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan, Sundarigama berarti kitab agama. Sundarigama berasal dari dua kata,  yaitu Sundari artinya terang, dan Gama diartikan sebagai pegangan. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa Sundarigama merupakan sebuah media atau tuntunan yang terang untuk umat manusia.

Suardika menyebut, Sundarigama dapat disamakan dengan suluh agama atau cerminan agama yang berarti tuntunan pelaksanaan upacara agama. Upacara yang dimaksudkan adalah hari-hari tertentu berdasarkan wuku, wewaran, dan sasih, seperti Purnama, Tilem, kajeng kliwon, Galungan, Kuningan, Sasih Kapat, Kesanga, Kedasa dan Tumpek.

“Lontar Sundarigama mengatur tata cara upacara suci dan dibenarkan dalam melaksanakan ajaran agama sebagaimana disabdakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan patut dilakukan oleh masyarakat,” jelasnya.

Tujuannya, kata Suardika,  adalah agar negara dan pemerintahan menjadi aman dan tentram, rakyatnya menjadi sejahtera. Hal tersebut termuat dalam teks lontar bait pertama yang berbunyi: Iti Cundarigama, nga, maka dhrstining pakrti gama, ling ira Sanghyang Suksma Licin, ring sawateking Purohita kabeh, maka dhrstaning praja mandhala kabeh, lamakane dhresta praja Cri Aji, teking jagathitania prakrti iki suksama uttama dahat.

Terjemahannya : Inilah Sundarigama namanya, yang merupakan perantara di dalam ketentraman agama dari sabda suci Hyang Maha Suci kepada Rsi semuanya, yang menjadi pemuka (manggala) dalam menenangkan suasana dan yang wajar dilaksanakan oleh masyarakat wilayah itu semuanya, agar tentramlah negara Sang Prabhu sampai kepada kesejahteraannya, sebab pelaksanaan yang demikian adalah suci, yakni sangat utamanya.

Sundarigama merupakan lontar yang ditulis oleh Danghyang Dwijendra,  yang merupakan bhagawanta atau purohita pada zaman Kerajaan Waturenggong di Bali. “Jadi sangatlah jelas bahwa Sundarigama ini adalah suatu teks lokal yang muncul pada zaman peradaban Bali,” jelasnya.

Lontar Sundarigama dimaksudkan sebagai suatu penjelasan yang menuntun umatnya (umat Hindu) dalam melaksanakan tugas hidupnya untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi.

Sangat tepat kalau para Rsi (pendeta) selaku brahmana menyerukan kepada umatnya untuk melaksanakan tuntunan suci itu, dan tujuan utamanya adalah demi tercapainya kesejahteraan lahir batin bagi nusa bangsa dan negara.

Naskah Sundarigama, sebut Suardika, dinyatakan sebagai tata cara pelaksanaan upacara agama, yang merupakan sabda dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada para pendeta yang menjadi penasihat raja. Karena itu Sundarigama harus dipandang sebagai tradisi suci yang patut diwariskan secara turun-temurun dan patut disampaikan kepada setiap pejabat yang berwenang.

“Di samping itu harus juga dilaksanakan oleh segenap anggota masyarakat, sehingga bangsa dan negara akan menjadi tenteram dan kehidupan rakyat pun akan sejahtera,” paparnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Lontar Sundarigama #ritual #balinese #Pegangan Melaksanakan Yadnya #Ketua PHDI Kecamatan Buleleng #hindu #pura #budaya #5 Aspek Mendasar #Nyoman Suardika