Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wajib Lantunkan Doa Saat Menyembelih Hewan, Ini Mantranya

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 29 Agustus 2022 | 12:52 WIB
Klian Adat Buleleng Nyoman Sutrisna. I Putu Mardika/Bali Express
Klian Adat Buleleng Nyoman Sutrisna. I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS - Menyembelih hewan maupun binatang untuk kepentingan upacara yadnya tidak dianggap sebagai penyembelihan biasa. Pasalnya, penyembelihan yang dilakukan untuk kepentingan upacara, umumnya didahului dengan berbagai tahapan penyucian dengan mantra tertentu sesuai dengan jenis satwa yang digunakan.

Klian Adat Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan, menyembelih hewan untuk digunakan sarana ritual wajib hukumnya melantunkan doa. Bahkan, doa diklasifikasikan berdasarkan jumlah kaki.

Sebut saja, untuk satwa berkaki dua mantra yang digunakan adalah sebagai berikut: “Om indah ta kita sang dwi pada, sakeng purwa desa sinangkan pamuliha, menembah ta kita kita maring sanghyang Iswara, Ong sang namah lingganta, wus samangkana pasangsarga kita ring sanghyang iswara, ayua ta kita tan mengantitiaken katuturan sanghyang Dharma, tutur-tutur ayua lali, inget-inget ayua lupa, nahan teka ring dalem kapatihan, yan kita dadi jatma dadi ya ika wiku sakti, saguna kayanta aturakena ring ulun, apan ulun umatukakna ri kita. Ong sang sadya ya namah.”

Artinya:  “Om kau binatang yang berkaki dua, asalmu dari arah timur, di timurlah tempatmu, pulanglah ke arah timur bersujudlah kepada Sang Hyang Iswara, jangan sekali-sekali engkau melupakan ajaran Sang Hyang Dharma, semua wejangannya jangan kau lupakan, ingat-ingatlah selalu, jangan sampai lupa, apabila kau menjelma ke dunia, jadilah engkau wiku sakti, sesuai hasil kerjamu serahkanlah kembali kepada-Ku, Om semoga semuanya menjadi kenyataan atas anugerah-Nya.”

Sedangkan mantra yang biasanya digunakan saat menyembelih hewan pada umumnya adalah “Om pasu pasa ya widmahe sire ceda ya dimahe, tanno jiwah pracodayat.” Jika diterjemahkan, artinya adalah Om Hyang Widhi, hamba menyembelih hewan ini, semoga rohnya menjadi penyucian.

Ia menambahkan, penyucian hewan disebut sebagai Mapepada yang merupakan bagian dari upacara Bhuta Yadnya. Mapepada berasal dari kata pada dalam bahasa Bali. Pada sendiri pada dasarnya memiliki dua makna, yaitu sama dan kaki. Pada dapat diartikan sebagai penyamaan terhadap roh hewan yang akan digunakan untuk sarana upakara.

Melalui mapepada, diharapkan arwah dari hewan yang digunakan untuk upakara, ketika lahir kembali mengalami kenaikan tingkat atau tidak menjadi hewan kembali.

Mapepada dilaksanakan beberapa hari sebelum dilakukan pemotongan hewan untuk upacara. Biasanya, upacara ini menggunakan banten (sesajen) dengan tingkatan bebangkit dan dipuput oleh sulinggih.

Upacara ini bertujuan untuk mendoakan dan memohon kepada Dewa Siwa agar hewan yang digunakan untuk upacara mengalami kenaikan derajat. Sulinggih  pun merupakan simbol Siwa sekala yang erat berkaitan dengan peleburan dosa.

Setelah semua upakara lengkap, upacara dilanjutkan dengan menuntun hewan yang akan dijadikan persembahan mengitari tempat upacara sebanyak tiga kali.

Konsep yang digunakan adalah Murwa Daksina yang artinya bergerak menuju ke atas atau menuju tingkat yang lebih tinggi. “Setelah upacara selesai sehingga semua hewan kurban telah disucikan, maka beberapa hari kemudian hewan tersebut akan dikurbankan dengan cara dipotong sebagai unsur dari upakara. Dan kami di Desa Adat Buleleng melakukan ritual Mapepada saat penggunaan hewan sebagai persembahan,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Nyoman Sutrisna #ritual #bali #Sembelih hewan #Hewan untuk Yadnya #balinese #adat #Klian Adat Buleleng #hindu #pura #tradisi