Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bhima Swarga, Kisah Bhima Lepaskan Roh Leluhur dari Neraka

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 7 September 2022 | 17:48 WIB
BHIMA SWARGA : Wayang kulit kerap dipentaskan saat upacara Pitra Yadnya, dengan mengangkat lakon Bhima Swarga. Ist
BHIMA SWARGA : Wayang kulit kerap dipentaskan saat upacara Pitra Yadnya, dengan mengangkat lakon Bhima Swarga. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Upacara Pitra Yadnya maupun upacara kematian di Bali kerap menampilkan wayang kulit sebagai pelengkap ritual. Menariknya, lakon Bima Swarga sering diangkat dalam pementasan itu.

Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan, lakon Bima Swarga menjadi lakon wajib dibawakan dalam mengiringi upacara kematian seperti Ngaben, maupun ritual makingsan di geni. Lakon wayang ini diyakini sebagai simbol bakti pratisentana terhadap sang pitra.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jro Dalang Ardi menceritakan, lakon Bima Swarga sejatinya diadopsi dari kisah Mahabrata. Namun, penggalan kisah epos Baratayudha ini banyak ditemukan di Bali. Di sana dikisahkan, pada suatu hari, Dewi Kunti memanggil putranya Bhima. Dalam pertemuan itu, Dewi Kunti mengutarakan tentang persiapan upacara yadnya yang akan dilangsungkan di Merajan Agung istana.

Dewi Kunti menuturkan bahwa dirinya telah menerima sabda dari Dewata, bahwa upacara tidak bisa dilaksanakan, jika masih ada dalam keadaan leteh, yaitu roh Pandu dan Dewi Madri masih ada dalam kawah neraka.

Dewi Kunti lantas meminta kepada semua anaknya untuk membebaskan roh Pandu dan Dewi Madri dari kawah neraka. Namun Yudhisthira, Arjuna, Nakula dan Sahadewa menyatakan tidak dapat melaksanakan perintah ibunya dengan alasan tidak mampu.

Ibu dari Panca Pandawa itu lantas meminta kepada anak keduanya, yaitu Bhima agar segera berangkat ke surga untuk membebaskan roh leluhurnya itu. Bukan tanpa alasan meminta kepada Bhima. “Karena Bhima memiliki ajian Angkus Prana, yaitu ajian yang dapat memuat banyak orang di dalam tubuhnya, sehingga bisa melesat ke neraka,” tutur Ardiyasa.

Bhima pun menyatakan bersedia, bahkan senang hati dan penuh semangat melaksanakan perintah ibunya itu. Bhima berangkat ke surga bersama Dewi Kunti dan semua saudaranya.

Berkat ajian Angkus Prana, Bhima mempersilakan ibu dan semua saudaranya masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa lama kemudian, Bhima tiba di Tegal Penangsaran. Dalam perjalanannya, mereka menemui berbagai rintangan yang disebut pangadang-ngadang, seperti rumput berdaun senjata taji, tumbak, ikan julit berkepala raksasa, buaya, catur sanak. Bhima kemudian berperang dengan penghuni surga, seperti binatang dan sebagainya.

Akibatnya, keadaan surga menjadi kacau. Sang Suratma mengetahui kejadian tersebut. Atas laporan Sang Suratma, Jogor Manik sebagai penjaga pintu kawah Candragomuka, Sanghyang Yama sebagai hakim surga menjadi murka. Sanghyang Yama segera menemui Bhima untuk memastikan tujuannya ke surga. Bhima menjelaskan bahwa ia memohon agar roh Pandu dan Dewi Madri dibebaskan.

Bhima hanya memohon dua atma, yakni hanya berjenis laki dan perempuan. Sanghyang Yama memenuhi permintaan Bhima. Bhima segera terjun ke kawah, untuk mencari atma Pandu dan Dewi Madri yang menjadi kerak kawah yang panas itu. Namun karena posisi kedua atma itu di dasar kawah, Bhima harus mengangkat banyak atma.

“Ketika diprotes oleh Sanghyang Atma, Bhima mengatakan bahwa ia hanya mengangkat atma laki dan perempuan, dan tidak ada mengambil atma yang banci. Sanghyang Yama marah dan menantang Bhima untuk berkelahi. Bhima meladeni dan mencekik Sanghyang Yama,” ungkap pria asal Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli ini.

Sanghyang Yama pun menyerah dan menyatakan bersedia mengambil atma Pandu dan Madri di dasar kawah. Namun janji itu tidak dilaksanakan oleh Sanghyang Yama. Kawah itu kemudian dibalik oleh Bhima.

Ia hanya mendapatkan kotoran besi sebagai kerak kawah. Bhima kemudian memanggil ibunya Dewi Kunti, untuk memastikan apakah atma Pandu dan Dewi Madri itu berupa kerak kawah. Setelah yakin itu benar atma Pandu dan Madri, Bhima memanggil kakaknya, Yudhisthira, dan adik-adiknya Arjuna, Nakula dan Sahadewa.

Dewi Kunti memerintahkan agar Nakula dan Sahadewa menyembah dua atma itu supaya wujudnya lebih sempurna. Setelah itu, kotoran besi itu menjadi tulang belulang Pandu dan Dewi Madri. Kemudian Arjuna menghaturkan sembah, lalu dilanjutkan oleh Yudhisthira.

Setelah itu, keduanya berubah menjadi sesosok manusia seperti patung. Kunti lalu memerintahkan Bhima untuk melakukan sembah agar wujud Pandu dan Madri lebih sempurna. Hanya saja Bhima menolak perintah ibunya. Nakula dan Sahadewa lalu memiliki siasat. Ia mengatakan bahwa jari tangan Bhima kanan dan kiri tidak sama.

Setelah Bhima mencakupkan tangan untuk memastikan ukuran jarinya itu, di saat itu Bhima dipandang sudah menghaturkan sembah. Setelah sempat marah, karena merasa ditipu, Bhima mohon tirta pawitra Dewata Nawa Sanga. Setelah sempat bertarung dengan para dewata, Bhima sempat mati oleh Dewa Bayu.

Namun Bhima dihidupkan kembali oleh Sanghyang Tunggal. Sanghyang Tunggal lalu menganugerahi tirta pawitra. Dengan disucikannya roh Pandu dan Madri, maka upacara yang digelar di Merajan Agung Pandawa dapat dilangsungkan dengan lancar dan sukses.

“Penggambaran tokoh Bhima sebagai tokoh sentral yang membebaskan roh leluhurnya di dasar kawah neraka dapat menjadi sebuah contoh sebagai sebuah usaha untuk menghormati leluhur, sehingga lakon ini ditampilkan dalam upacara kematian seperti pengabenan, maupun upacara kematian makingsan di geni atau makingsan pertiwi,” sebutnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #aday #Tirta Sudhamala #wayang Pitra Yadnya #Bakti Pratisentana #hindu #Bhima Swarga #pura #Jro Dalang Putu Ardiyasa