Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Calonarang Wajib Ada Banten Berisi Isin Tukad dan Carik

I Komang Gede Doktrinaya • Minggu, 18 September 2022 | 14:17 WIB
Sastrawan Ida Bagus Made Bhaskara.Ist
Sastrawan Ida Bagus Made Bhaskara.Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Proses napak pertiwi dalam pecalonarangan dikaitkan dengan proses upakara dan upacara. Sasuhunan disimbolkan turun dari palinggih dan maican-ican. Dalam hal ini, maican-ican berkaitan malilacita atau menghibur dengan tetap ada batasan.

Sastrawan Ida Bagus Made Bhaskara menjelaskan, secara filosofis, Ida napak pertiwi memang memiliki tujuan untuk menghibur. “Jadi, bukan sosok menyeramkan. Sehingga melakukan hubungan dengan krama dan panyungsung. Tetapi tetap ada batasan, di mana ada hiburan dan nilai magisnya,” jelas Bhaskara

Ia menambahkan, prosesi napak pertiwi yang diikuti dengan kisah Calonarang bisa disimbolkan sebagai ruwat gumi atau ruwat jagat. Menurutnya, ruwat gumi atau jagat bukan hanya pada bagian ceritanya saja. Tetapi tentu juga melibatkan sarana upakara.

Di dalam lontar Babad Barong Kalung disebutkan ada banten khusus yang harus ditempatkan pada posisi tertentu ketika ritus pertunjukan penyalonarangan digelar. Utamanya saat proses pengundangan dilaksanakan, maka wajib hukumnya ada banten.

Menurutnya, mengundang atau nantang itu bukan bertujuan hanya ajang mempertontonkan kehebatan atau keakuan. Namun, wajib memperhatikan berbagai sarana banten yang diletakkan sebagai sesajen. Di mana banten yang diletakkan di kalangan atau panggung tempat pementasan berlangsung dalam berbagai teks disebutkan harus menggunakan isin carik dan isin tukad. Semisal menggunakan sarana seperti kodok, lindung (belut).

“Apalagi ini ruwat gumi, proses nyomia dan banten dipersembahkan kepada berbagai makhluk halus, terutama yang tercipta dari kemampuan orang yang memiliki ilmu hitam. Orang neluh, nesti pangeleakan, supaya tidak mengganggu wilayah itu, maka dihaturkanlah sesajen ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, saat ini pertunjukan penyalonarangan banyak ditemukan. Namun kian jarang yang menggunakan sarana upakara isin tukad dan isin carik ini. Sehingga tentu hanya terkesan mengundang saja, namun tidak ada sajian. “Logikanya ketika sudah diundang, setelah datang, lalu apa yang disajikan?” imbuhnya.

Di dalam teks dijelaskan, ada banten khusus saat penyalonarangan dilaksanakan. Posisinya pun tersebar. Seperti di pertigaan itu ada banten khusus. Itu disajikan untuk arwah gentayangan, ada yang mati salah pati, ulah pati, yang meninggal. Agar tidak mengganggu maka harus nyomya.

Kemudian banten juga dihaturkan di perempatan maupun batas setra dan ada banten beserta carunya saat proses mengundang dilaksanakan. Begitu pula yang mengundang tidak boleh sembarangan.

“Minimal pamangku yang sudah ekajati. Karena setelah mengundang ada ritual ngaturang banten tersebut di setiap posisi. Baik di kalangan, pertigaan, setra. Inilah siklus yang lengkap,” pungkasnya. (dik/wan)

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Bukan Profan #balinese #Sastrawan Ida Bagus Made Bhaskara #Ngaruwat Bumi #adat #Isun tukad dan carik #hindu #pura #Calonarang Bagian dari Napak Pertiwi