Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mepangkonan Bagian dari Nangluk Merana, Digelar Tilem Kaenem

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 1 Desember 2022 | 22:39 WIB
MEPANGKONAN : Ulun Desa tempat prosesi Mepangkonan dilaksanakan. Klian Adat Gesing, Jro Made Suartika (ist)
MEPANGKONAN : Ulun Desa tempat prosesi Mepangkonan dilaksanakan. Klian Adat Gesing, Jro Made Suartika (ist)
BULELENG, BALI EXPRESS -Tilem sasih kaenem identik dengan pelaksanaan Nangluk Merana. Tak jauh beda dengan tradisi di Desa Adat Gesing, Kecamatan Banjar, Buleleng. Warga di desa ini melaksanakan tradisi yang disebut Mepangkonan. Tradisi ini bagian dari ritual Nangluk Merana agar desa terhindar dari gerubug.

Seperti diketahui, Desa Gesing menjadi salah satu desa yang tergabung dalam Catur Desa Adat Tamblingan. Yakni Desa Adat Munduk, Desa Adat Gobleg, Desa Adat Umejero.

Desa-desa ini pun memiliki kemiripan adat dan tradisi. Salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh krama Desa Adat Gesing adalah tradisi Mepangkonan.

Klian Adat Gesing Jro Made Suartika mengatakan tradisi Mepangkonan dilaksanakan pada Tilem sasih kaenem. Momentum ini memang dijadikan untuk menolak bala atau Nangluk Merana agar tumbuhan, hewan maupun masyarakat Gesing terhindar dari sasab, gering, dan merana.

Gering adalah penyakit yang menimpa manusia. Sedangkan sasab merana adalah wabah yang menimpa tanaman. Sedangkan gerubug, umumnya menimpa hewan atau binatang.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Jro Made Suartika menceritakan bahwa tradisi ini dilakukan turun-temurun di Gesing. Hingga kini tradisi itu juga tetap dilaksanakan. Masyarakat tidak berani tidak melaksanakan tradisi itu, meski tidak ketahui dampaknya jika diabaikan.

“Kami selalu rutin melaksanakan tradisi Mepangkonan ini bertepatan Tilem sasih kaenem. Kami tidak berani tidak melaksanakan, dan belum pernah juga tidak dilaksanakan, karena memang sudah warisan dari leluhur,” ungkapnya.

Saat Mepangkonan dilaksanakan, umumnya diikuti oleh seluruh krama Desa Adat Gesing. Pelaksanaannya di Ulun Desa sebagai pertigaan desa. Prosesi dipuput oleh para pamangku di desa adat setempat.

Sarana yang digunakan pun sudah dilaksanakan sesuai dengan pakem. Di mana, banten harus menggunakan konsep struktur Tri Angganing Upakara. Yaitu ada bagian ulu (atas), madya (tengah) dan sor (bawah).

Untuk bagian ulu sarana ditujukan kepada para dewa, bagian madya untuk bala ancangan dewa-dewi. Sedangkan pada bagian sor sarana ditujukan kepada para bhuta-bhuti untuk menjaga keharmonisan alam.

Khusus untuk bagian sarana ulu, menggunakan sarana suci gede, perning kiwa tengen, pangulapan, sorohan matah-matah, lebeng-lebeng. “Untuk banten ulu ini khusus dibuatkan panggungan sebagai tempat banten,” imbuhnya.

Begitu juga untuk bagian madya menggunakan sarana pangkonan lanang istri. Ada pula jajan pangkonan, nasi serta menggunakan dulang sebanyak 18 buah. Ada pula sarana berupa daging ayam hingga telor.

Sedangkan sarana di bagian sor ada caru manca sata. Caru ini menggunakan sarana lima ekor ayam. Seperti ayam putih, ayam hitam, ayam merah, ayam kuning dan ayam brumbun. “Ayam putih dijadikan 11 tanding, merah 11, kuning, hitam 11 tanding, brumbun 33 tanding (tengah),” paparnya.

Prosesi upacara Mepangkonan dilaksanakan hanya dalam waktu satu hari saja. Upacara ini dilaksanakan sejak pagi hari hingga pukul 12.00 siang di kawasan Ulun Desa.

Dikatakan Jro Made Suartika, setiap upacara Mepangkonan dilaksanakan, biasanya dilakukan persiapan dari sehari sebelumnya. Mulai dari menempatkan asagan di tempat upacara dan menata lokasi upacara.

Pada puncak upacara, seluruh krama di Desa Adat Gesing berbondong-bondong datang ke Ulun Desa untuk mengikuti prosesi upacara Mepangkonan sejak pukul 07.00. Sejumlah pamangku desa juga turut hadir untuk muput ritual ini.

Di ulun desa ini terdapat dua buah palinggih yang dijadikan sebagai tempat pelaksanaan Mepangkonan. Krama mengikuti ritual ini dari pagi hingga pukul 12.00. Usai acara, krama bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing.

“Di Ulu desa, ada tukad cangkup, dua palinggih ini adalah Palinggih Sang Hyang. Seluruh krama terlibat. Karena dalam konteks pesasihan semua adalah tanggung jawab. Pemimpin upacara semua pamangku desa,” paparnya.

Setelah melaksanakan Mepangkonan, kemudian ada pula prosesi Ida Ratu Mas Ngunya Desa. Ida Ratu Mas ini adalah sungsungan di Pura Dalem. “Ida Ratu Mas Ngunya Desa ini artinya seperti ngelawang ke pelosok desa. Tujuannya agar desa diberikan keselamatan sehingga terhindar dari hal-hal negatif,” tutupnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Mepangkonan #bali #Nangluk Merana #balinese #adat #Desa adat gesing #hindu #pura #Tilem Kaenem