Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Madwijati Gunakan Aksara Modre dan Wijaksara

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 22 Desember 2022 | 14:17 WIB
MADWIJATI : Ritual Madwijati banyak menggunakan Aksara Modre dan Wijaksara. Dok Bali Express
MADWIJATI : Ritual Madwijati banyak menggunakan Aksara Modre dan Wijaksara. Dok Bali Express

AKSARA Bali dalam upacara dwijati atau upacara penobatan (inisiasi) pandita Hindu di Bali sangat kompleks. Aksara Bali yang digunakan dalam upacara tersebut lebih banyak menggunakan aksara Bali yang disebut modre dan wija aksara (wijaksara).


Dosen Pendidikan Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja Made Susila Putra menyebutkan, kedua jenis aksara ini ( modre dan wijaksara) dilukiskan atau dirajah di atas kain yang berfungsi sebagai rurub yoganidra atau seda raga, busana dan perlengkapan lainnya.

Hal yang sangat inti digunakan dalam upacara diksa dwijati adalah aksara suci Omkara yang disebut juga Pranawa yang melambangkan Tuhan Yang Maha Agung, Ida Sang Hyang Parama Kawi.

Photo
Photo
Dosen Bahasa Bali Made Susila Putra. (Dok Bali Express)

Hampir setiap rerajahan dalam upacara dwijati selalu menggunakan aksara suci tersebut dalam berbagai variasinya. Terdapat lima jenis Omkara dengan berbagai pangangge aksara dan pangangge aksara Bali.

Semisal saat acara sedaraga dilaksanakan, aksara Bali tampak digunakan pada rurub, pada rajahan angga sarira, pada tirta pangentas, pada ulon dan juga pada pawisik yang diberikan guru nabe. “Kain yang digunakan untuk rurub umumnya selalu kain putih dan aksara yang dituliskan memakai warna tinta hitam,” ungkapnya.

Photo
Photo
KAMPUH KAKUWUB : Kampuh kakuwub yang digunakan saat upacara dwijati marajah dengan aksara modre. (Istimewa)

Kain sebagai rurub calon diksita baik lanang (laki-laki) maupun istri (perempuan) adalah sama, panjangnya sekitar 200 centimeter dan lebarnya 110 centimeter. Kedua calon dìksita terikat dalam ikatan perkawinan sebagai suami dan istri.

Aksara Bali yang dijadikan rerajahan rurub adalah Omkara, Dasa Aksara dan Sapta Omkara Amrta. Sapta Omkara Amrta adalah tujuh aksara suci sebagai lambang kesucian Tuhan untuk menghidupkan kembali unsur-unsur kesucian diri dan agar dapat menjadi penutup seorang yang seda raga (yoganidra).

Kalau sebelumnya sang seda raga ditutup oleh badan kasar, maka dengan rurub sedaraga itu, badan diganti dengan badan suci dalam bentuk rurub. Diharapkan dengan badan yang telah melewati proses seda raga dengan rurub suci itu badan dan atma dapat mencapai Brahman.

Aksara Ang sebagai puser, Dewanya Brahma. Aksara Ung membersihkan hati sang seda raga, Dewanya Visnu. Aksara Mang membersihkan kerongkongan. Dewanya Sang Hyang Isvara.

Aksara Omkara sebagai lambang tujuh lubang di bagian kepala, yaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga dan satu mulut. Dewanya Mahadewa.

Aksara Arda Candra, Wisnu dan Nada sebagai alis, batas dahi, dan kepala. Dewanya Rudra, Sadasiva dan Paramasiva. Di Bhuwana Agung (alam semesta/macro cosmos) Satpa Omkara itu berada pada Jagra. “Pada, Swapna Pada, Susupta Pada, Turya Pada, Turyanta Pada, Kewalya Pada dan Parama Kaiwalya Pada. Itulah lambang Rurub Sedaraga sebagai pembungkus badan pengantar Atma menuju Brahman di alam Niskala,” ungkapnya.

Sedangkan untuk rerajahan tirtha pangentas bagi calon diksita lanang-istri (laki perempuan) adalah sama, yakni aksara dasabayu ditulis vertikal dan horizontal. Pada alas wadah Tìrtha pangentas umumnya terbuat dari periuk tanah ukuran kecil yang dirajah.

Aksara Bali pada tirtha pangentas acara sedaraga upacara dwijati yang berbeda kelengkapannya dengan tirta pangentas upacara Ngaben yang dilengkapi dengan kakitir, ulantaga, pripih, daun temen, dan daun kemuning dalam wadah payuk tanah marajah, dilengkapi dengan ikatan benang tridatu 12 kali ikatan.

Setelah beberapa jam dalam kondisi sedaraga acara selanjutnya adalah atatangi. Atatangi yakni membangunkan calon diksita dari kondisi sedaraga untuk mengikuti upacara selanjutnya.

“Atatangi biasa dilakukan oleh raka atau kakak di dalam dharma (seperguruan) dengan cara setelah dibisiki untuk bangun, biasanya kondisi calon diksita sangat lemah,” kata pria asal Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini.

Selanjutnya sang diksita dibangunkan dengan posisi duduk. Punggung disangga oleh pandita raka. Kemudian diberikan minum air kelapa gading muda, yang sebelumnya pada kulit kelapa muda tersebut diisi rarajahan (tulisan), yang paling sederhana adalah aksara Omkara Amata, yang sebelumnya dipasupati atau diberi mantra untuk menghidupkan oleh guru nabe. “Juga mantra Dasabayu atau Dasaprana. Rerajahan yang lebih kompleks adalah aksara Ang Ung Mang, Omkara Amata dan aksara Dasabayu atau Dasapràna serta pada bagian bawahnya diisi lukisan atau gambar padma,” sebutnya.

Semua Busana Marajah

Setelah selesai dimandikan, kedua calon diksita mengenakan busana putih berupa kain (wastra), ikat pinggang (petet), kampuh kakuwub (saput agung/kain luar yang besar) dan santog (ikat kampuh paling luar). Semua busana ini ditulisi dengan rerajahan aksara Bali.

Photo
Photo
KLUNGAH: Rerajahan klungah yang digunakan saat upacara madwijati. (Istimewa)

Dikatakan Made Susila Putra, wastra (kain) panjangnya kain 150 centimeter dan lebarnya 110 centimeter. Wastra ini marajah pada sudut dan tengah-tengah kain. Baik lanang maupun istri rerajahannya sama. “Petet ini adalah ikat pinggang yang digunakan untuk mengikat wastra dirajah untuk pandita lanang dan istri. Kampuh kakuwub (saput agung) lanang- istri dirajah di setiap sudut dan tengah,” katanya.

Kemudian santog, yakni ikat pinggang sampai dada yang pada bahu kiri dijadikan selendang untuk laki-laki dan perempuan. Ada pula sarana kasang di dada (celemek di dada) untuk laki-laki dan perempuan. Kasang ring pabinan (celemek di pangkuan) untuk lanang-istri juga dirajah.

Secara makna, rurub seda raga upacara dìksa dwijati adalah untuk menghadirkan para Dewa dalam diri calon dìksita, menyucikan yang bisa memimpin (muput) upacara yadnya.

Rurub seda raga juga berfungsi untuk menjaga dan menyucikan tubuh, sehingga tubuh diharapkan dapat menjadi stana para Dewa. Nantinya ketika lahir sebagai pandita dapat memancarkan sinar-sinar kedewataan, yang diekspresikan melalui sifat-sifat mulia (daiwi sampat) sesuai dengan karakter manusia.

Pada rurub dan ulon upacara seda raga merupakan sebuah simbol yang diciptakan untuk mengungkap keberadaan manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa. “Keberadaan wijaksara khususnya sebagai rarajahan sedaraga akan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pandita sehingga lebih berkonsentrasi dalam mengantarkan ritual tersebut,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Gunakan Aksara Modre dan Wijaksara #ritual #bali #balinese #adat #Ritual Madwijati #Semua busana Marajah #hindu