Masyarakat Asak percaya bahwa setiap tetesan darah sapi yang menetes dalam pelaksanaan tradisi ini adalah sebuah kesuburan.
Selain bermakna religius magis, pelaksanaan Nyepeg Sampi juga dapat memberi makna dan pembelajaran secara kolektif dan individu. Dikatakan tokoh pemuda Desa Adat Asak, I Kadek Agus Heriawan, kemandirian dan sikap gotong royong tercermin dari pelaksanaan Usaba Kawulu yang murni dilakukan oleh Sekaa Teruna-Deha tanpa bantuan yang signifikan dari struktur Desa Adat.
Dalam pelaksanaan tradisi Nyepeg Sampi, hal ini tercermin dari sikap teruna bilamana ada yang melanggar tata cara pelaksanaan Nyepeg Sampi, wajib membayar denda, mereka dengan jujur siap untuk membayarnya.
“Ketentuan denda ini sangatlah melatih dan menguji kejujuran, sebab denda akibat kesalahan pelaksanaan tradisi Nyepeg Sampi dijatuhi, tidaklah dengan bukti keterangan saksi atau alat bukti lainnya, selain pengakuan teruna yang bersangkutan,” ungkapnya.
Pelaksanaan tradisi ini dipercaya akan membawa kedamaian bagi masyarakat Desa Asak dan keharmonisan alam. Ini berarti bahwa bila tradisi ini tidak dilaksanakan, maka masyarakat Desa Asak akan merasakan tidak harmonis.
Tradisi Nyepeg Sampi murni bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam di lingkungan desa yang secara dinas masuk wilayah Desa Pertima. “Secara maknawi, tradisi Nyepeg Sampi saat Usaba Aci Kawulu adalah kesucian, keseimbangan alam semesta ini,” tutupnya.