Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejaga Identik Nangluk Merana, Persembahkan Sapi & Babi di Batas Desa

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 12 Januari 2023 | 20:15 WIB
LOKASI : Titik lokasi upacara Jejaga yang menggunakan sarana sapi di Madenan. Ist
LOKASI : Titik lokasi upacara Jejaga yang menggunakan sarana sapi di Madenan. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Tradisi Jejaga merupakan ritual yang ada di Desa Adat Madenan, Tejakula, Buleleng, yang dilaksanakan bertepatan dengan kliwon Sasih kaenem. Ritual ini disamakan dengan upacara Nangluk Merana untuk mengantisipasi terjadinya wabah.

Bendesa Adat Madenan Jro Mangku Ketut Wiyasa mengatakan, tidak ada catatan tertulis sejak kapan tradisi ini dilaksanakan di desanya. Namun, sepengetahuannya tradisi Jejaga sudah dilestarikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kata Jejaga, sebut Jro Mangku Wiyasa, berasal dari kata 'jaga' yang berarti menjaga. Menurutnya, menjaga yang dimaksud adalah menjaga masyarakat Desa Madenan agar terhindar dari wabah penyakit atau gering, sasab, mrana. Baik yang menyerang tumbuhan, hewan maupun manusia.

Dalam berbagai mitologi yang berkembang di Madenan, konon saat melaksanakan upacara Ngusaba Dalem, masyarakat pernah bertemu dengan seekor macan. Setelah melakukan persembahyangan, masyarakat Madenan ada yang mendapatkan wangsit agar melaksanakan upacara nyomia Bhuta Kala sebelum melaksanakan upacara Ngusaba Dalem.

“Setelah mendapat wangsit seperti itu, maka masyarakat adat Madenan melaksanakan upacara nyomia Bhuta Kala dengan mempersembahkan babi di batas desa sebelah selatan dan mempersembahkan sapi di batas desa sebelah utara,” jelas bendesa berusia 51 tahun ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pria yang sudah lima tahun ngayah sebagai bendesa ini, menjelaskan bahwa persembahan babi di batas desa sebelah selatan dipersembahkan kepada Dewa Gunung, sedangkan persembahan sapi di batas desa sebelah utara dipersembahkan kepada Dewa Laut. Tradisi inilah yang dikenal dengan Jejaga.

Ritual ini merupakan upakara Bhuta Yadnya yakni nyomia Bhuta Kala dengan mempersembahkan sarana upakara sapi dan babi. Tujuannya agar tidak mengganggu umat manusia.

Banten yang digunakan di batas desa sebelah selatan ditujukan kepada Dewa Gunung yang diyakini bersemayam di hulu desa menghadap ke arah gunung.

Dalam ajaran Hindu, Dewa Gunung adalah wujud lain dari Dewa Siwa dengan gelar Sang Hyang Girinata. “Pada dasarnya upacara ini adalah upacara yang ditujukan kepada Dewa Siwa yang sebagai pelebur Dasa Mala, agar mau melebur semua kekuatan-kekuatan jahat yang akan mengganggu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya,” terangnya.

Sarana sapi digunakan untuk sarana persembahyangan di batas desa sebelah utara, di mana sapi merupakan kendaraan Dewa Siwa. Sapi juga hewan yang sangat dimuliakan oleh umat Hindu dan dianggap sebagai ibu alam semesta

Banten yang dipersembahkan di batas desa sebelah utara saat tradisi Jejaga ditujukan kepada Dewa Laut atau Sang Hyang Baruna yang pepatihnya bernama Ratu Gede Macaling. Penguasa laut inilah yang menguasai segala macam penyakit yang dikenal dengan nama merana.

Dipilihnya Sasih kaenem (enam) sebagai waktu pelaksanaan tradisi  dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya, sasih ini disebut dengan sasih baah (penuh dengan bencana) karena saat ini bertepatan dengan Bhuta Kala anak buah Ratu Gede Macaling mencari tumbal di Pulau Bali sehingga muncul berbagai macam penyakit.

“Masyarakat adat Madenan menyikapi hal ini dengan membuat banten memohon kepada Sang Hyang Baruna penguasa lautan untuk memberikan amerta sebagai penawar segala penyakit yang terjadi,” imbuhnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Identik dengan Nangluk Merana #bali #balinese #adat #Tradisi Jejaga #hinfu #pura #Krama Pemuit Maling Punggalan