Ritual kematian di Desa Julah secara turun-temurun dilakukan dengan penguburan. Konon, berdasarkan cerita yang berkembang di sana, tradisi mengubur jenazah ini dipengaruhi oleh Raja Jaya Pangus, raja Bali.
Kelian Adat Julah Ketut Sidemen membenarkan tradisi mengubur jenazah dalam ritual kematian di Julah tak bisa dilepaskan dari cerita rakyat tentang Raja Jaya Pangus. Ceritanya ini menggambarkan tentang seorang raja yang tidak mau dibakar apabila kelak meninggal.
Kekhawatiran ini bermula saat sang raja melihat rakyatnya yang menyelenggarakan upacara kematian dengan cara dibakar. Raja Jaya Pangus yang melihat langsung prosesi itu merasa ngeri.
Seketika Raja Jaya Pangus meminta bhagawatanya untuk mencari rujukan atau sumber sastra tentang tata cara ritual kematian. Rupanya ada rujukan sastra tentang perawatan jenazah bisa dilakukan dengan air, mengubur, tanah dan angin.
“Beliau berpesan apabila mati, dikubur, bukan dibakar. Dan tradisi inilah diterapkan oleh masyarakat di Julah. Termasuk dalam berbagai ritual keagamaan,” kata Sidemen yang juga pensiunan Guru Agama ini.
Dikatakan Sidemen, Ngaben yang dilakukan dengan membakar jenazah sama saja menyebabkan wewidangan Desa Adat Julah menjadi leteh atau kotor. Hal ini disebabkan akibat asap dan abu jenazah yang tertiup angin ke tempat suci. Meskipun, letak setra dan tempat suci berjauhan.
Selain tidak mengenal Ngaben dengan cara dibakar, apabila terdapat upacara ngaben, krama Desa Julah yang datang ke setra dilarang untuk maapi-api. Maapi-api yang dimaksud adalah merokok atau segala yang berhubungan dengan menyalakan api.
“Apabila di Julah terdapat upacara Ngaben, anak cucu atau keluarga yang ditinggalkan biasanya memberikan bekal kepada leluhurnya berupa emas pipis (uang). Bekal tersebut disertakan pada jenazah leluhurnya ke liang kubur,” ungkapnya.
Sarana yang digunakan saat upacara Ngaben di Julah pun tergolong unik. Berbeda dibandingkan dengan Bali pada umumnya. Banten yang digunakan salah satunya adalah banten pengawal. Banten ini berisi bukaka babi (guling babi). Babi tersebut diyakini sebagai pengawal roh menuju alam sunia loka.
Selain itu, sarana yang digunakan adalah bade bambu. Jika bade di Bali pada umumnya menggunakan bahan dasar kayu dan bahan lainnya. “Kalau sudah melaksanakan upacara Ngaben, maka sudah pasti menggunakan bade. Kalau tidak Ngaben biasanya tidak menggunakan bade,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya