“Kami sangat konsisten di Desa Keliki juga ikut terlibat dalam kegiatan Bulan Bahasa Bali, khususnya di Desa Adat Sebali. Dalam mengajegkan aksara dan bahasa Bali itu dilombakan masatua dan nyurat aksara Bali,” papar Mulia.
Ia menjelaskan, lomba nyurat aksara Bali yang pesertanya anak-anak belum menggunakan lontar. Mereka menulis di atas kertas dengan menggunakan pensil. Bentuk dan pasang aksara yang dibuat sangat menarik, dan semakin mendekati sempurna.
“Lomba nyurat aksara Bali dalam Bulan Bahasa Bali ke-5 dari segi kualitas sudah ada peningkatan. Baik dari bentuk dan pasang aksara. Ini salah satu bentuk usaha generasi kita untuk melestarikan aksara Bali itu sendiri,” tegasnya.
Menurut Mulia, hal tersebut tidak terlepas dari program pemerintah Provinsi Bali yang konsisten melaksanakan Bulan Bahasa dengan memasukkan materi nyurat aksara Bali. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalankan, tetap ngajegang, melestarikan aksara Bali yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan upacara yadnya di Bali. Terlebih di Desa Sebali sangat kental akan tradisi adat dan budayanya. Sehingga Mulia akan tetap melaksanakan pelestarian di bidang aksara Bali ke depannya untuk generasi yang ada di desa setempat.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya