Bendesa Adat Pengotan Wayan Kencu menjelaskan bahwa Wayang Parwa di Desa Adat Pengotan sudah ada sejak zaman kerajaan masih eksis di Bangli. Namun, masyarakat tidak mengetahui pasti sejak kapan wayang itu rutin dipentaskan hingga menjadi sebuah tradisi.
Biasanya, Wayang Parwa dipentaskan di Pura Bale Agung dan Pura Kanginan pada saat pujawali dengan mengambil tempat di jeroan pura.
Menurut tradisi secara turun-temurun di desa setempat, pementasan Wayang Parwa hanya boleh di jeroan pura. Pementasan di Pura Bale Agung bertepatan dengan upacara Ngapat, yaitu bertepatan dengan Purnama Kapat. Demikian juga dengan Ngusaba Kadasa yang dilaksanakan setiap tahun, yaitu Purnama Kadasa.
“Pementasan juga saat Ngusaba Desa pada tiap Purnama Kasa tiap tahunnya. Sedangkan di Pura Kanginan yaitu pada saat Buda Kliwon Pahang bertepatan dengan pujawali Ida Bhatara Wawalen Galungan,” kata Kencu beberapa waktu lalu.
Mengenai lakon cerita pementasannya, Kencu menyebut disesuaikan dengan permintaan para lingsir paduluan Desa Adat Pengotan. Biasanya cerita diberikan sesaat sebelum pentas, cerita apa yang akan dipentaskan.
Kalau pada Buda Kliwon Paang dan Ngusaba Kadasa lebih banyak sempalan dari Wiracarita Mahabratha. Sedangkan pada Ngapat, yaitu pada saat pujawali yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Sedangkan saat Ngusaba Desa yaitu pada Purnama Kasa lebih banyak mengambil lakon sempalan dari Wiracarita Ramayana.
“Cuplikan cerita yang sering dipentaskan dan mengambil sempalan cerita dari epos Mahabharata adalah cuplikan dari Wana Parwa, Wirata Parwa ataupun Bharatha Yudha,” jelasnya.
Sedangkan lakon yang sering dipentaskan dan mengambil sempalan cerita dari epos Ramayana adalah diculiknya Dewi Sita oleh Rahwana, Anoman Duta yang menceritakan penyelidikan Hanoman terhadap keberadaan Dewi Sinta di Kerajaan Alengka.
Sebelum memulai pentas, ada sejumlah prosesi yang dilakukan. Diawali dengan magamaan, yaitu pentas Rejang Pendet, Baris Jojor, Baris Presi, Baris Jangkang, Baris Gede, Baris Tamiang, Baris Bedil, Baris Panah, dan Baris Dadap.
Setelah magamaan selesai, lanjut dirangkai dengan persembahyangan. Begitu acara nunas tirta dimulai, maka berarti pentas Wayang Parwa juga dimulai. Penonton pun tumpah ruah menyaksikan pementasan ini.
Sebelum pentas, pada tempat pentas akan dihaturkan sesajen berupa segehan agung dengan sambleh ayam hitam yang disebut juga banten jamonan, dan banten sorohan. Sarana lainnya adalah tuak arak berem yeh anyar dan api.
Semua rangkaian upacara piodalan maupun pementasan Wayang Parwa dipimpin oleh Jro Mangku desa. Sesuai dresta Desa Adat Pengotan tidak menggunakan sulinggih untuk memimpin upacara. Semuanya, dari tingkatan kecil sampai tingkatan upacara besar akan nunas tirta pamutus di Pura Dukuh sebagai palinggih Ida Bhatara Bhujangga.
Disinggung terkait kostum Wayang Parwa, ia menyebutkan terlihat dari bagian gelungan hingga hiasan busana pada bagian badan dan kaki. Gelungan merupakan hiasan kepala berbentuk cecandian untuk raja (Dewa Kubera) yang dibuat dari kulit yang diukir dan dipoles dengan cat emas (prada). Di samping berisi benang putih untuk menjaga gelungan supaya tidak jatuh dan menjaga tali karet agar tidak kelihatan.
Sedangkan bagi Bhima, Ghatotkaca dan Hanuman memakai gelungan supit surang berwarna hitam untuk Bhima dan Gatotkaca, serta putih untuk Hanuman. Demikian juga untuk Dharma Wangsa dan Drupadi memakai gelungan mandti dan galuh. Sedangkan pasukan raksasa, Malen, Merdah, Delem dan Sangut memiliki gelungan yang menyesuaikan.
Kemudian untuk hiasan badan atau busana, terdiri celana panjang berwarna putih dan menyesuaikan dengan karakter yang dibawakan. Kemudian stewel yaitu hiasan untuk membalut jaler (celana) dari bawah lutut sampai pergelangan kaki bagi pasukan raksasa tidak memakai hiasan ini, demikian juga dengan pasukan kera.
Ada pula kain putih, yaitu kain yang panjangnya kira-kira 2 meter untuk menutupi badan bagian bawah yang ujungnya dilipat ke belakang. Kain ini tidak dipakai oleh pasukan raksasa. Kemudian memakai baju lengan panjang yang dibuat dari kain beludru warna hitam, hijau tua, biru tua sesuai dengan karakter yang dibawakan.
Pasukan raksasa bajunya menyesuaikan. Ada juga memakai awiran, yaitu hiasan kecil bermotifkan prada yang dipasang pada badan dan juga digantungkan di bawah dengan keris untuk Kubera dan Gatotkaca.
Selanjutnya badong yaitu hiasan pada leher yang bentuknya bundar dibuat dari kain beludru dihiasi dengan mote. Badong ini untuk penari yang memerankan sosok Kubera, Dharmawangsa, Hanuman dan Drupadi. Pasukan Raksasa menyesuaikan. “Gelang kana merupakan hiasan kecil untuk ujung baju pada pergelangan baju untuk Kubera, Hanuman, Bhima, Ghatotkaca dan Drupadi,” sebutnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya