Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Busana Tari Rejang Penastan Dewa

I Komang Gede Doktrinaya • Minggu, 21 Mei 2023 | 19:52 WIB
PAKAIAN : Pamangku Pura Puseh Desa Penestanan Jro Mangku Ketut Gede Kesumawijaya dan penari Rejang Penastan Dewa yang menggunakan pakaian khusus penuh makna. Dok Bali Express
PAKAIAN : Pamangku Pura Puseh Desa Penestanan Jro Mangku Ketut Gede Kesumawijaya dan penari Rejang Penastan Dewa yang menggunakan pakaian khusus penuh makna. Dok Bali Express
GIANYAR, BALI EXPRESS -Tarian sakral Tari Rejang Penastan Dewa yang ditarikan di Pura Desa dan Puseh, Desa Adat Penestanan, Kecamatan Ubud, Gianyar, menggunakan properti khusus. Busana yang digunakan penari memiliki makna dan fungsi khusus.

Pamangku Pura Puseh Desa Penestanan, Jro Mangku Ketut Gede Kesumawijaya menjelaskan, baju putih berlengan panjang yang digunakan penari Rejang Penastan Dewa memiliki makna bahwa tubuh manusia adalah sakral. Sehingga hal itu harus lah dijaga, dirawat dengan hal yang indah, bersih dan suci.

Selain baju, penari menggunakan selendang berwarna hitam dan putih tanpa motif (bunga). “Itu memiliki pengertian bahwa perut merupakan pusat dari tubuh dan bekembangnya kebaikan dan kejahatan. Serta emosi yang meluap-luap, sehingga harus diikat dalam bentuk simbol simpul selendang,” beber Mangku Kesumawijaya.

Selanjutnya ada kain cepuk tenun berwarna hitam dan putih. Warna ini  mengandung makna bahwa di dalam seni terdapat kekuatan keseimbangan. Di bagian kepala terdapat gelung dengan bunga gumitir, cempaka dan pucuk bang yang mengandung makna bahwa memuliakan sarwa prani sarwa tumuwuh yang ada di Beji Sanjiwani dan Beji Sudamala. “Memiliki makna percaya diri memusatkan pikiran yang bersih (polos), tulus, dan berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkapnya.

Jro Mangku Kesumawijaya, menambahkan, penari juga menggunakan subeng (anting-anting/giwang). Itu mengandung makna bahwa seseorang hendak lah mendengar ucapan yang baik, indah, dan suci agar tidak terpengaruh oleh kata-kata kotor yang akan mempengaruhi persembahan tarian.

Sementara warna kuning dan putih pada busananya memiliki arti kebenaran dan kebahagiaan. “Tarian sakral seperti Tari Rejang Penastan Dewa ini merupakan tarian yang wajib dijaga dan dilestarikan. Kelompok yowana khususnya di Desa Adat Penestanan, turut serta mempelajari Tari Rejang Penastan Dewa sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya dari leluhur. Sebagai bangsa dengan corak budaya yang beragam, hendaknya kita juga turut serta menjaga dan melestarikan, mengembangkan tarian ini di masa depan,” tutup Mangku Kesumawijaya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #Pura Puseh Desa Penestanan #hindu #pura #tarian sakral #Tarian Memuliakan Isi Alam #Rejang Penastan Dewa