Saat itu, semua krama membawa prakpak atau sundih yang terbuat daun kelapa kering (danyuh). Danyuh ini diikat besar berisi api yang akan dibawa keliling desa. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menyucikan wilayah desa dari hal-hal negatif pada saat Pangerupukan.
Bendesa Adat Satra Dewa Ketut Soma menuturkan, tradisi ini sudah dilaksanakan sejak turun- temurun, bahkan sudah ada sebelum adanya tradisi pengarakan ogoh-ogoh. “Dahulu pengarakan ogoh- ogoh belum ada, namun tradisi ini sudah ada. Ogoh-ogoh baru diterapkan dari tahun 1980,” ujarnya saat di konfirmasi awal pekan lalu.
Tradisi ini, lanjutnya, berlangsung pada sore hari pukul 18.30. Warga berlomba membuat prakpak untuk dibawa berkeliling desa diiringi suara kulkul banjar dan pura. “Tradisi ini baru selesai ketika prakpak yang terbakar tersebut habis terbakar,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi ini untuk menyucikan wilayah desa dari segala hal yang berbau negatif. “Sebelumnya sudah nyomia dengan caru, sekarang kita ruwat alam ini dengan lukat geni agar wilayah desa bebas dari vibrasi-vibrasi buta, karena besoknya krama desa melaksanakan Hari Raya Nyepi,” pungkasnya. (nan)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya